0 menit baca 0 %

Judul Santapan Rohani Ramadhan Malam Ini : Unsur Pengabdian Manusia

Ringkasan: Kampar (Inmas) - Sesuai dengan judul-judul santapan rohani ramadhan yang telah disusun oleh Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar selama sebulan penuh, pada malam kelima belas ini adalah Unsur Pengabdian Manusia. Demikian disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab.
Kampar (Inmas) - Sesuai dengan judul-judul santapan rohani ramadhan yang telah disusun oleh Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar selama sebulan penuh, pada malam kelima belas ini adalah Unsur Pengabdian Manusia. Demikian disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Alfian MAg, melalui Staf Bimbingan Masyarakat Islam H Basri MSy, hari rabu (30/05/2018) diruang kerjanya. Basri mengatakan, Unsur pengabdian manusia ini setidaknya ada tiga poin yang disampaikan. Pertama Ketundukan Hati pada Allah,2:112. Kedua, Taat atas Ketentuan Allah 24:65. Dan yang ketiga Siap Menanggung Resiko 9 : 111. Dalam surat Al-Baqarah Ayat 112 Allah Baerfirman “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Dalam ayat ini bisa kita tafsirkan, barang siapa yang ikhlas dalam beramal karena Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Seperti yang disebutkan dalam firman lainnya, yaitu: Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, “”Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.”” (Ali Imran: 20), hingga akhir ayat. Abul Aliyah dan Ar-Rabi’ mengatakan, makna man aslama wajhahu lillah ialah barang siapa yang ikhlas kepada Allah. Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa aslama ialah ikhlas, dan wajhahu artinya agamanya, yakni barang siapa yang mengikhlaskan agamanya karena Allah semata. Wahuwa muhsinun artinya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal. Dikatakan demikian karena syarat bagi amal yang diterima itu ada dua; salah satunya ialah hendaknya amal perbuatan dilakukan dengan niat karena Allah semata, dan syarat lainnya ialah hendaknya amal tersebut benar lagi sesuai dengan tuntunan syariat (mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena itu, dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu sabdanya: Barang siapa mengerjakan suatu amal yang bukan termasuk urusan kami, maka amal itu ditolak. Hadits riwayat Imam Muslim melalui hadits Siti Aisyah Untuk itu amal para rahib dan orang-orang yang semisal dengan mereka, sekalipun amal mereka dinilai ikhlas karena Allah, sesungguhnya amal tersebut tidak diterima dari mereka sebelum mereka mendasarinya karena mengikut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus kepada mereka dan kepada segenap umat manusia. (Ags/Usm)