0 menit baca 0 %

Gali Potensi Seni dan Budaya Islam, MUI Gelar Seminar dan Simposium

Ringkasan: Riau (Inmas)- Provinsi Riau merupakan baro meter seni dan budaya Islam, namun seiiring berjalannnya waktu hal tersebut mulai terkikis, seperti seni hadrah, gurindam 12, dan lainnya. Untuk itu, perlu upaya berkesinambungan dan bersinergi untuk membangkitkan kembali seni dan budaya Islam di Provinsi R...

Riau (Inmas)- Provinsi Riau merupakan baro meter seni dan budaya Islam, namun seiiring berjalannnya waktu hal tersebut mulai terkikis, seperti seni hadrah, gurindam 12, dan lainnya. Untuk itu, perlu upaya berkesinambungan dan bersinergi untuk membangkitkan kembali seni dan budaya Islam di Provinsi Riau

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi Seni dan Budaya MUI Riau Dr H Mahyudin MA melalui HM Saman S Sos M SI usai memberikan materi tentang Visi dan Misi Komisi Seni dan Budaya Islam pada Seminar dan Simposium Komisi Seni dan Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau, Rabu (8/8/2019) di Hotel Rauda Pekanbaru.

Menurutnya, melalui kegiatan yang mengangkat Tema menggali Potensi Seni dan Budaya Islam akan teridentifikasi dan dilakukan revitalisasi, agar budaya- budaya Islami bisa kembali berkembang di tengah- tengah masyarakat.

“Banyak seni buaya Islam yang yang terkikis saat ini, khususnya seni hadrah merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan umat Islam. Kesenian ini menggunakan syair berbahasa Arab yang bersumber dari kitab Al-Barzanji, sebuah kitab sastra yang terkenal di kalangan umat islam yang menceritakan sifat-sifat Nabi dan keteladanan akhlaknya. Begitu juga dengan Gurindam 12 didalamnya banyak terkandung pesan- pesan moral bagi masyarakat khususnya generasi muda yang sudah tidak dirasakan gaungnya. Padahal orang pencinta seni hidupnya akan lebih indah, karena orang akan menjadi pengikut agama yang baik dan hidup lebih terarah,” ungkapnya dan berharap kegiatan yang digelar MUI tersebut dapat memberikan output positif untuk membangkitkan kembali seni- seni dan budaya Islam.

Ketua panitia penyelenggara, Ir Ajis bin Manaf mengatakan, kegiatan Seminar dan Simposium Komisi Seni dan Budaya Islam tahun 2019 diiukuti oleh 50 orang peserta yang merupakan utusan Kabupaten/ Kota dari penggerak seni Islami, ormas dan mahasiswa yang berkecimpung dalam seni dan budaya Islam.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi seni islami yang ada mulai pupus dan hilang dimasyarakat. Dengan menghadirkan narasumber dari LAM, Dinas Pariwisata, MUI dan penggerak seni akan didapatkan informasi jelas terhadap potensi yang ada dan upaya pelestariannya kedepan,” ucapnya. (mus/ady)