Riau (Inmas) – Keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tidak lepas juga dari peran tenaga kesehatan. Untuk memperoleh Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang lebih siap dalam bertugas di kloter. Berbagai pelatihan dan pembinaan telah diterima petugas TKHI jelang diterbangkan ke tanah suci. Hal itu tak lain untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah calon haji.
Termasuk jemaah Embarkasi Haji Antara Riau yang diterbangkan melalui Bandara Hang Nadim Batam Kepri, tergabung dalam 12 kloter penuh dan 1 kloter gabungan. Terdapat 3 orang TKHI pada masing masing kloter.
Mereka sengaja direkrut Kemenag untuk membantu melayani jemaah haji. Petugasnya pun ada laki laki dan ada perempuan. Humas mencoba mengangkat pengalaman salah satu dokter TKHI jemaah yang cukup renyah untuk disimak.
Kali ini saya mengangkat pengalaman seorang TKHI dari kloter BTH 08. Perempuan berusia 44 tahun ini merupakan salah satu dokter yang inovatif dalam melayani jemaah.
Bagaimana tidak kelincahan, kegesitan dan keramahannya melayani jemaah menyisakan kisah kisah lucu menarik yang tentu saja menjadi memori indah untuk dikenang dan dibawa pulang ke tanah air.
Dokter humoris ini mengatakan kunjungan rawat jalan jemaah kloter BTH 8 mencapai 30-40 jemaah dalam satu hari. “Kebanyakan adalah kunjungan ulang dan kontol TD (tekanan darah) dan penyakit gulanya” jelas Dr Pasniwati kepada humas, Selasa (30/07).
Pasniwati menyebut rata rata keluhan jemaah adalah Hipertensi dan batuk. Hanya saja perlu disyukuri kontrol mereka keposko kesehatan sangat bagus, sehingga saat ini presentasi batuk juga sudah turun.
Ia mengungkapkan tercatat jemaah yang menggunakan kursi roda sampai saat ini sebanyak 11 orang. Sedangkan yang menggunakan tongkat ada 3 orang jemaah. Bahkan untuk jemaah yang tergolong Risti mencapai 76,8 %.
Ia mengaku dikenal cerewet oleh jemaah. Beruntungnya jemaah lansia kakek dan nenek senang dicerewetin saya, sebutnya melanjutkan cerita
Ia menilai secara umum, jemaahnya sangat peduli dengan kesehatan dan memeriksakan penyakitnya.
“Mereka rata rata sangat penurut dengan apa yang disampaikan dokter dan tim medis lainnya”, ungkap dokter murah senyum ini. “Jemaah kloter BTH 08 memang keren”, katanya diiringi tawa kecil.
Tak jarang cerita dan kejadian ala sinetron muncul pada sejumlah jemaah, ungkapnya melanjutkan cerita.
”Saya kalau visitasi suka video call sama keluarga jemaah yang kebetulan tidak punya android, mereka senang dan tampak bahagia setiap kali saya lakukan itu”, katanya.
Akhirnya pecah tangis dan haru yang berujung tidak jadi berobat, lantaran jemaah mengaku sudah sembuh sambil mengusap air mata, katanya.
Pasniwati meyakini jemaah yang mudah mengalami penurunan daya tubuh terlebih lagi lansia, salah satu penyebab nya karena kangen keluarga, ujar dokter yang akrab disapa dokter Wati ini.
Kejadian berbeda yang tak kalah lucu, juga pernah dialaminya selama bertugas sebagai TKHI kloter. Pasniwati mengaku punya jemaah yang tidak bisa menggunakan shower, datang ke posko dengan kulit yang sangat kering.
Lalu Ia mengajak jemaah ke kamar mandi untuk mempraktekkan cara menggunakan shower. Lalu Ia membantu jemaah mandi , sembari mengusap air yang diakui panas oleh jemaah. “Disinilah, saya senang melakukan visitasi”terangnya.
Ketika disinggung jumlah jemaah yang dipastikan kuat untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji di puncak haji Armuzna. Pasniwati memperkirakan sekitar 30 persen jemaah akan dibadalkan saat jumarot.
Hal itu dikarenakan perjalanan yang cukup jauh sementara penyakit jemaah belum tentu mengizinkan untuk beraktivitas ibadah yang cukup berat.
“Alhamdulillah hingga pagi tadi jemaah lansia saya pada happy semua, ini ditandai dengan stamina yang baik dan semangat mereka” ungkapnya.
Pasniwati selalu wanti wanti kepada jemaah untuk selalu berfikiran positif dan murah senyum. Karena Ia yakin betul salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah menanamkan pikiran positif dan murah senyum.
Tak sampai disitu, untuk selalu membangkitkan semangat jemaah, Pasniwati mengadakan perlombaan kamar terbersih antara sesama jemaah. “Buat seru seruan saja bagi jemaah" imbuhnya.
Bahkan Ia berhasil membuat jemaah yang perokok berhenti dengan kebiasaan buruknya sebagai perokok selama di tanah suci. “Baru 1 orang yang benar benar berhenti, Alhamdulillah sekali”, ucapnya bersyukur.
Pasniwati mengakui, ia sering memberikan sugesti kepada jemaah yang hobi merokok tersebut. Jemaah atas nama Amiruddin asal Kampar ini bisa menuruti arahannya.
Jemaah berusia 71 tahun itu bisa mengikuti arahan dokter dengan mudah. Ia pun menemani dan mencoba berbincang bincang dengan hati, sebut dr Wati.
“Saya sugesti, lalu tatap mata jemaah sembari berbicara sungguh sungguh menyuruh jemaah berdoa”, ujarnya sembari tertawa kecil. Alhasil ia pun mengabari kabar baik itu kepada sanak keluarga dikampung jemaah asal Kampar tersebut.
Inisiatif lain yang dilakukannya adalah membawa alat message infra red untuk jemaah. Menurutnya alat itu berguna sekali untuk memijit saat badan pegal dan mengurangi bengkak selepas berjalan jauh.
Sehingga tidak heran, bila Ia mengaku secara keseluruhan keadaan jemaah sangat baik. Ia menuturkan tidak ada jemaah kloter BTH 08, yang dirawat hingga hari ini.
Itu semua karena tim TKHI solid dalam menjalani tugas dan melakukan visitasi setiap hari sekaligus memperketat visitasi jemaah Risti. Didampingi dua perawat yang selalu siap membantunya Meria Sodikin Dasuki dan Rinaldi Abdul Ghani.
Wati meyakini bahwa semua petugas kloter yang sudah diberikan amanah untuk melayani jemaah, pasti memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah sesuai dengan Tusi dan inovasi mereka masing masing.(vera)