Siak (Inmas) – Dalam sambutannya ketika membuka MAN Siak Language Competition (MSLC 2) tahun 2018 yang mengangkat tema “Bahasa Jiwa Bangsa”. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor kementerian Agama Kabupaten Siak Drs. H. Nursya dalam sambutannya menjelaskan bahwa bahasa suatu bangsa mencerminkan jiwa pemakainya. “Sebenarnya, bahasa Indonesia saat ini merupakan campuran dari tiga peradaban besar dunia, India, Arab, dan Eropa, penggunaan bahasa tersebut lebih mencerminkan semangat dari kebesaran tiga tamadun tersebut. Menjadi warga Indonesia khususnya kita di negeri Melayu yang beragama dengan baik tidak dengan sendirinya harus selalu mengutamakan serapan bahasa Arab dalam percakapan dan penulisan dengan cara sembarangan” tuturnya.
“Demikian juga, meski kita ingin maju, seperti disarankan Sutan Takdir Alisjahbana yang selalu melihat ke Barat, tak berarti menggunakan kosakata serapan Inggris serampangan. Demikian pula jati diri sejati tidak harus menggagahkan diri dengan serapan bahasa Sanskrit sebagai sumber utama bahasa Melayu. Sejauh mungkin bahasa Melayu sebagai sumber bahasa Indonesia menyediakan perbendaharaan kata yang cukup, ditambah dengan bahasa daerah yang lain. Untuk itu, seseorang tak perlu mengatakan pintu exit kepada orang yang ingin keluar dari sebuah gedung atau bangunan”, pesan Nursya yang pernah menjadi guru Sejarah itu.
Terakhir, beliau mengingatkan bahwa sesuai dengan tema “Bahasa Jiwa Bangsa” sesungguhnya bermaksud bahwa bahasa sebagai milik mutlak sesuatu bangsa yang menjadi identiti kebangsaan. Sesungguhnya bahasa itu menunjukkan jati diri sesuatu bangsa. Bahasa melambangkan bagaimana sesuatu bangsa itu menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, perpaduan untuk saling memahami dan bahasa itu digunakan sebagai bahasa ilmu sesuatu bangsa. “Kekuatan bahasa itu juga menunjukkan kuatnya sesuatu bangsa”, ujarnya mengakhiri arahan sebelum membuka secara resmi MSLC Ke II Tahun 2018 di MAN 1 Siak. (Hd)