Siak
(Inmas) - Dalam sambutannya saat membuka kegiatan pembinaan Penyuluh Agama Non
PNS Kankemenag Siak, Kepala Kankemenag Siak, Drs. H. Muharom mengatakan
bahwa tugas Penyuluh Agama Islam saat ini dihadapkan pada suatu
kondisi masyarakat yang berubah dengan cepat yang mengarah pada masyarakat
fungsional, masyarakat teknologis, masyarakan saintifik dan masyarakat terbuka
yang didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi dan sumber informasi.
Dengan
demikian setiap penyuluh agama Islam mesti secara terus menerus meningkatkan
pengetahuan, wawasan dan pengembangan diri serta tekhnik dalam penyampaian ke
masyarakat dengan apa yang disebut dengan istilah Fiqhul Waqi’ (Fiqih Realitas), sehingga ada korelasi faktual
terhadap kondisi dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, Drs. H. Muharom juga menyampaikan
bahwa tantangan para penyuluh agama Islam tidaklah ringan.
“Sebagai
langkah awal, tentunya akan melalui proses yang diawali dengan pembinaan diri
pribadi dan keluarga. Setelah itu baru meningkat pada pembinaan masyarakat.
Oleh karena itu, penyuluh agama Islam harus bisa menjadi suri teladan yang
baik di masyarakat”, pesannya dihadapan 112 orang peserta yang mengikuti
kegiatan tersebut.
Selanjutnya
Muharom juga mengingatkan kepada para penyuluh disamping memberikan
kajian-kajian ilmu dan pemahaman agama, untuk selalu memberikan pembinaan
terhadap pelaksanaan ibadah yang sifatnya praktis dan fleksibel seperti
melaksanakan ibadah sholat jamak dan qasar ketika sedang melakukan perjalanan
dan kegiatan Magrib mengaji. “Jangan membingungkan umat dan membuat yang
nyeleneh-nyeleneh seperti heboh baru-baru ini ada pembacaan Pancasila saat
sa’i-lah, ada yang baca sya’ir cinta Negara saat sa’I, ini semua mesti
diperhatikan”, ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Muharom juga menyampaikan agar selalu
waspada terhadap berita dan informasi bohong (berita hoax) yang
sering tersebar malalui media sosial. Berita hoax bisa merusak nama
baik orang lain, menimbulkan perselisihan, pertengkaran bahkan bisa
menimbulkan perpecahan dikalangan ummat. “Dalam menyikapi berita hoax,
hendaknya kita berhati-hati dan bijak untuk menyikapinya. Kita harus tabayyun dengan
mengecek terlebih dahulu kebenarannya.” Terang Muharom. Dengan demikian,
ia mengharapkan para penyuluh agama Islam agar lebih intensif berkomunikasi
dengan stakeholder untuk meningkatkan kualitas penyuluhan sebagai upaya
mengatasi permasalahan yang dialami oleh ummat. (Hd)