0 menit baca 0 %

Jangan sampai menanam pohon tapi tak berbuah

Ringkasan: Bengkalis (Inmas) Ada kemiripan suasana di bulan suci Ramadan dan suasana sewaktu berada di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Bagi yang sudah pernah menunaikan ibadah haji akan merasakan suasana tersebut. Baik di bulan Ramadan maupun sewaktu berada di tanah suci keinginan dan semangat sebagia...
Bengkalis (Inmas) Ada kemiripan suasana di bulan suci Ramadan dan suasana sewaktu berada di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Bagi yang sudah pernah menunaikan ibadah haji akan merasakan suasana tersebut. Baik di bulan Ramadan maupun sewaktu berada di tanah suci keinginan dan semangat sebagian besar orang Islam untuk mendekatkan diri kepada Tuhan cukup tinggi. Mereka selalu menyempatkan diri untuk hadir di Masjid untuk menunaikan sholat fardhu lima waktu. mereka juga senantiasa mengisi waktu luang mereka dengan membaca kalam ilahi dan melakukan ibadah-ibadah sunat lainnya. Dan mereka juga selalu memperbanyak sedekah untuk orang-orang miskin dan kaum dhuafa.

Selain itu baik di bulan Ramadan maupun sewaktu menunaikan ibadah haji, setiap orang Islam memiliki kecenderungan untuk berprilaku positif. Di bulan Ramadan, orang-orang yang berpuasa cenderung untuk bersikap jujur dan baik. karena mereka tidak mau ibadah puasa yang mereka jalani rusak. Kemudian mereka juga mampu menahan diri untuk tidak bersikap dan berprilaku buruk. Karena mereka tidak mau ibadah mereka sia-sia karenanya.
 
Demikian pula orang yang sedang menunaikan ibadah haji, mereka senantiasa bersikap jujur dan baik selama berada di tanah suci. Mereka berupaya sedapat mungkin untuk menjaga diri mereka dari sikap dan prilaku yang kurang terpuji. karena sikap dan prilaku kurang terpuji diyakini akan membuat mereka tidak memperoleh haji mabrur. Ada juga karena khawatir bahwa mereka akan mendapat balasan secara kontan (tunai) atas perbuatan yang mereka lakoni. Hampir semua Jemaah Calon Haji menyakini bahawa siapa yang berbuat baik selama berada di tanah suci, maka mereka akan memperoleh kebaikan (pertolongan) dari Allah swt. Sebaliknya siapa yang berbuat keburukan, maka ia akan menanggung akibatnya selama berada di tanah suci.

Yang amat disayangkan, tidak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa suasana yang tidak jauh berbeda juga dirasakan setelah Ramadan berlalu dan ibadah haji selesai dikerjakan. Banyak orang Islam yang telah berpuasa sebulan penuh dan memperoleh titel haji tidak mampu melestarikan nilai-nilai ibadah dan kebajikan yang sebelumnya mereka lakoni.

Inilah sebenarnya problem utama kita dalam beragama. Pengamalan agama oleh sebagian besar kita jarang sekali yang bersifat permanen tapi sangat tergantung pada suasana dan kondisi tertentu alias bersifat musiman. Di saat berada di bulan Ramadan atau sewaktu berada di tanah suci, kita selalu ingin dekat kepada Allah swt tapi setelah Ramadan berakhir dan haji selesai, kita menjaga jarak atau semakin jauh dari Allah swt.

Cara beragama seperti inilah yang harus diubah dan diperbaiki. Beragama itu bukan sewaktu-waktu tapi sepanjang waktu. beragam itu bukan bersifat musiman tapi setiap saat. Bulan Ramadan pada hakekatnya bulan tarbiyah (pendidikan) yang hasilnya diharapkan tampak dan berbekas pada sebelas bulan berikutnya. Demikian pula ibadah haji. Ibadah haji bisa dikatakan mabrur apabila seseorang muslim yang sudah berhaji mampu melestarikan nilai-nilai ibadahnya setelah ia kembali ke tanah airnya.

Semoga bulan Ramadan dan Haji mampu membuat kita menjadi orang saleh yang permanen dan istiqamah dalam beragama hingga sampai ke akhir hayat kita dan kita akan memperoleh husnul khotimah di saat berpisah dari kehidupan dunia ini. (ana/am)