0 menit baca 0 %

Iswadi M. Yazid, Terpilih Kembali Menjadi Ketua MUI Pelalawan Masa Khidmat 2018-2023

Ringkasan: Pangkalan Kerinci,  Salah satu alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Iswadi M.Yazid resmi terpilih kembali menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pelalawan Masa Khidmat 2018-2023. Pemilihan ketua MUI baru dilakukan pada Musyawarah Daerah (Musda) IV MUI Kabupaten Pelalawan yang berlangsu...

Pangkalan Kerinci,  Salah satu alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Iswadi M.Yazid resmi terpilih kembali menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pelalawan Masa Khidmat 2018-2023. Pemilihan ketua MUI baru dilakukan pada Musyawarah Daerah (Musda) IV MUI Kabupaten Pelalawan yang berlangsung di Aula Hotel Grand Pangkalan Kerinci  (23/07). “Alhamdulillah rangkaian acara berjalan lancar, dan semoga Ketua MUI yang baru  diberikan kelancaran juga dalam menjalankan amanahnya,” ujar Ketua  Panitia Musda IV MUI Kab Pelalawan, H. Hazmar, SH., S.Ag , Senin (23/07).

Hadir pada kesempatan itu, Bupati Pelalawan H.M.Harris, Kepala Kantor Kemenag Kab. Pelalawan, H.M.Rais, S.Ag.,M.Pd.I Adapun tema  yang diusung pada pelaksanaan Musda IX MUI Kabupaten Pelalawan 2018 yakni “Meneguhkan Peran MUI dalam melindungi ummat dan meningkatkan islam wasathiyah untuk Pelalawan berkeadilan dan berkeadaban”.

Dalam sambutannya, Bupati Pelalawan memberikan apresiasi kepada para pengurus MUI tingkat Kecamatan  dan ia berterima kasih kepada jajaran MUI Kabupaten Pelalawan yang telah membantu pembangunan bidang keagamaan dengan menyampaikan program pemerintah daerah ketengah masyarakat. Untuk itu H.M.Harris mengajak agar MUI dapat meningkatkan peran aktif.

“Dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan saya berharap kepada MUI Kabupaten Pelalawan supaya dapat lebih berperan aktif, agar masyarakat terhindar dari isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Pelalawan  Iswadi M. Yazid mengatakan, Musda IV berlangsung pada situasi dimana masyarakat Kabupaten Pelalawan khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya tengah mengalami pergeseran tata nilai-nilai agama Islam. Seperti gaya hidup yang hedonis, pragmatis-maaterialistisme yang mendorong pola hidup serba ingin instan.

“Pola hidup yang demikian menjadi faktor yang telah menjadi penyebab masyarakat yang akhirnya terjebak pada tindakan yang tidak lazim dan menyalahi norma,” ujarnya,

Lebih lanjut Dosen Luar Biasa salahsatu perguruan tinggi ini mengutarakan, bahwa, posisi MUI dengan Pemerintah sudah jelas yaitu sebagai “Mitra Strategis”. “Maka selemah apapun Pemerintah, MUI berkewajiban untuk menguatkannya dan selemah apapun Pemerintah, kewajiban MUI untuk menguatkannya. Sedikit apapun Pemerintah menyimpang maka kewajiban MUI untuk meluruskannya, begitu pula dengan masyarakat MUI berposisi sebagai “Khadimul Ummah”. Maka kita semua adalah pelayan yang setiap saat hadir di tengah-tengah masyarakat. Untuk membimbing ke arah kehidupan yang lebih baik dan berakhlakul karimah, sehingga terwujud “Khairo Ummah”,” tandasnya. (mk)