Pekanbaru (Inmas)- Walaupun Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Sosial bekerjasama dengan Kementerian Agama, Kesbangpol, MUI, TNI dan Polda Riau minggu pertama bulan Februari 2016 telah melakukan pembinaan selama sepekan kepada eks Gafatar, namun belum bisa menyadarkan secara penuh untuk kembali ke ajaran agama Islam yang sebenarnya.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Riau, Drs Ardi Basuki M Si, di Ruang Kakanwil Kemenag Riau usai menghadiri Koordinasi Antisipasi Potensi Konflik Kerukunan Umat Beragama Provinsi Riau beberapa waktu lalu.
Menurutnya, isu isu aktual tentang perkembangan ormas di Riau, terutama yang perlu waspadai, seperti Gafatar. “Ternyata gafatar yang kita bina, sampai sekarang mereka masih menyebut dirinya Islam tapi meraka sendiri membaca dua kalimat syahadat tidak mau, kita sudah sediakan tempat solat namun mereka tidak mengisinya dan mereka juga tidak solat dan mereka tetap bersikukuh meraka tidak sesat,” ujar Ardi.
“Justru mereka merasa terganggu karena mereka mengakui mengikuti program kedaulatan pangan, disana mereka disediakan lahan pertanian,” tambanya.
Itu artinya, pihak pemerintah belum bisa menyadarkan secara penuh. Untuk itu perlu dilakukan pembinaan secara berkelanjutan, karena kemungkinan mereka terhipnotis atau sudah dicuci otaknya, sehingga cara berpikirnya sudah berubah. Tetap menjalankan ibadah, tapi prilaku mereka tetap dengan cara mereka.
“Untuk data konkrit berapa pengikuti Gafatar yang ada di Riau, tudak diketahui secara pasti karena mereka pergi diam- diam. Kalau yang pulang dari Kalimantan ke Jakarta sebanyak 145 orang, yang pulang ke Riau 50 orang,” ujarnya saat ditanya tentang jumlah pengikut Gafatar di Riau. (mus)