Siak (Inmas) - Akhir-akhir ini transformasi paham radikal terorisme yang menyasar kepada kaum pelajar (sekolah) semakin gencar baik melalui media sosial, guru, maupun sistem pembelajaran di dalam dan di luar kelas. Dikutip dari laman damailahindonesiaku.com, Hal ini diperkuat dari hasil Survey Nasional Tahun 2018 yang dilakukan oleh Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Yang mana dari hasil survey tersebut menunjukan bahwa para pelajar (generasi milenial) tidak memiliki bekal pemahaman keagamaan yang kuat, untuk memperoleh pemahaman keagamaan. Mereka lebih mengandalkan pengetahuan dari media sosial, padahal tidak jelas sumber/asal usulnya. Tentunya dirasa perlu adanya pembekalan terhadap para tenaga pendidik atau guru agar terhindar dari paham radikal terorisme tersebut.
Hal tersebut membuat BNPT melalui Subdit Pemberdayaan Masyarakat pada Direktorat Pencegahan di Kedeputian I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Riau bidang Pemberdayaan Agama, Sosial dan Budaya menggelar dialog Integrasi Nilai – nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam menumbuhkan Harmoni Kebangsaan dan Lomba Desain Pembelajaran Inspiratif.
Dialog yang mengambil tema “Harmoni dari Sekolah” diikuti sebanyak 110 orang peserta yang terdiri dari para Kepala Sekolah dan juga guru pendidikan agama mulai tingkat PAUD, TK, SD, MI, SMP. Mts dan sederajat, se-Kabupaten Siak Sri Indrapura, Riau ini digelar di Hotel Grand Mempura, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (3/10/2019).
Ketua FKPT Provinsi Riau, Drs. H. Edie Yusti, MH, dalam sambutannya saat membuka acara tersebut mengatakan bahwa dialog ini digelar dengan tujuan untuk memperkuat kapasitas para guru agama tingkat PAUD, TK, SD, SMP / sederajat dengan memiliki pemahaman Anti Radikal Terorisme beserta cara – cara praktis pencegahan penyebaran paham radikal terorisme melalui proses pembelajaran dan penguatan pada pemahaman terhadap nilai-nilai kebudayaan.
“Sehingga para guru agama tingkat PAUD, TK, SD, SMP / sederajat ini nantinya bisa menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang interaktif dan damai sekaligus memiliki bekal yang cukup dalam pengembangan materi mengajar dalam mencegah paham radikal terorisme di sekolahnya,” ujar Drs. H. Edie Yusti, MH.
Selain itu menurut Edie, acara dialog ini juga sebagai upaya untuk menggerakan kreatifitas para guru yang disasar untuk membuat Rencanan Pelaksanaan Pembelajaran/Lesson Plan yang terbaik, melalui lomba yang diadakan secara serentak oleh FKPT yang ada di 32 provinsi di Indonesia.
Hal ini dikarenakan baik – buruknya pembelajaran ini pada nantinya, tentunya akan sangat ditentukan oleh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau “Lesson Plan” yang telah disiapkan oleh para guru agama itu . “Oleh karena itu, dengan RPP atau Lesson Plan yang baik, maka diharapkan akan menghasilkan suasana pembelajaran yang baik juga, yang pada ahirnya akan menghasilkan siswa – siswa yang baik juga yang tidak memiliki bahkan tidak bersimpati pada paham radikal terorisme,” ujar Edie.
Lebih lanjut menurut Edie, dengan latar belakang yang disebut di atas, maka pada tahun 2019 ini bidang Agama, Sosial, dan Budaya pada FKPT Riau ini akan berfokus pada materi agama yang diajarkan kepada siswa di sekolah dan diintegrasikan dengan penanaman nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
“Ini mengingat kita bahwa dari hasil penelitian yang telah dilakukan Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT di tahun 2017 dan 2018 juga menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya yang terdapat di dalam kearifan lokal memiliki daya tangkal yang signifikan terhadap radikalisme,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut dirinya juga meminta kepada para masyarakat dan para guru yang hadir untuk tidak menstigmakan agama tertentu dalam berbagai kasus terorisme yang pernah terjadi di berbagai penjuru dunia. (Hd)