0 menit baca 0 %

Halal Bi Halal Adalah Karya Ulama Nusantara (Kyai H. Wahab Chasbullah)

Ringkasan: Rokan Hilir (Inmas)- Bertempat di kediaman Bapak Alkahfi Sutikno, S.Pd.I Jl. Delima Mukti Jaya Kecamatan Rimba Melintang, Jumat (15/7) mulai jam 9.00 Wib sampai dengan selesai, salah seorang Penyuh Agama Islam Kementerian Agama Kab. Rokan Hilir yang bertugas di Kecamatan Rimba Melintang ustadz Nasuh...

Rokan Hilir (Inmas)- Bertempat di kediaman Bapak Alkahfi Sutikno, S.Pd.I Jl.  Delima Mukti Jaya Kecamatan Rimba Melintang, Jumat (15/7) mulai jam 9.00 Wib sampai dengan selesai, salah seorang Penyuh Agama Islam Kementerian Agama Kab. Rokan Hilir yang bertugas di Kecamatan Rimba Melintang ustadz Nasuha, S.Pd.I memberikan taushiyah pada acara halal bihalal keluarga besar embah DEWIRAKA (Dewi, Ramlan, Kasim).

Diperoleh penjelasan dari ketua panitia Alkahfi Sutikno sekaligus tuan rumah pada acara halal bi halal saat memberikan sambutan bahwa ketiga kakek/nenek berasal dari Jawa dan hijrah ke Sumatra Utara dipekerjakan oleh penjajah Belanda pada tahun 1918. Silsilah keturunan yang sampai saat ini masih terbukukan, muncul ide/gagasan untuk diadakan silaturrahmi tahunan yang dikemas dengan acara halal bi halal. “alhamdulillah halal bihalal ini sudah yang ke-24 nya.”

Alkahfi menambahkan “semoga degan halal bi halal ini, yang jauh semakin dekat, yang dekat semakin merapat sehingga lebih mempererat ukhuwah/persaudaraan diantara keturunan DEWIRAKA.”

Disisi lain ustadz Nasuha, S.Pd.I dalam taushiyahnya menjelaskan tentang sejarah halal bi halal dan keutamaan silaturrahmi.

Dikatakannya bahwa “orang yang menyambung tali silaturrahmi sebagaimana dikatakan Rasulullaah Muhammad, SAW dalam beberapa haditsnya; dapat memasukkan kedalam surga, memperpanjang umur dan melapangkan rizki.”

Sementara dari kajian sejarah, halal bi halal memang ada beberapa versi, diantaranya ada yang mengatakan bahwa kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I keraton surakarta atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.

Kegiatan seperti yang dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada. Tapi istilah “halal bi halal” ini secara nyata belum tercetuskan.

Atas saran Kiyai H. Wahab Chasbullah (salah seorang pendiri NU) kepada Bung Karno pada tahun 1948 saat Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa untuk mengadakan acara halal bi halal. Kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul “Halal bi Halal” dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

“Dengan ide bijak seorang ulama, sampai sekarang kita masih berada dalam bingkai NKRI, dikarenakan para elit dan warga bangsanya senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur silaturrahmi,” tegasnya. (aliya/andi)