Kampar (Inmas) - Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar Gustika Rahman SPdI, dampingi Dandim 0313 KPR Letkol. Inf. Aidil Amin SIP MIPol, pada acara ziarah kubur, yang dilaksanakan oleh Masyarakat Lingkungan Tanjung, Kelurahan Pasir Sialang, Kecamatan Bangkinang, hari rabu (12/06/2019).
Agus mengatakan, Ziarah Kubur ini merupakan salah salah satu kegiatan yang sering di lakukan untuk mendoakan mereka yang sudah mendahului kita. Biasanya di lakukan setiap bulan ramadhan dan juga setelah lebaran. Di Kabupaten Kampar, tepatnya di Kecamatan Bangkinang, Ziarah kubur juga sering di lakukan dan sudah menjadi salah satu event dan juga tradisi bagi masyarakat Ocu Kampar. Ziarah kubur ini dilakukan setelah melaksanakan puasa enam hari berturut-turut dibulan syawal. Makanya dikenal juga dengan aghi rayo onam (Hari Raya Enam).Â
Lebih lanjut Agus mengungkapkan, bahwasanya hari raya 6 atau dikenal juga dengan ziarah kubur ini merupakan momentum untuk mempereral silaturrahmi. Yang mana pada ziarah kubur ini kita bisa bertemu, bertatap muka bahkan bersalaman dengan sanak saudara, karib kerabat bahkan orang lain, yang sebelumnya tidak pernah kita jumpa. Karena pada hari raya enam ini, masyarakat yang merantau diluar daerah, bahkan diluar Negeri, sengaja pulang untuk mengikuti zaiarah kubur ini. makanya tak heran, disepanjang jalan yang berada di Bangkinang, dipenuhi oleh masyarakat yang ingin melaksanakan ziarah-ziarah di Tempat Pemakaman Umum (TPU).Â
Untuk ziarah di tanjung ini, dimulai dari pukul 07.00 WIB dan berakhir pada pukul 12.00 WIB. Yang mana kuburan-kuburan yang di ziarahi mulai dari kuburan-kuburan yang berada di Tanjung, hingga berakhir di kuburan Pasir Sialang. Setelah selesai melaksanakan ziarah kubur, langsung menuju Masjid Baitul Makmur, guna mengikuti makan bajambau.Â
Makan bajambau ini telah disiapkan oleh panitia yang berasal dari kaum ibu-Ibu yang berada di lingkungan Tanjung. Alhamdulillah, hari raya enam atau ziarah kubur ini berlangsung dengan sukses dan penuh dengan nuansa kekeluargaan atau keakraban. Yang mana para lelaki pergi ziarah, sang hawa atau perempuan menyiapkan makanan untuk menyambut mereka pulang. Sungguh indah tradisi ini, tanpa ada paksaan, masyarakat berkumpul-kumpul dengan satu tekad, mendo’akan sang leluhurnya, agar arwah leluhurnya diterima oleh Allah Swt, dan ditempatkan ditempat yang layak disisinya. (Ags/Usm)