Dumai (Inmas) - Negara Indonesia kaya kebudayan terdapat berbagai macam suku, agama dan golongan. Penduduk Kota Dumai terdiri atas berbagai suku, bahasa, adat istiadat seperti : Melayu, Banjar , Bugis, Jawa, Minang, dll. Serta menganut berbagai agama seperti : Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, sehingga daerah kita merupakan masyarakat majemuk, mereka hidup tersebar di 7 Kecamatan di wilayah Kota Dumai. Perbedaan tersebut rentan akan terjadinya konflik.
Demikian disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Dumai diwakili Kasubbag Tata Usaha Drs.H.Khaidir saat membuka kegiatan workshop peningkatan partisipasi tokoh perempuan dan unsur pemuda dalam keanggotaan FKUB dan lembaga keagamaan, kamis (02/06) bertempat di aula Kantor Kementerian Agama Kota Dumai. Hadir Ketua FKUB Kota Dumai Drs.H.Ismail,MA, turut hadir Kabag Kesra Setda Kota Dumai diwakili Kasubbag Sosial Nurlela, dan para peserta berjumlah 40 orang yang terdiri dari anggota FKUB, tokoh perempuan, unsur pemuda dan lembaga keagamaan.
Beliau menjelaskan konflik terbagi dua yaitu konflik horizontal dan konflik vertikal. Konflik horizontal adalah konflik yang terjadi antar masyarakat, sedangkan konflik vertikal adalah konflik yang terjadi antara masyarakat dengan aparat (akibat perbedaan aspirasi dengan kebijakan).
“Penyebab umat beragama tidak rukun diantaranya seolah adanya sifat agama yang mengandung tugas dakwah, kurangnya saling pengertian dalam menghadapi perbedaan, ada perasaan benci, sentimen agama, salah faham, wawasan kurang luas, dan doktrinasi internal agama,” tegas Khaidir.
Dikatakannya, manusia Indonesia satu bangsa, hidup dalam satu negara, satu ideologi yaitu Pancasila. Ini sebagai titik tolak pembangunan. Berbeda suku, adat dan agama saling memperkokoh persatuan. Kerukunan akan menjamin stabilitas sosial sebagai syarat mutlak pembangunan. Ketidakrukunan menimbulkan bentrok dan perang yang mengancam kelangsungan hidup bangsa dan Negara.
Terakhir, beliau berharap agar para peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik guna meningkatkan pemahaman dan rasa persaudaraan antar umat, saling memahami, menghargai, dan menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan umat beragama, tutupnya.(jaka)