0 menit baca 0 %

H. Agustiar hadiri wisuda santri Pondok Pesantren Dar Ahlussunnah Wal Jamaah

Ringkasan: Rokan Hilir (inmas) Mewkili Kepala Kanwil Kemenag Riau, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hilir H. Agustiar bersama Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan rakyat mewakili Bupati Rokan Hilir menghadiri Wisuda 56 santriwan/santriwati Pondok Pesantren Dar Ahlussunnah Wal Jamaah (...

Rokan Hilir (inmas) – Mewkili Kepala Kanwil Kemenag Riau, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hilir H. Agustiar bersama Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan rakyat mewakili Bupati Rokan Hilir menghadiri Wisuda 56 santriwan/santriwati Pondok Pesantren Dar Ahlussunnah Wal Jamaah (Dar Aswaja) dan Haul Tuan Syeikh Kh. Syaufi Mudo Madlawan Alkhaalidi Annaqsabandi Sungai Pinang Kecamatan Kubu Babussalam di halaman Pondok Pesantren, Kamis, (20/7/2017).

Prosesi pelaksanaan Wisuda dipimpin Ustadz Thamrin mewakili Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Dar Ahlussunnah Wal Jamaah didampingi Kepala Kankemenag dan Asisten I dihadiri Upika Kec. Kubu Babussalam, Kepala KUA Kec. Kubu Sugeng Sapriadi, tokoh masyarakat, tokoh agama, para wali santri dan undangan lainnya.

Sebelum prosesi pengalungan medali, Ustadz Thamrin mewakili Pimpinan Pontren Dar Aswaja dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada para wali santri yang telah mempercayakan putra-putrinya mondok dan mesantren di pontren Dar Aswa ini.

“mudah-mudahan ilmu yang telah dikaji selama 6 tahun di pesantren ini menjadi berrkah dan bermanfaat,” harap Ust. Thamrin.

Ust. Thamrin menambahkan, mohon maaf kepada para wali santri, jika selama 6 tahun putra-putrinya di pesantren mendapat hukuman, semata-mata bertujuan untuk mendidik. Hukuman yang diterima itu merupakan kifarat agar ilmunya bermanfaat.

Sambutan selanjutnya disampaikan Kakan Kemenag Rokan Hilir H. Agustiar. Dalam sambutan sekaligus taushiyahnya, beliau berpesan kepada seluruh santri agar pandai menempatkan diri di zaman sekarang ini. Zaman sekarang zaman globalisasi, zaman informasi, zaman komunikasi. Maka santri harus bisa memilah dan memilih dalam menggunakan alat komunikasi. Dulu belum ada handphone bahkan smartphone, sekarang apa saja ada, dunia mudah diakses. Yang positif maupun negatif semua ada disitu.

“jika anak-anak kita tidak dibentengi dengan ilmu dan iman, bisa dipastikan akan terjebak dan terjerumus oleh globalisasi itu sendiri, naudzubillah mindzalik,” tandas H. Agustiar.

Lanjut H. Agus, untuk menjawab kehawatiran tersebut jawabnya adalah salah satunya pondok pesantren. Siang dan malam santri dididik dan diawasi.

“dengan pengawasan yang di pesantren, mudah-mudahan santri bisa steril dari hal-hal yang akan merusak moral,” tegasnya.

Sementara disisi lain, Asisten I dalam sambutannya berpesan kepada para wisudawan/wisudawati agar dapat mengembangkan ilmu yang telah diraih selama menjadi santri dan dapat berkiprah terjun di masyarakat. Untuk terpenuhi hal itu, jiwa santri tidak boleh puas sampai disini. Setelah lulus dari pesantren ini, lanjutkan kuliah.

“ilmu dunia dan akhirat, usahakan seimbang, bukankah itu yang dipesankan Nabi,” H. Fery mengakhiri. (Nsh)