0 menit baca 0 %

Hartiknas ke- 110, Kobarkan Semangat Persatuan dan Kesatuan

Ringkasan: Riau (Inmas)- Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Hartiknas) ke- 110 Tahun 2018 maka semangat persatuan dan kesatuan harus terus dikobarkan seperti persatuan dan kesatuan yang selalu melekat dalam diri Bung Tomo.Hal tersebut diungkapkan Kabag TU Kanwil Kemenag Riau, Drs H Mahyudin...

Riau (Inmas)- Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Hartiknas) ke- 110 Tahun 2018 maka semangat persatuan dan kesatuan harus terus dikobarkan seperti persatuan dan kesatuan yang selalu melekat dalam diri Bung Tomo.

Hal tersebut diungkapkan Kabag TU Kanwil Kemenag Riau, Drs H Mahyudin MA, usai menjadi pembina upacara para peringatan Hartiknas ke- 110 di Halaman Kanwil Kemenag Riau, Senin (21/5/2018). Upacara dihadiri oleh seluruh pejabat dan pegawai Kanwil Kemenag Riau.

“Untuk meraih bagaimana Indonesia ini menjadi merdeka luar biasa oleh karena itu kita selaku ASN, generiasi bangsa perlu mencontoh ini perjuangan Bung Tomo yang perlu dicontoh. Persatuan ini bisa betul- betul kokoh karena bagaimanapun dengan persatuan dan kesatuan apapun bisa kita lakukan. Selain itu kita bersyukur karena dengan perjuangan yang begitu susah oleh para pendahulu kita, sekarang ini sudah tinggal menikmati hasil perjuangan mereka oleh karena itu kita bersama sama bersyukur sambil mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya mengisi hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, bermanfaat untuk kepentingan umat dan bermanfaat untuk kepentingan kita sendiri sehingga diarahkan bagaimana supaya kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Membangun SDM Memperkuat Pondasi Kebangkitan Nasional Indonesia dalam Era Digital

Sementara itu dalam sambutan Menteri Komunikasi dan Informatikan RI, Rudiantara, yang dibacakan oleh Kabag TU Drs H Mayudin MA pada peringatan Hartiknas ke- 110 di Halaman Kanwil Kemenag Riau menyebutkan, ketika rakyat berinisiatif untuk berjuang demi meraih kemerdekaan dengan membentuk berbagai perkumpulan, lebih dari seabad lalu, nyaris tak punya apa-apa hanya memiliki semangat dalam jiwa dan kesiapan mempertaruhkan nyawa. Namun sejarah kemudian membuktikan bahwa semangat dan komitmen itu saja telah cukup, asalkan bersatu dalam cita-cita yang sama: kemerdekaan bangsa.

Bersatu, adalah kata kunci ketika kita ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia namun pada saat yang sama tantangan yang mahakuat menghadang di depan. Boedi Oetomo memberi contoh bagaimana dengan berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal primordial akhirnya bisa mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan.

Boedi Oetomo menjadi salah satu penanda utama bahwa bangsa Indonesia untuk pertama kali menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan. Presiden Pertama dan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1952 mengatakan bahwa: “Pada hari itu kita mulai memasuki satu cara baru untuk melaksanakan satu ‘idee’, satu naluri pokok ingin hidup berharkat sebagai manusia dan sebagai bangsa. Cara baru itu ialah cara mengejar sesuatu maksud dengan alat organisasi politik, cara berjuang dengan perserikatan dan perhimpunan politik, cara berjuang dengan tenaga persatuan.”

Para pendahulu yang berkumpul dalam organisasi-organisasi serta Boedi Oetamo itu memberikan yang terbaik bagi bangsa melalui organisasi. Bukan dengan memberikan harta atau senjata, melainkan komitmen sepenuh raga. Seratus sepuluh tahun kemudian bangsa ini telah tumbuh menjadi bangsa yang besar dang maju, sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Meski belum sepenuhnya sempurna, rakyatnya telah menikmati hasil perjuangan para pahlawannya berupa meningkatnya perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Keringat dan darah pendahulu bangsa telah menjelma menjadi hamparan permadani perikehidupan yang nyaman dalam rengkuhan kelambu kemerdekaan.

Kalau sekarang bansa ini hampir segala sesuatu dibutuhkan, seharusnya kita terinspirasi bahwa dengan kondisi embrio bangsa seabad lalu yang berada dalam rundungan kepapaan pun, kita telah mampu menghasilkan energy yang dahsyat untuk membawa kepada kejayaan,” ungkapnya.

Butir kelima dari Nawacita Kabinet Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berisi visi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan. Visi tersebut mendapat penekanan lebih melalui amanat Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa pemerintah akan meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada tahun 2019, pembangunan infrastruktur yang menjadi focus pada tahun-tahun sebelumnya. Melalui pembangunan manusia yang terampil dan terdidik, pemerintah ingin meningkatkan daya saing ekonomi dan secara simultan meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya. Jika kita sepenuhnya berhasil membangun sember daya manusia unggul dari seluruh  260-an juta lebih penduduk negeri ini.

Kekayaan alam merupakan sumber daya yang terbatas. Butuh segudang prasyarat untuk bisa dieksploitasi, dan selalu ada limit untuk menggenjot pemanfaatannya. Sedangkan sumber daya manusia kita menyediakan kapasitas dan kabilitas yang sangat luas untuk dikembangkan. Kebangkitan sumber daya manusia Indonesia secara bersama-sama dan kompak, tanpa terdistraksi oleh godaan-godaan yang 3 kontraproduktif, akan membawa kepada kejayaan bangsa,selain secara otomatis bagi individu-individunya sendiri.

Oeh sebab itu tema “PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA MEMPERKUAT PONDASI KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA DALAM ERA DIGITAL” dalam peringatab Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2018, harus dimaknai dengan upaya- upaya penyadaran setiap masyarakat Indonesia, untuk mengembangkan diri dan merebut setiap peluang untuk meningkatkan kapasitas diri yang dibuka oleh berbagai pihak, baik oleh pemerintah, badan usaha, maupun masyarakat sendiri. Pengembangan kapasitas sumber daya manusia juga harus diletakkan dalam konteks pemerataan dalam pengertian kewilayahan, agar bangsa ini bangkit secara bersama-sama dalam kerangka kebangsaan Indonesia.

Ia menambahkan, Bung Karno juga menggambarkan persatuan bangsa seperti layaknya sapu lidi. Jika tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Gambaran tersebut actual sekali pada masa sekarang ini. Kita merasakan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan sapu lidi kita. Kita disuguhi hasutan-hasutan yang membuat kita bertiksi dan tanpa sadar mengiris ikatan sapu yang sudah puluhan tahun menyatukan segala perbedaan tersebut. Padahal inilah masa yang sangat menentukan bagi kita. Inilah era yang menuntut kita untuk tidak buang buang waktu demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain.

Menurut perhitungan para ahli, sekitar dua tahun lagi akan memasuki sebuah era keemasan dalam konsep kependudukan, yaitu bonus demografi. Bonus diemografi menyuguhkan potensi keuntungan bagi bangsa karena proporsi penduduk usia produktif lebih tinggi dibangding penduduk usia non-produktif. Menurut peerkiraan Badan Pusat Statistik, rentang masa ini akan berpuncak nanti pada tahun 2028 sampai 2031, yang berarti tinggal 10-13 tahun lagi. Pada saat itu nanti, angka ketergantungan penduduk diperkirakan mencapai titik terendah, yaitu 46,9 persen.

Proyeksi keuntungan bonus demografi itu akan tinggal menjadi proyeksi jika kita tak dapat memaksimalkannya. Usia produktif hanya akan tinggal menjadi catatan tentang usia dari pada catatan tentang produktivitas, jika mutu sumber daya manusia produktif pada tahun-tahun puncak bonus demografi tersebut tidak dapat mengungkit mesin pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu Bapak Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan selalu mendorong dunia pendidikan, bekerja sama dengan industry dan bisnis, untuk mencari terobosan-terobosan  baru dalam pendidikan vokasi.

Generasi Bonus Demografi” yang kebetulan juga beririsan dengan “generasi milenial” tersebut, pada saat yang sama, juga terpapar oleh massifnya perkembangan teknologi, terutama teknologi digital. Digitalisasi di berbagai bidang ini juga membuka jendela peluang dan ancama yang sama. Ia akan menjadi ancaman jika hanya pasif menjadi pengguna dan pasar, namun akan menjadi  berkah jika kita mampu menaklukkannya menjadi pemain yang  menentukabn lansekap ekonomi berbasis digital dunia.

Alhamdulillah, kita mencatat bahwa tak sedikit anak muda kreatif yang mampu menaklukkan gelombang digitalisasi dengan cara mencari berkah didalamnya. Internet, media sosial, situs web, layanan multimedia aplikasi ponsel, mereka jadikan lading baru buat berkarya, dan pasar yang menjanjikan bagi kreativitas. Oleh sebab itu, mari bersama-sama kita jauhkan dunia digital dari anasir-anasir pemecah-belah dan konten-konten negative, agar anak-anak kita bebas berkreasi, bersilaturahmi, berekspresi, dan mendapatkan manfaat darinya. Demikian juga, dalam irama yang serempak dalam memecahkan masalah dan menghadapi para pencari masalah,” paparnya.

“Dulu kita bisa, dengan keterbatasan akses pengetahuan dan informasi dengan keterbatasan teknologi untruk berkomunikasi, berhimpunan dan menyatukan pikiran untuk memperjuangkan kedaulatan bangsa. Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-110. Mari maknai peringatan tahun ini dilingkungan masing-masing, sesuai lingkup tugas kita masing-masing, untuk semaksimal mungkin memfasilitasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama generasi muda, yang akan membawa kepada kejayaan bangsa di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya. (mus/anto)