Riau (Inmas) - Jamaah haji Indonesia hari ini melaksanakan puncak ibadah wukuf di Padang Arafah. Sejumlah rangkaian kegiatan digelar di sana, salah satunya khutbah wukuf.
Ketua Kloter Dr Rialis Muhammad Shaleh mengatakan saat ini suhu udara di Arafah memang panas, tapi jemaah khususnya kloter BTH 02 tetap nyaman dalam melaksanakan wukuf di padang Arafah.
Jutaan umat Islam secara serentak yang datang ke Arafah melaksanakan wukuf. Suhu di Arafah mencapai 39 derajat Celcius, namun sebelum prosesi wukuf berjalan, petugas kloter BTH 2 DR. Rialis Muhammad Shaleh, MPd, bersama tim petugas mengatur pembagian tenda agar pelaksanaan wukuf berjalan dengan hikmat.
Begitu pula tim kesehatan juga selaku TKHI kloter BTH 02 mengingatkan jemaah untuk selalu berada di tenda dan selalu memakai alat pelindung diri jika keluar tenda. Widodo selaku tim medis, mengatakan hal itu penting bagi jemaah demi menjaga kesehatannya tidak hanya selama waktu wukuf, namun juga mabit di Muzdalifah, Mina dan melempar jumrah.
Hal yang sama diungkap Dr.Hariya Desi, jemaah perlu banyak minum oralit, mengkonsumsi buah yang sudah dibagikan kepada jemaah. Ia mewanti wanti jemaah untuk selalu mengikuti arahan dari tim kesehatan.
Selanjutnya, sebelum Pukul' 12.26 WAS seluruh jemaah di masing masing tenda mulai melaksanakan wukuf dengan penuh hikmat.
Adapun petugas wukuf pada kloter BTH 02 untuk tenda 1 ini antara lain, Khotib : Buyung rambe, imam : Rialis Muhammad Sholeh dan Barda Nova selaku Muazin, sedang kan di tenda 2 Khotib merangkap imam Asmuni Hasan selaku TPIHI, Rezky sebagai Muazin.
Sementara itu untuk tenda 3 Khotib Zulkarnain, merangkap imam dan Ibnu Rusydi sebagai Muazin.
Khutbah wukuf kloter BTH 02 menyimpulkan bahwa setiap jemaah haji hanya perlu memaksimalkan momentum spirutualnya dalam berdoa, yang mungkin hanya berlangsung sepersekian detik, dan meyakini sepenuhnya bahwa doanya diqabulkan.
Selain harapan meminta ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan jemaah juga diajak untuk meminta safaat Rasul sekaligus merenung diri atas miniatur Padang Mahsyar.
Terlebih lagi dengan berpakaian serba putih yang hanya berpakaian dua helai seperti kapan, ini ibarat kita seperti sudah meninggal, sebut Rialis menjelaskan.
Isak tangis disela bacaan doa dan zikir yang berkomandang terdengar dari ratusan jemaah pun pecah seiring hujan yang penuh berkah turun di Arafah.(vera)