Gapai Kemandirian Organisasi, Tarbiyah Islamiyah Audiensi dengan Kemenag Riau
Ringkasan:
Pekanbaru (Humas)- Tarbiyah Islamiyah merupakan salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1928. Namun seiring bejalannya waktu khususnya setelah kemerdekaan RI, organisasi mengalami pasang surut. Untuk dapat menciptakan kembali kemandirian Tarbiyah Islamiyah, p...
Pekanbaru (Humas)- Tarbiyah Islamiyah merupakan salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1928. Namun seiring bejalannya waktu khususnya setelah kemerdekaan RI, organisasi mengalami pasang surut. Untuk dapat menciptakan kembali kemandirian Tarbiyah Islamiyah, perwakilan pengurus Organisasi Tarbiyah Islamiyah melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Provinsi Riau, Rabu (14/7).
Pada pertemuan yang berlangsung di Aula Mini Kemenag Riau tersebut, Ketua Tarbiyah Islamiyah Riau, Nasrun Effendi, memaparkan permasalahan yang dihadapi Tarbiyah Islamiyah saat ini. Mulai dari permasalahan ruang gerak yang terbatas dalam mengembangkan syiar Islam karena keterbatasan dana yang ada. Bahkan Tarbiyah Islamiyah, hingga saat ini sama sekali belum memiliki sekretarian yang representatif untuk menjalankan visi dan misi yang ada.
"Terusterang, Tarbiyah Islamiyah saat ini belum dapat bergerak banyak karena keterbatasan sarana dan prasarana. Pasca kemerdekaan Tarbiyah Islamiyah mulai diusik oleh kegiatan politik, namun Tarbiyah Islamiyah tetap mencoba untuk independen meski organisasi ke Islaman lainnya mulai menggabungkan diri dengan parpol. Namun karena adanya permasalahan-permasalahan Tarbiyah Islamiyah sempat pecah jadi dua meski visi dan misi tetap sama. Tapi akhirnya pada tahun 2003 lalu akhirnya dapat disatukan kembali, namun implementasinya hingga saat ini belum terlihat. Untuk itulah, pengurus Tarbiyah Islamiyah yang ada di Riau mencoba untuk bangkit kembali dengan memulai dari awal," ungkap Nasrun menceritakan kembali sedikit sejarah pertumbuhan Tarbiyah Islamiyah di Indonesia pasca kemerdekaan RI.
Menyikapi hal tersebut, Ka Kanwil Kemenag Riau, Drs Asyari Nur SH MM didampingi Kasubag Hukmas dan KUB, Drs H Ahmad Supardi dan Kabid Penamas H Saman S Sos, mencoba memberikan gambaran dan solusi terhadap 12 orang perwakilan organisasi yang hadir agar Tarbiyah Islamiyah dapat berkiprah kembali di masyarakat dalam rangka mengembangan syiar Islam.
"Untuk dapat berkiprah secara total dimasyarakat maka Tarbiyah Islamiyah harus menciptakan kemandirian organisasi dengan mengembangkan binsis kecil kerakyatan atau memanfaatkan kantong-kantong masyarakat untuk membangun sebuah kegiatan, baik berupa pembangunan sarana pendidikan, taman pengajian, tempat penitipan anak dan lain sebagainya. Karena pendidikan saat ini sudah menjadi prosepek yang cukup bagus bagi organsisasi Islam, dimana anggarannya tidak semata-mata dari daerah, tapi secara nasional juga tersedia," terang Asyari Nur.
Menurunya, selama ini Kememang Riau terus memberikan bantuan pendidikan untuk sekolah-sekolah, tidak hanya sekolah dibawah naungan Kemenag, tapi juga untuk sekolah yang dibawah naungan organisasi Islam, seperti Tarbiyah, Nahdatul Ulama (NU) dan beberapa organsasi Islam lainnya.
"Potensi Tarbiyah cukup terbuka khususnya di Kemenag, namun selama ini dana yang kita salurkan dari dana pendidikan Tarbiyah Islamiyah sama sekali belum terlihat. Padahal bantuan pendidikan tahun 2010 cukup banyak yaitu mencapai Rp400 Miliyar," ungkapnya.
Untuk itu, jika Tarbiyah Islamiyah ingin berkiprah dan berperan serta dalam mengembangkan syiar Islam, perlu memiliki sarana pendidikan dan menggelar berbagai kegiatan dengan anggaran yang bisa diajukan di Kemenag Riau setiap tahunnya. "Kemenag tampa organisasi Islam juga tidak dapat berjalam maksimal dalam mengembangkan syiar Islam, untuk itu peran ormas Islam perlu dimaksimalkan, termasuk Tarbiyah Islamiyah," tutup Asyari dan berharap agar Tarbiyah Islamiyah segera memiliki tempat strategis, membuat program dan membenahi atau memperkuat struktur yang telah ada, sehingga mampu menjadi organisasi mandiri untuk masa mendatang. (msd)