0 menit baca 0 %

Jadilah Pengukir Sejarah Emas Melalui Menulis

Ringkasan: Pekanbaru (Humas) – Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad) Kanwil Kemenag Provinsi Riau taja Orientasi Pengurus Rohani Islam (Rohis) Madrasah Aliyah mulai 28 November – 01 Desember 2014 di hotel Mona, Pekanbaru. Kegiatan ini dibuka Kabid Penmad Drs H Mahyudin MA.

Pekanbaru (Humas) – Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad) Kanwil Kemenag Provinsi Riau taja Orientasi Pengurus Rohani Islam (Rohis)  Madrasah Aliyah mulai 28 November – 01 Desember 2014 di hotel Mona, Pekanbaru.  Kegiatan ini dibuka Kabid Penmad Drs H Mahyudin MA.

Tampil sebagai instruktur, Kakanwil Kemenag Provinsi Riau Drs H Tarmizi Tohor MA, Drs H Mahyudin MA, Dr H Muhammad Fakhri MA,  Griven H Puterta MAg dan lain.

Pada kesempatan itu, Griven H Putera menyampaikan tentang Pengembangan Karya Tulis Ilmiah. Menurut Griven, menulis itu merupakan pekerjaan intelektual, dan itu selama ini kurang diminati oleh para dai. Padahal, menurut Griven, sejarah mencatat, kalau bukan karena kitab-kitab karangannya, maka tak mungkin Imam Syafii, Imam Alghazali akan dikenal hingga hari ini. Untuk itu, setiap pelajar muslim harus menjadikan pekerjaan menulis sebagai bagian hidupnya. “Kalian boleh jadi apa saja nanti tapi tetap menulis. Pekerjaan menulis itu banyak manfaatnya, di samping sebagai hobi, bisa terkenal, dan insya Allah akan mendapat pahala dari Allah Swt kalau berniat ikhlas,” kata salah-satu sastrawan Riau ini.
Lebih lanjut Griven menuturkan, bahwa penulis yang baik tentulah pembaca yang baik. Mustahil mampu melahirkan tulisan yang bermutu kalau orang itu kurang membaca. Untuk itu, prasyarat utama menjadi penulis adalah membaca yang banyak, dan bacaan tersebut harus bermutu dan bermanfaat. “Jangan asal membaca dan menonton. Kualitas hidup kita itu salah-satu ditentukan oleh bacaan dan tontonan. Maka baca dan tontonlah sajian yang berkualitas sehingga akan melahirkan tulisan dan prilaku yang berkualitas,” kata Griven.

Pada kesempatan itu, Griven pun menjelaskan mulai kerangka karangan hingga hasil dari sebuah karangan. Mulai karangan ilmiah murni, ilmiah populer hingga cerita fiksi.

“Menulis  itu mudah asal ada tekad yang kuat,” katanya di depan 40 orang peserta utusan dari Madrasah Aliyah se-Provinsi Riau tersebut. Griven berharap, setelah  orientasi ini siswa-siswi yang ikut orientasi harus mampu menulis, minimal menulis catatan harian di diary.

Menurut Griven lagi, seperti apapun yang ditulis hari ini, suatu saat akan menjadi artefak sejarah bagi generasi di masa yang akan datang. Dan kemajuan peradaban tersebut bisa dilihat dari hasil pemikiran yang dituangkan intelektual pada hari ini. “Maka jadilah penulis tinta sejarah emas!” motivasi Griven. (ghp)