Kampar ( Kemenag )--- Suasana MAN 4 Kampar Plus Keterampilan berubah menjadi mini studio film pada Kamis, 20 November 2025. Hari madrasah menggelar Festival Film Pendek sebagai puncak dari rangkaian Gelar Karya, Bazar & Festival Film bertema “Kearifan Lokal”. Penayangan film dimajukan sehari dari jadwal semula, namun antusias siswa justru semakin meningkat.
Sejak pukul 07.30 WIB, empat ruang kelas ditata layaknya bioskop modern. Masing-masing diberi nama Studio I, II, III, dan IV, lengkap dengan jadwal tayang dan tiket bertema sinematografi. Para siswa, guru, dan tamu undangan memadati setiap studio untuk menyaksikan karya film pendek hasil projek kreatif kelas XII yang berhasil mengangkat tradisi Kampar ke layar sinema.
Pada festival ini, empat film unggulan dari kelas XII diputar serentak di setiap studio:
“Satu Adat Dua Hati” — XII.D (Studio I)
“Langkah Kecil Menuju Dewasa” — XII.A (Studio II)
“Warisan Suci dari Tradisi Bumi Kampar” — XII.B (Studio III)
“Balimau Kasai Jelang Ramadhan” — XII.C (Studio IV)
Setiap film memuat kekayaan narasi dan riset budaya yang kuat—mulai dari adat pernikahan, proses pendewasaan remaja Melayu, nilai keluarga lintas generasi, hingga ritual Balimau Kasai yang tetap lestari hingga kini. Para siswa menunjukkan kemampuan teknis dan artistik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong kesadaran budaya.
Kepala MAN 4 Kampar Plus Keterampilan, Arjuniwati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh siswa dan tim kreatif.
“Kegiatan yang kita laksanakan pada 20 November 2025 ini membuktikan bahwa siswa MAN 4 Kampar mampu berkarya secara luar biasa. Film-film ini bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk kepedulian mereka dalam merawat identitas budaya Kampar melalui media modern,” ujarnya
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Sri Darmayanti, S.Si., menegaskan bahwa festival film ini merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
“Mulai dari menulis naskah, berlatih akting, mengambil gambar, mengedit, mengatur pencahayaan, hingga mendesain poster dan tiket—semua dilakukan siswa secara langsung. Ini pembelajaran nyata yang membentuk karakter, kreativitas, dan kemampuan kolaboratif mereka,” jelasnya.
Tiga koordinator pelaksana—Desti Wardiana, S.Sos (kelas X), Ike Nurhidayah Juditanti, S.Pd (kelas XI), dan Ade Nugraheni, S.Pd (kelas XII)—turut mengungkapkan rasa bangga.
“Hasil kerja keras mereka hari ini terlihat jelas. Kekompakan, kreativitas, dan keseriusan seluruh kelas XII patut diapresiasi. Mereka telah menempatkan sinematografi sebagai medium edukatif yang bernilai,” terang mereka
Festival Film Pendek MAN 4 Kampar tahun 2025 tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga membuktikan bahwa sinema mampu menjadi sarana efektif untuk: memperkuat karakter pelajar, melestarikan tradisi dan nilai lokal,, serta menanamkan kebanggaan terhadap identitas Kampar.
Dengan kreativitas pelajar yang semakin berkembang, MAN 4 Kampar kembali menunjukkan diri sebagai madrasah yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya.
(kj/fatmi)