Pekanbaru (Inmas) ā Diskusi Hitam-Putih Cerpen Indonesia kembali hadir. Sekaligus menjadi pertemuan perdana angkatan prosa FLP Cabang Pekanbaru. Agenda ini digelar pada Ahad, 4 November 2018 di ruang pertemuan Toko dan Penerbit Zanafa, Giant Panam. Diskusi sastra kali ini membahas cerpen-cerpen karya sastrawan Riau, Griven H Putera sasrtawan Riau yang juga ASN pada bidang Penmad Kanwil Kemenag Riau yang pernah dimuat di Koran nasional Republika.Ā
Tampil sebagai penyaji utama Nafiāah al-Maārab, dan Ahmad Ijazi Hasbullah. Keduanya merupakan penulis FLP Wilayah Riau yang memiliki banyak prestasi di bidang sastra. Dalam diskusi itu juga turut hadir Griven H Putra selaku pengarang dari cerpen-cerpen yang menjadi topik diskusi tersebut.
Kedua penyaji dalam penyampaian apresiasinya berpandangan yang sama, bahwa cerpen-cerpen tersebut diangkat dari realita yang dekat dengan manusia hari ini. Sehingga pembaca merasa begitu dekat dengan tema-tema yang diangkat. āCerpen beliau selain disajikan dengan bahasa yang terkesan artistik, juga menampilkan diri dengan ākepolosanā tokoh yang terkesan sederhana, namun memiliki kekayaan makna di sebaliknya,ā ungkap Nafiāah yang juga pengarang novel Suraya.
Ahmad Ijazi Hasbullah (AIH) membahas cerpen āKe Langit Bersama Azan Maghribā yang dimuat di Republika pada Ahad 6 Agustus 2016. Menurut Ahmad Ijazi Hasbullah, judul cerpen ini terasa megah, puitis dan mengandung daya magnet yang kuat sehingga pembaca penasaran. Dan setelah dibaca, cerpennya menarik.
āMenurut saya, kelebihan cerpen ini salah-satunya kemampuan penulisnya meramu konflik yang ringan dan sederhanaĀ menjadi cerita yang bagus dan menarik. Selanjutnya penulis memiliki kekayaan kosa-kata MelayuĀ yang kental, dan menurut saya, diksi-diksinya ini lumayan langka karena baru di cerpen ini saya menemukan diksi-diksi seperti ini, seperti āhencutā dan lain-lain. Penulis juga memiliki kemampuan merangkai kata menjadi kalimat yang tersusun tidak biasa, tidak seperti cerepen-cerpen biasa lazimnya, contoh: Wak Kadir mengayuh becaknya sekuat-dapat. Biasanya sekuat tenaga. Bagi saya itu menarik karena jarang dibuat begitu. Atau hamun-makinya tak berjeda. Penulis juga memiliki kepiawaian meletakkan metafora yang indah di beberapa bagian ceritanya, contoh lelaki berambut salju. Wajah perempuan itu seperti sinar matahari terbit seusai malam dihempas hujan. Itu terasa puitis. Selanjutnya seperti seteduh hujan yang sedang berlabuh, dan lain sebagainya. Itulah beberapa kalimat yang mengandung metafora. Selanjutnya penulis berhasil mewarnai cerita dengan nuansa religi. Contoh: Wak Kadir mulai mendayung becaknya dengan basmalah. Dan banyak lagi,ā ugkap sastrawan Riau yang sering memenangkan lomba tingkat nasional ini.Ā Ā
Lebih lanjut AIH memaparkan, bahwa dari beberapa kelebihan tersebut, cerpen ini masih memiliki kekurangan, yaitu di bagian endingnya masih biasa sehingga eksekusinya masih terasa seperti cerpen-cerpen kebanyakan.
āPesan moral cerpen yang hendak disampaikan di cerpen ini adalah bekerjalah dengan penuh semangat seperti Wak Kadir yang bekerja menarik becak dengan penuh semangat meski usianya sudah renta, ia menjalani takdirnya dengan iklhlas tanpa berkeluh-kesah atas penderitaan hidupnya hingga akhir hayatnya,ā jelas Ijazi.
Dalam diskusi hari itu Griven tak bisa menyembunyikan rasa harunya, karena baru kali ini ada komunitas yang berkenan mengapresiasi karyanya di ruang diskusi tanpa ia minta. āTerima kasih kepada FLP yang telah memberikan apresiasi kepada karya saya. Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya. Saya tidak pernah merencanakan ini. Tapi Allah Swt yang menakdirkan ini semua. Kita boleh berbuat tapi yang Maha Kuasa jua penentuan nasib karya kita,ā katanya.
āBagi saya pengarang adalah penyambung ālidah nabiā. Apapun sesuatu yang saya anggap benar perlu saya tulis. Ketika tulisan itu sudah selesai minimal saya sudah meluahkan uneg-uneg dalam diri saya. Paling tidak tulisan yang sayatulis itu sebagai nasehat buat saya pribadi. Syukur-syukur kalau ada pembaca yang menangkap pesan dari cerpen-cerpen saya,ā imbuhnya.
Hadir pada momen itu sejumlah pengarang Riau seperti Alam Terkembang, Suci Ramadhani, Afrina Putri Kazain, Wirda Hayati, Yuli S Smart, Mulyati Umar, Ardillo Indragita serta ratusan peserta dari FLP (Forum Lingkar Pena Riau).
Menurut Alam Terkembang (Ketua FLP Riau) yang didampingi Ketua FLP Pekanbaru Suci Ramadhani, bahwa di akhir tahun 2018 ini FLP Wilayah Riau melalui Divisi Karya akan mengangkat cerpen-cerpen IndonesiaĀ dalam bahasan diskusi, dan diutamakan cerpen-cerpen karya pengarang Riau. Termasuk juga karya-karya puisi dari penyair Indonesia. Seperti yang telah dibahas sebelumnya yakni karya Rida K Liamsi, Faisal Oddang, Taufik Ikram Jamil, dan lain sebagainya.
Diskusi Hitam-Putih Cerpen Indonesia ini rutin digelar FLP Wilayah Riau melalui divisi karya pada pekan pertama dan ketiga setiap bulannya, dan terbuka untuk umum. (rilisflp/ghp)