0 menit baca 0 %

Drs. H. Muharom: Pahami, Hayati dan Amalkan Agama untuk Menjiwai Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Ringkasan: Siak (Inmas) - Agama mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dan strategis, utamanya sebagai landasan spiritual, moral dan etika dalam hidup dan kehidupan umat manusia. Hal tersebut dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag Kabupaten Siak Sri Indrapura, Riau, Drs.

Siak (Inmas) - Agama mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dan strategis, utamanya sebagai landasan spiritual, moral dan etika dalam hidup dan kehidupan umat manusia. Hal tersebut dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag Kabupaten Siak Sri Indrapura, Riau, Drs. H. Muharom, saat menjadi narasumber di hadapan para Kepala Sekolah dan guru agama se-Kabupaten Siak, pada acaa dialog Integrasi Nilai–nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam menumbuhkan Harmoni Kebangsaan dan Lomba Desain Pembelajaran Inspiratif.

“Agama sebagai sistem nilai seharusnya dipahami, dihayati dan diamalkan oleh seluruh pemeluknya dalam tatanan kehidupan setiap individu, keluarga dan masyarakat serta menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini semua sebagai upaya menjaga toleransi antar umat beragama agar masyarakat kita bisa rukun, bisa menerima perbedaan,” ujar Drs. H Muharrom dalam acara dialog yang digelar di Hotel Grand Mempura, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (3/10/2019).

Lebih lanjut dijelaskannya sebagaimana dikutip dari laman damailahindonesiaku.com, selama ini banyak sekali orang yang mudah terhasut dengan adanya ujaran kebencinan serta dengan mudahnya terpapar paham radikal terorisme. Menurutnya, ada tiga konsep kontra narasi sebagai upaya untuk menanggulangi penyebaran paham radikal terorisme yang ada di tengah-tengah masyarakat. Pertama, dengan menjaga kerukunan antar sesame umat manusia, apapun suku, ras maupun agamanya.

“Narasi menjaga kerukunan ini harus lebih edukatif terhadap masyarakat. Karena hal tersebut merupakan nilai kultural berupa “tepo sliro” yang sudah berjalan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Bapak ibu guru ini harus bisa membangun upaya-upaya damai di lingkungan sekolahnya dengan mengajarkan anak didiknya untuk dapat menerima segala macam perbedaan,” ujanrya.

Yang kedua, yakni dengan mengedepankan dialog antar pihak. Dimana narasi yang dibangun oleh pihak yang mendukung gerakan terorisme mengutamakan arus utama berupa parsialitas sebuah informasi. Hal tersebut tentunya sangat menyesatkan masyarakat, apalagi di dunia maya yang sangat amat bebas.

“Kontra-narasi ini bisa berupa peningkatan dialog antarpihak. Selain melakukan pendekatan personal, tentunya kita juga harus bisa melihat perkembangan gerakan mereka. Tidak hanya di lingkungan sekolah, di lingkungan masyarakat guru juga harus bisa menjelakan dan berdialog dengan masyarakat mengenai bagaimana menjaga kerukunan dan menyampaikan hal-hal yang menyejukkan di masyarakat agar masyarakat ini tidak mudah terbelah,” ujanrya.

Sedangkan yang ketiga yakni dengan melakukan investasi gerakan kontra-narasi di lapisan akar rumput. Apalagi bangsa Indonesia selama ini dikenal memiliki segudang cara untuk melakukan adaptasi terhadap perkembangan tanpa menghilangkan nilai budaya setempat. “Contohnya seperti menyemai tradisi penyebaran Wali Songo menjadi contoh nyata yang berdakwah harus mempertimbangkan kondisi masyarakat setempat. Jadi di sana tidak ada pemaksaan,” ujanrya.

Menurutnya kegiatan kontra-narasi harus dilakukan secara simultan dan efektif, serta dilakukan oleh segenap pemerintah dan masyarakat. “Tidak ada istilah mengkambinghitamkan polisi sebagai badan yang bertanggung jawab secara struktural. Masyarakat perlu dilibatkan sebagaimana amanat UUD 1945, untuk melibatkan warga negara di setiap kegiatan negara,” ujanrya.

Untuk itulah menurutnya dalam upaya penanggulangan terorisme tentunya harus dilakukan kerjasama antar semua pihak. Sosialisasi dan aksi kepada masyarakat untuk menolak sikap radikal dengan melibatkan seluruh kelompok agama yang ada melalui penyuluh agama tentunya akan memberi penerangan kepada masyarakat bahwa radikalisme dan terorisme adalah bentuk pelecehan terhadap agama dan kemanusiaan.

“Selain itu tentunya dengan menumbuhkan karakter keagamaan yang moderat sesuai kaidah agama dan memahami dinamika kehidupan ini secara terbuka dengan menerima pluralitas. Selain itu juga harus ada upaya untuk mengurangi dan menghapus kesenjangan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan dalam skala luas,” katanya.

Selain itu menurutnya perlu adanya memberdayakan budaya lokal sebagai basis keunggulan pencegahan dan penangkalan penyebaran paham radikal terorisme. Apalagi Indonesia merupakan negara yang mempunyai keaneka ragaman budaya dan adat istiadat. “Keanekaragaman inilah yang telah membesarkan Indonesia, menjadi negara berkembang hingga saat ini. kekayaan budaya ini, juga terbukti mampu menjadi filter, atas masuknya berbagai macam pengaruh buruk. Adat istiadat telah merekatkan hubungan antar manusia. Adat istiadat juga dapat diandalkan, untuk menjaga keharmonisan masyarakat dan menjauhi konflik,” ujarnya mengakhiri.

Seperti diketahui, dialog ini digelar Subdit Pemberdayaan Masyarakat pada Direktorat Pencegahan di Kedeputian I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT bekerjasama dengan bidang Pemberdayaan Agama, Sosial dan Budaya, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Riau. Acara yang mengambil tema “Harmoni dari Sekolah” ini diikuti sebanyak 110 orang peserta yang terdiri dari para Kepala Sekolah dan juga guru pendidikan agama mulai tingkat PAUD, TK, SD, MI, SMP. Mts dan sederajat, se-Kabupaten Siak Sri Indrapura. (Hd)