0 menit baca 0 %

Forum Lingkar Pena Riau dan Rumah Zakat Taja Bincang Sastra Islam serta Buka Puasa Bersama

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) - Forum Lingkar Pena (FLP) Riau yang diketuai Alam Terkembang dan Rumah zakat (RZ) Riau lakukan Bincang sastra  dan buka puasa bersama di Aula LPPTQ Kota Pekanbaru, Komplek Masjid Arrahman, Ahad petang (3/6/2018).Pada kegiatan yang dihadiri peserta 40-an orang tersebut dilakukan b...

Pekanbaru (Inmas) - Forum Lingkar Pena (FLP) Riau yang diketuai Alam Terkembang dan Rumah zakat (RZ) Riau lakukan Bincang sastra  dan buka puasa bersama di Aula LPPTQ Kota Pekanbaru, Komplek Masjid Arrahman, Ahad petang (3/6/2018).

Pada kegiatan yang dihadiri peserta 40-an orang tersebut dilakukan beberapa mata acara, di antaranya musikalisasi puisi oleh sastrawan Bambang Karyawan Ys, dkk dan pemaparan tentang kegiatan Rumah Zakat Riau selama ini yang dipresentasikan Ustaz Ridwan serta Bincang sastra bertajuk “Sastra dan Peradaban Islam” yang disampaikan Griven H. Putera dengan moderator Wamdi Jihadi.

Griven H Putera menyampaikan bahwa perkembangan peradaban Islam dari masa ke masa tak lepas dari peran sastra. Hal ini bila dilihat dari berbagai kitab para ulama yang terbit, ungkapnya. “Hampir dalam semua bidang keilmuan, karya sastra utamanya syair digunakan ulama untuk menyampaikan pemikiran mereka tentang disiplin ilmu yang mereka kuasai. Bahkan beberapa ulama malah menyampaikan bahasan ilmu tertentu secara utuh dengan syair yang indah dalam kitab mereka. Hal itu dapat dilihat pada kitab Matan Alfiyah Ibnu Malik dalam bidang Tata Bahasa Arab, Matan Rohabiyyah fi “Ilmi al-Faraidh wa al-Mizan dalam bidang ilmu Faraid serta beberapa kitab lainnya,” ungkap Griven H Putera.

“Yang menjadi inspirator ulama untuk menyajikan ilmu dengan kata-kata indah itu adalah Alquranul Karim  karena dari segi bahasa, Alquran sangat indah apalagi makna dan manfaatnya,” ungkap sastrawan Riau, alumni Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang ini lagi.

Menurut Griven lagi, tradisi para ulama tersebut sampai juga ke nusantara. Para ulama dan cendekiawan Melayu nusantara ini juga menggunakan sastra yang indah dalam mengungkapkan keilmuan dan rasa seninya dalam beberapa karya mereka. Ini dapat dilihat pada beberapa karya Nuruddin Arraniri, Hamzah Fansury, Raja Ali Haji, Syekh Abdurrahman Shiddiq sampai pada buya Hamka dan lain-lain.

“Kenapa para ulama memakai sastra dalam menyajikan buah pikirnya? Karena sastra itu indah dan berguna. Dan tak ada orang yang tak suka pada keindahan, termasuk keindahan kata-kata,” kata sastrawan yang juga pegawai di Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Riau ini.

“Untuk itu, dalam dakwah Islam, jangan abaikan peran sastra,” jelasnya. (ghp)