0 menit baca 0 %

Istri Kepala Kemenag Rokan Hilir Bicara Tentang RA. Kartini

Ringkasan: Rokan Hilir (Inmas) - Ibu Nur Lela, S.Pd, seorang istri Kepala Kemenag Rokan Hilir H. Agustiar, S.Ag dan sebagai Ibu rumah tangga pada tanggal 21 April 2016 kemarin saat diwawancarai humas Kemenag Rokan Hilir di kediamannya bebicara tentang RA. Kartini.

Rokan Hilir (Inmas) - Ibu Nur Lela, S.Pd, seorang istri Kepala Kemenag Rokan Hilir H. Agustiar, S.Ag dan sebagai Ibu rumah tangga pada tanggal 21 April 2016 kemarin saat diwawancarai humas Kemenag Rokan Hilir di kediamannya bebicara tentang RA. Kartini.

Dalam wawancaranya, beliau mengatakan bahwa Hari Kartini yang setiap tahun dirayakan oleh bangsa ini , kerap dikaitkan dengan kesuksesan seorang wanita karir dalam menerapkan emansipasi. Padahal sejatinya, tanpa disadari, peran ibu rumah tanggalah yang berjasa besar memuliakan generasi penerus keluarga dan bangsa. “Al-Ummu madrasatul uulaa” Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya”. Kita lupa dan kenapa kita kerapkali mengangap sepele “sekolah utama” , yang bakal melahirkan generasi Muslim isitimewa dan berakhlak mulia ini. 

Sirah nabawiyah mengukir Ummu Sulaim ra sebagai figur ibu rumah tangga yang agung. Dialah yang melahirkan Anas bin Malik, salah satu dari tujuh sahabat rasulullah  yang banyak meriwayatkan hadits. Ulama besar seperti Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Asy Sya’bi, Abu Kilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit al-Banani, Bakar bin Abdillah al-Mazani, az-Zuhri, Qatadah, Ibn al-Munkadir, merupakan murid-murid dari anak ibunda Ummu Salaim. Subhanallah !!!! “Oleh sebab itu, ungkapan orang seperti : “ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau cuma jadi ibu rumah tangga?” sudah saatnya dihapus dalam rumah tangga Islam.” tegasnya

Ibu adalah sekolah pertama sementara pendidikan merupakan tanggung jawab bapak. Sebagai penanggung jawab keluarga maka termasuk kewajiban bapak memilih sekolah pertama yang baik bagi anaknya. Melihat betapa besar pengaruh sekolah pertama ini bagi anak maka Islam menganjurkan memilih sekolah pertama yang baik dan melarang memilih sekolah yang tidak baik

Lebih lanjut Ibu 3 orang anak ini mengatakan sebagai ibu, kita wajib mendidik anak-anak kita dengan baik, dengan pandangan-pandangan baru yang sesuai tuntunan agama, agar kelak, anak-anak kita mampu menjadi anak yang kuat dan siap menghadapi tantangan zaman, tanpa meninggalkan ciri khas kita sebagai Masyarakat Indonesia. Dan, sebagai seorang istri, kita wajib mengerti posisi dan pekerjaan suami.

Sementara itu jika ada seorang wanita atau ibu rumah tangga yang ditakdirkan mendapatkan seorang suami pejabat maka hendaklah Jangan pernah campur tangan urusan jabatan suami karena yang demikian itu hanya akan menambah beban bagi suami. Sebagian wanita yang kebetulan bersuamikan pejabat di Indonesia ini masih banyak yang terlena dengan keadaannya, yang membuat dirinya congkak, arogan dan sombong. Bahkan tidak sedikit yang ikut menempatkan dirinya sebagai pejabat, padahal istri pejabat bukanlah pejabat. Suka memanfaatkan jabatan suami untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya, yang sehingga bagi suami yang takut istri akan menjadikan jabatannya sebagai barang jualan. “Istri yang demikian itu jauh dari karakter RA. Kartini yang sama-sama bersuamikan seorang pejabat.” ungkap beliau

“Istri pejabat yang baik adalah istri yang melayani kebutuhan fisik maupun batin yang diperlukan sang suami, yang membantu perjuangan suami, yang senantiasa mendampingi suami dalam keadaan suka maupun duka, yang dapat memberikan support dan semangat dalam menjalankan tugasnya, mengingatkan suami ketika ada indikasi akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan atauran agama dan negara dengan cara yang santun agar jangan sampai suami tersinggung. Istri yang demikian itu adalah gambaran kartini masa kini.” Ibu Nur Lela mengakhiri wawancaranya. Duri, 21/4. (Nsh)