Dumai (Inmas) – Hisab rukyat sangat penting dan sangat diperlukan, bukan hanya setahun saja, tetapi setiap tahunnya. Demikian salah satu point yang disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Dumai Drs H Darawi MA dalam pemaparan materinya dihadapan puluhan peserta orientasi hisab rukyat, didampingi Moderator H Nasrun Ssos yang berlangsung di aula Kantor Kementerian Agama Kota Dumai hari sabtu (12/12).
Darawi mengatakan hisab secara harfiah perhitungan. Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender hijriyah. Dalam dunia islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal syawal (Idul Fitri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).
Selanjutnya, Mantan Kepala MAN Dumai ini menjelaskan dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 5 dikatakan bahwa Allah memang sengaja menjadikan Matahari dan Dulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar-Rahman ayat 5 disebutkan bahwa Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
Dikatakannya lagi, karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya Matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi. Diantara atronom muslim ternama yang telah mengembangkan metode hisab modern adalah Al Biruni, Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan banyak lagi, jelas Darawi.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan sedangkan rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.
“Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah atau teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan cahaya langit sekitarnya,” terang Kakan Kemenag.
Oleh sebab itu, tentunya kita perlu mengikuti acara dengan sebaik-baiknya agar kita dapat memahami dasar tentang ilmu hisab rukyat dan agar dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat jika ada terjadi ketidakseragaman dalam pelaksanaan ibadah serta seraya untuk menyamakan persepsi agar tidak muncul perbedaan pendapat baik dalam penentuan awal bulan qomariah, penentuan waktu sholat, penentuan terjadinya gerhana, petunjuk arah kiblat, menentukan awal Ramadhan, maupun 1 syawal dan lain-lainnya.
“Dan juga nantinya diharapkan para peserta dapat mengambil ilmu dari apa yang akan disampaikan oleh Narasumber yang lain, supaya dapat menambah referensi tentang hisab rukyat ini, pungkas Darawi.(jaka)
*edit by diah