0 menit baca 0 %

Haul Ke 77 Syekh Abdurrahman Siddiq berlangsung Khidmat

Ringkasan: Tembilahan (Humas)- Dalam rangka memperingati Haul Syekh Abdurahman Siddiq Bin syekh Afif Al-Banjari ke 77 yang akrab dikenal dengan sebutan Tuan Guru sapat seorang Mufti kerajaan indragiri yang diadakan di makam syekh abdurahman siddiq di kampung hidayat,desa teluk dalam kecamatan Kuindra,senin(2/6...

Tembilahan (Humas)- Dalam rangka memperingati Haul Syekh Abdurahman Siddiq Bin syekh Afif Al-Banjari ke 77 yang akrab dikenal dengan sebutan Tuan Guru sapat seorang Mufti kerajaan indragiri yang diadakan di makam syekh abdurahman siddiq di kampung hidayat,desa teluk dalam kecamatan Kuindra,senin(2/6)

Berdasar informasi yang didapat tim humas kemenag inhil di lapangan nampak terlihat antusias warga untuk menghadiri haul tersebut yang diselengarakan setiap setahun sekali,mulai dari yang muda sampai yang tua yang berasal dari seluruh kecamatan yang ada diindragiri hilir. Hadir dalam acara tersebut Bupati Indragiri Hilir yang diwakili oleh Staff ahli bidang pembangunan Drs.Sar'i, Kepala Kantor Kementerian Agama yang diwakili oleh Kaur Ortala dan Kepagawaian H.Guspiandi,S.Ag,unsur muspida,camat, serta upika kecamatan kuindra serta ratusan jamaah yang berasal dari kalimantan barat,tungkal, jambi dan masyarakat inhil.

Acara dimulai dengan pembacaan wirid akbar selama 3 hari sebelum acara puncak dimulai, sekilas tentang syekh Abdurahman Siddiq (tuan Guru Sapat)Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiq dilahirkan di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1287 H / 1864 M., dari seorang ayah bernama Muhammad Afif bin Khadhi H. Mahmud dan ibu bernama Shafura. Beliau adalah keturunan (buyut) dari Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yaitu sosok ulama besar yang pertama kali mengembangkan Islam di Kalimantan. Syekh Abdurrahman Siddiq memulai pendidikannya dengan menimba ilmu dasar-dasar agama pada Mak Ciknya, Siti Saidah, seperti membaca al-Qur’an, ilmu fiqh dan ilmu Alat (khususnya dari kitab-kitab fiqh seperti: Kitab Dammun, Matan Jurumiah,dan Matan Bina) Pada usia 13 tahun,Beliau meluaskan pengetahuannya dengan mempelajari berbagai kitab antara lain: Kitab Mukhtasar,Kailani, Ilmu Bayan, Mantik,Ma’ani, Tafsir dan Hadis. Saat usianya menginjak dewasa,Beliau memutuskan ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama di sana. Di Mekkah,Beliau berguru pada beberapa ulama besar kala itu, seperti Syekh Said Satta (pengarang kitab I’anatut al-Thalibin), Syekh Ahmad Dimyati, Syekh Ahmad Bapadhil, dan Syekh Umar Sambas. Selain berguru secara formal pada guru-guru terkemuka di Masjidil Haram,Beliau juga banyak berguru pada ulama-ulama sufi di kota Mekkah. Maka tak heran, jika Syekh Abdurrahman Siddiq lebih banyak berkarya di bidang ilmu tauhid daripada ilmu fiqh. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Mekkah,sekitar tahun 1316 H,Beliau kembali ke kampung halamannya di Kampung Dalam Pagar, Martapura,untuk menyebarkan agama Islam. Sekitar tahun 1324 H/1913 M, Syekh Abdurrahman Siddiq merantau ke Indragiri. Ketika datang pertama kali,Beliau bermastautin di Sapat (sekarang ibukota kecamatan Kuala Indragiri) sebagai tukang mas selama 7 bulan. Kemudian tahun 1337 H, Beliau secara resmi diangkat menjadi Mufti Kerajaan Indragiri yang pertama oleh Sultan Mahmud Syah yang berkedudukan di Rengat. Beliau menjabat mufti di Kerajaan Indragiri selama kurang lebih 20 tahun.

Dalam Sambutannya Drs.Sar'i selaku staff ahli bupati bidang pembangunan menuturkan Atas nama pemerintah kabupaten inhil menyambut baik acara haul tersebut,yang rutin diselenggarakan setahun sekali,hendaknya kita dapat mentelaudani sifat- sifat beliau yang kemudian kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari"tutupnya"

Salah seorang warga Inhil yang tidak mau disebutkan namanya yang ditemui tim humas Kemenag Menuturkan " merasa senang dapat menghadiri Acara haul ini dimana ini perdana saya dan keluarga datang ke sapat."ujarnya" *** (riry)