Rokan Hilir (Inmas)- Allaah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu. Mudah2an kamu bertakwa” (Al -Baqarah:183). Dan Nabi Muhammada AW bersabda "Banyak orang yang puasa, mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus." (HR Bukhari)
Firman Allah SWT dan hadits Nabi Muhammad SAW tersebut diatas disampaikan Kepala Kankemenag Kab. Rokan Hilir H. Agustiar, S.Ag saat Apel senin (30/5), seminggu menjelang hadirnya bulan suci Ramadhan di halaman Lantor Kemenag Rokan Hilir.
Mengawali amanatnya H. Agustiar mengatakan, "Insya Allah, 1 Ramadhan akan jatuh pada tanggal 6 Juni 2016. Namun untuk lebih pastinya, kita tunggu saja ketetapan dari Kementerian Agama RI."
H. Agustiar mengingatkan kembali tentang tujuan perintah puasa bahwa, “secara tegas dijelaskan dalam Alquran surah Al-Baqarah : 183 adalah untuk membentuk pribadi Muslim yang bertakwa kepada Allah. Yakni, mengerjakan semua perintah Allah, dan menjauhi semua yang dilarang Allah.”
“Karena itu, jadikan Ramadhan tahun ini, Ramadhan terbaik. Ramadhan yang mampu memuasakan diri tidak sebatas menahan lapar, haus, dan birahi, tapi memuasakan segala sesuatu demi satu hal, yaitu lahir dan terbentuk manusia yang bertakwa. Saatnya, kita pindahkan dari puasa seremoni menuju puasa yang hakiki,” ungkapnya.
Lebih lanjut Kepala Kemenag Rohil menjelaskan, “Puasa seremoni adalah puasa yang hanya mengejar fikih, asal tidak membatalkan puasa, seperti makan minum atau berhubungan suami istri pada siang hari. Tapi perbuatan-perbuatan yang melanggar norma dan kaidah kepatutan agama tidak diindahkan. Perbuatan-perbuatan, seperti rafats (berkata cabul atau porno), fusuq (fasiq seperti berkata atau bersumpah tidak sesuai fakta), dan jidal (mencaci maki, memfitnah, dan bergunjing atau bergosip), sama sekali tidak dipuasakan.”
Dalam hal itulah, Rasulullah SAW memberikan peringatan terhadap umat Muslim. "Banyak orang yang puasa, mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus." (HR Bukhari). Lebih tegas, Rasul SAW menyebutkan bahwa Allah sama sekali tidak berhajat kepada usaha menahan rasa lapar dan haus seseorang, bila dia tidak meninggalkan perkataan bohong, perbuatan nista, dan tindakan kejahilan,” tegas H. Agus mengakhiri amanatnya. (Nsh)