0 menit baca 0 %

Jaga Marwah Pesantren, Kakanwil Kemenag Riau: Pesantren Adalah Benteng Moral Bangsa

Ringkasan: Riau (Kemenag) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Dr. H. Muliardi, M.Pd mendukung penuh pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A, yang menyerukan pentingnya menjaga marwah dan kehormatan pondok pesantren dari segala bentuk stigma dan narasi n...

Riau (Kemenag) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Dr. H. Muliardi, M.Pd mendukung penuh pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A, yang menyerukan pentingnya menjaga marwah dan kehormatan pondok pesantren dari segala bentuk stigma dan narasi negatif.

Menurut Kakanwil, pesantren selama ini telah menjadi benteng moral bangsa, tempat lahirnya para ulama, pemimpin, dan tokoh nasional yang berperan besar dalam menjaga nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

“Kami di Kementerian Agama Provinsi Riau sejalan dengan arahan Bapak Menteri Agama. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi pusat pembentukan akhlak, moral, dan karakter bangsa. Di sinilah nilai-nilai kesantunan, adab, dan keikhlasan ditanamkan,” ujar Muliardi, Kamis (16/10/25)

Pernyataan tersebut disampaikan Kakanwil merespons keprihatinan atas tayangan salah satu stasiun televisi nasional yang dinilai menyinggung kehidupan santri. Tayangan tersebut memuat narasi satir yang menyebut santri dengan ungkapan yang dianggap merendahkan tradisi pesantren.

“Narasi yang menyinggung kehidupan santri tentu sangat disayangkan. Pesantren telah berabad-abad menjadi pilar pembentuk masyarakat beradab. Karena itu, marwah pesantren harus kita jaga bersama,” tambahnya.

Kakanwil Muliardi juga menekankan bahwa pesantren memiliki kontribusi besar dalam pembangunan moral dan sosial bangsa. Ia menyebut, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pesantren semakin meningkat seiring kesadaran akan pentingnya pendidikan berbasis karakter.

“Pesantren adalah laboratorium akhlak. Dari sanalah tumbuh budaya hormat kepada guru, kepada orang tua, dan pada akhirnya membentuk masyarakat yang taat dan beradab,” ujarnya.

Lebih lanjut, Muliardi menyampaikan apresiasi terhadap sikap arif para kiai dan pengasuh pesantren yang tetap menanggapi persoalan ini dengan semangat memaafkan dan menjadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran bersama.

“Budaya memaafkan adalah ciri khas pesantren. Kita patut meneladani sikap para kiai yang selalu mengedepankan adab dan kasih sayang dalam menyikapi persoalan,” jelasnya.

Menutup pernyataannya, Muliardi mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Provinsi Riau, untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga martabat pesantren dan mempercayakan pendidikan generasi muda kepada lembaga yang telah terbukti menanamkan nilai-nilai luhur bangsa itu.

“Mari kita jaga marwah pesantren. Dari pesantren lahir insan berilmu, berakhlak, dan berjiwa kebangsaan. Dari pesantren pula tumbuh harapan bagi masa depan Indonesia yang beradab dan bermartabat,” pungkasnya.