0 menit baca 0 %

Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Ringkasan: Kampar (Inmas) - Saat kita mendengar lagu “Hymne Guru” hati kita akan menjadi tersentuh. Betapa mulia dan besar jasa seorang guru dalam menyumbang kemajuan suatu bangsa. Guru disanjung dan dipuja begitu luar biasa karena diibaratkan sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun penyejuk...

Kampar (Inmas) - Saat kita mendengar lagu “Hymne Guru” hati kita akan menjadi tersentuh. Betapa mulia dan besar jasa seorang guru dalam menyumbang kemajuan suatu bangsa. Guru disanjung dan dipuja begitu luar biasa karena diibaratkan sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun penyejuk dalam kehausan, dan sebagai patriot pahlawan bangsa.

Namun apakah cukup hanya berhenti pada sekadar sanjungan dan pujian? Terlebih di akhir bait lagu tersehut dikatakan guru adalah patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Cukupkah seorang guru hanya diberi gelar “Pahlawan tanpa tanda jasa?. Demikian disampaikan Humas Kemenag Kampar Gustika Rahman SPdI, ketika dimintai tanggapannya seputar hari guru Nasional, hari kamis (24/11).

Agus mengatakan, Di zaman yang semakin susah ini, orang tidak akan mampu hidup hanya dengan sanjungan dan pujian. Gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” tidak mampu memberi hidup yang layak bagi mereka, bahkan justru membebani. Di zaman ini yang dibutuhkan bukan sekadar sanjungan atau pujian atau gelar, lebih pada perhatian dan penghargaan atas suatu pengabdian yang begitu luar biasa.

Guru yang merupakan profesi yang amat mulia hanya dianugerahi gelar ‘tanpa tanda jasa”, Padahal gurulah yang mengantarkan manusia-manusia Indonesia menuju kepada keberhasilannya. Ibaratnya pengorbanan dan jerih payah para guru tidak dapat tergantikan, bahkan dengan penghargaan sekali pun.

Lebih lanjut Agus menceritakan, Y. Suhartono (Guru dalam Tinta Emas, 2006:ix} menjelaskan bahwa kita bisa membaca dan menulis, guru yang mengajarkan. Kita dapat menduduki jabatan tertentu, guru jugalah yang menghantarkannya. Kita bisa berkreasi atau berwirausaha, ya tetap gurulah yang mempunyai andil besar. Tanpa guru kita tidak dapat seperti sekarang ini.

Begitu besar peran seorang guru dalam kehidupan kita. Namun, ketika kita sudah berhasil meraih impian, kita cenderung melupakan jasa-jasa guru. Ketika murid-muridnya telah berhasil menjadi presiden, gubernur, pengusaha, atau apa pun, guru tetaplah guru dengan gaji yang pas-pasan. Yang berubah dari guru hanyalah usianya yang semakin menua, ucapnya.

Jadi marilah kita menghormati guru dengan segala upaya pantang menyerah mencerdaskan anak-anak bangsa , meski masih ada yang dicaci karena perilaku buruk sebagian guru atas kekhilafannya. Semoga profesi guru semakin sejahtera kedepan sehingga lebih menyemangati dalam pengabdiannya dan jangan terlena dengan tunjangan yang diberikan sehingga melupakan tugas mulianya. 

Jangan hanya siap menerima gaji besar tapi harus siap dengan jiwa besar mendidik dan mempintarkan peserta didik. Kiranya masih banyak guru yang belum rata menerima tunjangan dari Pemerintah ,namun jangan jadikan itu sebagai alasan untuk mengabaikan mengajar peserta didik. Ingat ! Jasa guru begitu mulia, mengajar sepenuh hati dan mendidik sepenuh jiwa. 

Semoga guru-guru di negeri ini ini tidak memandang seberapa banyak tunjangan yang bakal diterima tetapi seberapa banyak ilmu yang dapat diberikan kepada peserta didik, sehingga anak-anak di negeri ini menjadi calon pemimpin bangsa yang memiliki kualitas dan kapabilitas diunggulkan, harap Agus.

Mari kita berbenah diri apa yang belum kita kuasai sebagai guru terus belajar dan menambah keterampilan mengajar sesuai era global yang semakin maju pesat ini. Selamat Hari Guru Nasional, 25 november 2016, Semoga Guru-Guru Kita terus bisa berkarya dalam mencerdaskan anak bangsa. Sesuai dengan tema peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2016 ini adalah “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”, pungkas Agus. (Ags/Usm)