0 menit baca 0 %

Inhil Miniatur Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Ringkasan: Kandangan (Inmas) Griven H Putera, MAg, Pengembang Forum Kerukunan Umat Beragama Subbag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag Riau sampaikan bahwa hubungan Kalimantan Selatan dan Riau amat erat. Ini ditandai dengan mayoritasnya suku Banjar di Kabupaten Indragiri Hilir Riau.

Kandangan (Inmas) – Griven H Putera, MAg, Pengembang Forum Kerukunan Umat Beragama Subbag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag Riau sampaikan bahwa hubungan Kalimantan Selatan dan Riau amat erat. Ini ditandai dengan mayoritasnya suku Banjar di Kabupaten Indragiri Hilir Riau. “Indragiri Hilir itu negeri Melayu tapi penduduk mayoritasnya suku Banjar. Di sana menetap banyak suku dan etnis, dan sampai kini tetap rukun dan damai. Itu sudah berlangsung ratusan tahun lamanya. Inhil boleh dikatakan miniatur Indonesia, di sana ada suku Banjar, Bugis, Plores, Jawa, Batak, Tonghoa, Madura dan lain sebagainya. Selama ini mereka hidup berdampingan dalam suasana harmonis,” ungkapnya saat menjadi salah-seorang pembicara bersama Hermansyah, MA (Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning) pada Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) IV di Kandangan, Sabtu, 18/11/17.

Lebih jauh Griven menegaskan bahwa suku Melayu sangat terbuka, toleran dan senang hidup bersama dengan orang lain. Hal itu disebabkan karena faktor keturunan juga karena pengaruh Islam Rahmatan li al-'alamin yang diamalkan masyarakatnya.

Ajaran Islam tersebut juga mempengaruhi dunia sastra di Riau. Karya sastrawan Riau banyak yang bernuansa sufistik atau agamis, seperti terlihat dalam sajak-sajak Sutarji Calzoum Bachri dan sastrawan lainnya.

Pada kesempatan tersebut Griven juga menegaskan bahwa pujangga atau sastrawan itu merupakan suatu prediket tinggi yang disematkan masyarakat. “Dalam istilah bahasa Indonesia itu ada yang dikenal dengan firman, sabda, titah. Firman merupakan kalam mulia Allah Swt. Titah adalah ungkapan para raja. Sementara sabda adalah kalam mulia yang keluar dari ungkapan Rasul. Selain sabda digunakan untuk sesuatu yang diungkapkan nabi, juga dipakai untuk pujangga, maka ada istilah sabda pujangga,” katanya.

Lebih jauh Griven menjelaskan bahwa syair, puisi, kisah yang merupakan hasil saripati pemikiran sang pujangga merupakan sesuatu yang mulia untuk menerangi umat manusia. Untuk itu, berbahagialah menjadi penyair. Karena dalam Alquran pun, penyair dipakai menjadi salah-satu nama surat yaitu Assyua’ara’ (penyair). Pujangga juga mendedahkan tentang berita-berita besar. Allah Swt juga menamakan salah-satu surat yaitu Al-Naba’ (berita-berita besar).

“Karena prediket pujangga atau sastrawan itu tinggi maka tanggungjawabnya juga besar. Untuk itu para sastrawan hendaknya membuat karya yang dapat menyadarkan dan mengarahkan hidup pembaca dan penikmatnya kepada jalan yang diridhai Tuhan dan Rasul-Nya. Jangan melahirkan karya yang justru menjauhkan dirinya dan pembacanya dari Ilahi,” ungkap kandidat Doktor UIN Suska Riau tersebut.

Kegitan ASK XIV menghadirkan sejumlah sastrawan Indonesia baik dari Kalimantan Selatan sendiri maupun dari Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, Riau, Lampung dan lain-lain.

Kegiatan bersempena memperingati HUT Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalsel tersebut, selain diisi dengan seminar, juga ditaja beberapa performance art seperti pembacaan puisi, dan wisata alam ke Loksado, Kampung Dayak, Kalsel. (ghp)  


 


 Â