0 menit baca 0 %

Goresan kisah seorang alumni MAN 1 Rohil th. 2013

Ringkasan: Rokan Hilir (inmas)- Keterbatasan bukanlah sebuah batasan Mungkin itulah kata yang pas untuk ananda Salmawati, S.Pd.I, Sarjana pendidikan Islam yang menyelesaikan studinya di STAI AR-RIDHO Bagansiapiapi, Rokan Hilir tahun 2017 lalu. Sebelumnya Salmawati, adalah siswa MAN 1 Rokan Hilir yang lulus tah...

Rokan Hilir (inmas)- ā€œKeterbatasan bukanlah sebuah batasanā€

Mungkin itulah kata yang pas untuk ananda Salmawati, S.Pd.I, Sarjana pendidikan Islam yang menyelesaikan studinya di STAI AR-RIDHO Bagansiapiapi, Rokan Hilir tahun 2017 lalu. Sebelumnya Salmawati, adalah siswa MAN 1 Rokan Hilir yang lulus tahun 2013. Artinya sudahĀ  6 tahun berlalu saya pernah menjadi guru bagi Salmawati, tentu bukan waktu yang singkat, saya masih bisa mengingat semangat yang ia miliki, pantang menyerah ditengah keadaan fisik yang tidak sempurna sebagaimana teman lain.

Hal ini diungkapkan Humas MAN 1 Rohil, Bustami, S.Ag usai bercengkeramah dan mendengarkan cerita Rahmawati, S.Pd.I, alumni MAN 1 Rohil 13 tahun yang lalu.

Yah itulah salmawati, ungkapan kekaguman Bustami, seorang gadis yang harus menanggung derita kecacatan dua kaki, sejak berumur 2 tahun. Demam panas yang dideritanya menyebabkan kedua kakinya mengalami pelemahan dan mengecil. Namun siapa sangka, keterbatasan tidak menjadi penghalang baginya untuk terus menuntut ilmu, tanpa ada kata menyerah. ā€œmasih terbayang dimata saya, ketika Salmawati duduk dikursi depan, dengan kursi Rodanya,ā€ ujarnya.

Lanjut Humas, Setiap hari Salma, panggilan akrabnya, diantar seorang kakak laki-lakinya dengan kenderaan roda dua, dan setiap hari juga saya melihat salma mesti dibantu teman sekelasnya naik kursi roda dan menuntunya masuk kelas. ā€œsebuah pemandangan yang mengundang rasa haru tentunya,ā€ ungkap Bustami sambil menghela nafas.

Entah kenapa saya teringat ketika menegurnya untuk menjadi diri sendiri, dan mengurangi ketergantungan dan belas kasihan dari orang lain,Ā  Salma.....! Panggil Bustami, Jadilah diri sendiri, kamu mesti melawan keadaanmu, sehingga kamuĀ  bisa melewatinya dengan senyum.

Hari ini ketika saya menulis sedikit kisah tentang Salmawati, S.Pd.I,Ā  ternyata Salma telah mampu membuktikannya, siapa sangka seorang siswa MAN 1 Rohil yang memiliki keterbatasan fisik, bisa menjadi salah satu tim Olah Raga Bulu Tangkis putri untukĀ  NPC Riau.

Salmawati, S.Pd.I lahir di BagansiapiapiĀ  27 februari 1993, dari keluarga yang sederhana anak dari Alm Ahmat. L dari seorang Ibu Almh.Ā  Saddiah dalam keadaan Normal sebagaimana anak lain. Namun diusianya 2 tahun Salmawati terserang demam panas tinggi, dan inilahĀ  yang menyebabkan putri kecil bapak Ahmat (Alm) terkena polio dua kaki yang mengecil dan lemah, menyebabkan Salma tidak bisa berjalan secara normal, kondisi iniĀ  harus dia jalani bertahun tahun.

Setelah menyelesaikan studinya di MAN 1 Rohil, Salmawati melanjutkan studinya keperguruan tinggi STAI Ar-Ridho Bagansiapiapi,Ā  baginya ilmu itu sangat penting apapun bentuk dan kondisinya, bermodal samangat yang kuat, akhirnya Salma mampu menyelesaikan Studi Kesarjanaannya selama 4 tahun,Ā  dengan berbagai tantangan, selain fisik, kondisi ekonomi keluarga memaksa Salma harus melakukan berbagai usaha.

Salma tidak pernah malu melakukannya, semua itu Salma lakukan untuk menutupi kebutuhan Kuliahnya, mulai dari berdagang keliling dari berjualan Es, pulsa, Mie, Kripik, sampai pada alat Kosmetik, maka dimana ada acara bazar, disitu kita dapat menemukan Salmawati dengan kenderaan roda tiganya.

Untuk memperlancar usaha dan semangat nya yang kuat salmawati harus merombak Kenderaan Sepeda motor roda dua, menjadi roda 3, sampai akhirnya beliau menyelesaikan studi di Ar Ridho tahun 2017 dengan menyandang gelar sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I).

Bustami melanjutkan ceritanya, selesai Wisuda, salmawati berusaha mencari pekerjaan, cita-citanya untuk menjadi Pengawai Kantoran, ternyata tidak semudah yang Salma bayangkan, setelah berusaha kesana kemari, peluang untuknya belum juga ada tempat yang mampu menerimanya bisa jadi karena kondisi fisiknya atau peluang yang belum ada.

Rasa kesal dan kecewa mulai muncul dibenak Salma, ternyata kesarjanaannya tidak mampu menjamin mendapatkan pekerjaan.

Alhamdulillah ditahun 2018 Salma bertemu dengan Kak Dwi Handayani. Ia menawarkan agar Salma mengikuti Program pendidikan keterampilan di BRSPDF Budi Perkasa yang ada di Palembang. Sebuah lembaga pendidikan yang dikhususkan untuk anak yang kurang beruntung, dilembaga ini banyak keterampilan untuk anak anak disabilitas.

Pada Awalnya keluarga tidak mengizinkan, Namun dengan kegigihan Salma meyakinkan pihak keluarga, serta dibantu pegawai balai, Bapak Muji dan Mukni juga dari Dinas Sosial Rokan Hilir Ibu Hera dan Ibu Yuni meyakinkan pihak keluarga, akhirnya Salma sang Sarjana Pendidikan itu pun diijinkan berangkat ke Palembang, hitung hitung mencari pengalaman, begitu pikiran awal yang ada dibenak Salma saat itu.

Maka tanggal 27 juni 2018 Salma pun diantar ibu Hera dan ibu Yuni bersamaĀ  dua orang temannya Jasmanto dan Hayatul jannah ke Pusat keterampilan BRSPDF Budi Perkasa palembang.

Alhamdulillah dipusat keterampilan inilah para penyandang Disabilitas diberi berbagai macam keterampilan, dan Salma sang Sarjana Pendidikan itupun mengikuti berbagai kegiatan, salah satunya adalah olah raga Bulu Tangkis, kebetulan olah raga ini juga menjadi Kehobbian Salma, dan setelah selesai masa pelatihan kini Salma pun terdaftar sebagai salah satu Atlit bulu Tangkis NPC Riau yang sebelumnya Salma ikuti di Balai Diklat Palembang. (Bstm/Nsh)