0 menit baca 0 %

Halal Bi Halal, Ini Tausiyah Menyejukkan Untuk ASN Kemenag Riau

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) – Kemenag Riau Melalui bidang Penaiszawa mengadakan Halal Bi Halal Idul Fitri 1437 H di Aula gedung Kanwil Kemenag Riau pada Senin pagi (11/07). Hadir pada kesempatan tersebut Pgs Kanwil Kemenag Riau H Mahyudin MA, Kabag TU HM Saman, para Kabid dan Kasi, karyawan/ti, serta pa...

Pekanbaru (Inmas) – Kemenag Riau Melalui bidang Penaiszawa mengadakan Halal Bi Halal Idul Fitri 1437 H di Aula gedung Kanwil Kemenag Riau pada Senin pagi (11/07). Hadir pada kesempatan tersebut Pgs Kanwil Kemenag Riau H Mahyudin MA, Kabag TU HM Saman, para Kabid dan Kasi, karyawan/ti, serta para istri pejabat di lingkungan Kanwil Kemenag Riau.

Usai sambutan yang disampaikan oleh H Mahyudin selaku Pgs Kanwil Kemenag Riau, Halal bi Halal diisi Tausiyah Ustadz DR H M Fahri MA yang menyampaikan hikmah Idul Fitri menurut ajaran Rasulullah. Sesungguhnya kegiatan Halal Bi halal sudah merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Yang sudah rutin dilaksanakan setiap tahunnya di seluruh penjuru nusantara sebut H fahri mengawali tausiyahnya.

Dikatakan H fahri setidaknya ada tiga poin makna yang bisa kita ambil dari halal bi halal tersebut. Pertama, dari pendekatan kebahasaan tidak akan ditemukan sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Dikatakannya secara kebahasaan Halal itu berasal dari kata halla yang bermakna menyelesaikan problem dan masalah, serta mencairkan yang beku, menjernihkan yang keruh. Maka Halal bi Halal adalah pertemuan silaturrahim dalam rangka menyelesaikan problem dan masalah yang sedang dihadapi, menanggalkan ikatan-ikatan yang membelenggu, dan mencairkan kebekuan dan kakunya hubungan antara sesama muslim. Kedua Halal tersebut bisa digunakan dengan pendekatan bahasa hukum, artinya halal tersebut adalah sesuatu yang dibolehkan, yang sebelumnya sesuatu diharamkan selama Ramadhan. Ketiga halal bi halal tersebut bisa digunakan dengan pendekatan bahasa Alquran, dalam Alquran sebutnya, ketika Allah menggunakan kata halal tersebut seringkali digandengkan dengan kata thayyibah yaitu “Halalan Thayyibah”. Thayyibah sendiri bermakna baik dan menenangkan, urainya.

Lebih jauh diterangkannya bahwa setidaknya ada beberapa hakikat dan makna dari halal bi halal tersebut. Pertama, Halal bi Halal tidaklah sebatas bersalaman dan berjabatan tangan, tetapi hendaknya betul-betul mencerminkan perbuatan yang baik, lagi menenangkan hati orang lain. Kedua, makna memaafkan tidak hanya di mulut saja, namun lebih dari itu saling memaafkan diantara sesama muslim harus karena Allah Swt.

Dalam ceramahnya yang cukup menarik H Fahri menerangkan ada tiga tingkatan Ajaran memaafkan dalam Alquran. Yang paling rendah dinamakan al ‘afw artinya menghapus kesalahan orang lain dengan ikhlas dari qalbu dikarenakan kemarahan dan rasa dendam dalam diri seorang muslim. Apabila kita bisa melalui tahapan ini, maka akan dengan mudah sampai pada tahapan memaafkan yang sebenarnya.

“Yang berlalu biarlah berlalu, janganlah kesalahan tersebut akan membuat kaku hubungan dimasa datang”, tuturnya.

Lanjut, memaafkan dalam Alquran dinamakan As shaf yang artinya menahan diri dan sabar, dapat dipahami as shaf berarti berhenti untuk terus menyalahkan melalui perbuatan ataupun perkataan, karena kadang-kadang kita sudah mengaku memaafkan akan tetapi masih terus saja membicarakan kesalahan orang yang telah melukai kita. Pada tingkatan ini memaafkan haruslah tulus meliputi totalitas rohani dan jasmani. Tingkatan terakhir dinamakan ghafur (Ghufran) jelasnya, berarti menghapus segala perbuatan salah yang telah diperbuat oleh seseorang dan segala efek negatif yang ditimbulkannya.

“Jika kita telah mengampuni kesalahan orang lain, maka kita tidak akan mengkaji dosa dan kesalahan masa lalunya terhadap kita. Yang tersisa di dalam diri hanyalah bagaimana kita bisa berbuat baik terhadap orang lain tersebut, dan Insyaalah kita bisa menjadi insan yang Kamil (manusia yang sempurna) dimata Allah Swt”, tambah H fahri dengan penuh semangat.

Beliau berpesan agar ASN Kemenag, khususnya Kemenag Riau dapat menjadikan Bulan Syawal sebagai pembangun tekad untuk meninggalkan kesalahan dimasa lalu dan meningkatkan kinerja di masa depan. “Semoga Kemenag Riau bisa menjadi terdepan dalam berbagai hal dan menjadi contoh bagi daerah lainnya dalam bidang keagamaan”, ujarnya menutup tausiyah.(vera)