0 menit baca 0 %

Ingin Lancar Bahasa Inggris, MAN Siak Kirim Siswanya ke Pare

Ringkasan: Siak (Humas) – Sebagaimana yang di beritakan di laman visitpare.com, Pare mempunyai sejarah panjang dan mempunyai akses kemasa lalu yang sangat komplek bahkan sangat unik. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dengan letaknya yang masih dalam kekuasaan wilayah Kediri atau karesidenan Kediri, memungkin...

Siak (Humas) – Sebagaimana yang di beritakan di laman visitpare.com, Pare mempunyai sejarah panjang dan mempunyai akses kemasa lalu yang sangat komplek bahkan sangat unik. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dengan letaknya yang masih dalam kekuasaan wilayah Kediri atau karesidenan Kediri, memungkinkan Pare mempunyai sejarah yang panjang mengingat Kerajaan Kadiri sendiri telah berumur lebih dari 1133 tahun sungguh masa yang fantastis lebih dari satu milenium, artinya peradaban yang dimiliki oleh Pare dan dimiliki oleh Kadiri sendiri.

Pare terutama, memang sudah jauh sebelum Indonesia Raya, selain itu dalam posisi Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya, Pare mempunyai nama lain yang sangat unik yaitu Mojo Kutho atau sering disebut sebagai tempat peristirahatan atau Panglerenan, layaknya Kota Bogor yang menyandang tempat peristirahatan pada masa penjajahan Belanda.Namun Pare lebih tua dari itu.

Pare mempunyai sejarah panjang tentang kearifan masyarakat hingga kemajemukan budaya didalamnya, bahkan tata kehidupan masyarakat yang terbentuk hingga saat ini. Ketika Pare menyandang nama sebagai Kampung Wisata Bahasa, Pare masih menyisihkan beberapa pertanyaan dengan ditemukanya prasasti Jawa Kuno yang paling tua yaitu Prasasti Suka Bhumi, sebuah prasasti budaya berisi syair yang ditemukan di kota Pare.

Tak pelak, bahkan hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi para sejarawan sendiri khususnya, seberapa pentingkah Pare di mata Kerajaan Majapahit ataukah posisi Pare hampir mirip seperti Bogor yang menjadi tempat para sastrawan pada masa Majapahit dulu untuk beristirahat dan benar- benar meluangkan waktu untuk menghasilkan momen-momen bahkan Mahakarya yang besar pada zamannya.

Saat ini Pare menjadi Kampung Wisata Bahasa yang penuh dengan dinamika para pelajarnya, layaknya Jogjakarta sebagai Kota Pelajar. Pare akan menjadi Kota Bahasa yang kian tahun berbenah bukan hanya Bahasa Inggris yang mestinya dan akan berkembang di tanah panglerenan ini, tapi seribu bahasa di dunia akan mampu lahir disini, dan Pare akan benar-benar menjadi laboratorium bahasa yang bukan hanya berskala nasional tapi lebih dari itu Pare akan menjadi laboratorium bahasa berskala International.

Mengingat banyaknya peminat dan keberhasilan para Pelajar di Provinsi Riau dalam mengembangkan bahasa, teruatama bahasa Inggris, maka MAN Siak untuk pertama kali mengirimkan siswanya ke Pare sebanyak 2 orang, Zuliansyah Putra Pratama ( Kelas X) dan Risma Sri Hardianty (Kelas XI). “Siswa yang dari MAN Siak akan menetap selama 6 bulan di Camp Cordoba English Hause”. Demikian kata Yurnilis (Guru Pendamping MAN Siak)melalui pesan singkatnya dari Pare, Kediri, Jawa Timur. (gn)