0 menit baca 0 %

Dr Hajar Hasan: Pentingnya Hisab Rukyat untuk Penetapan Awal Ramadhan dan Penyusunan Imsakiyah 1441 H

Ringkasan: Riau (Inmas) - Ilmu falak merupakan cabang ilmu yang langka dikuasai umat islam saat ini. Padahal, ilmu yang objek kajiannya antara matahari dan bulan ini sangat menarik sekaligus menjadi wasilah dalam mengatur waktu beribadah, seperti shalat, penentuan awal puasa, imsakiyah, hari raya, arah kiblat,...

Riau (Inmas) - Ilmu falak merupakan cabang ilmu yang langka dikuasai umat islam saat ini. Padahal, ilmu yang objek kajiannya antara matahari dan bulan ini sangat menarik sekaligus menjadi wasilah dalam mengatur waktu beribadah, seperti shalat, penentuan awal puasa, imsakiyah, hari raya, arah kiblat,  dan lainnya.

“Perlu selalu ada pencerahan pencerahan di provinsi Riau perihal ilmu Falak ini, kalau tidak, bisa hilang ilmu ini.  karena sulit ilmu ini dipelajari, karena rumus-rumus matematiknya.” Demikian disampaikan Dr Hajar Hasan mengawali materinya pada Bimtek Hisab Rukyat di Hotel Drego, Rabu (11/03) malam.

Menurutnya Bimtek Falakiyah perlu terus diselenggarakan. “Minimal dua kali setahun diadakan pelatihan ke Kabupaten/kota,” tuturnya.

Ia menilai bimtek Falakiyah merupakan sebuah sarana sekaligus upaya dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Kementerian Agama.Terutama dalam melakukan perhitungan penentuan awal bulan qomariyah, waktu shalat, arah kiblat, maupun gerhana bulan.

 Lebih lanjut Ketua Syuriah NU mengungkapkan pihaknya ingin terus mengoptimalkan pelatihan hisab rukyat baik itu terhadap SDM Kemenag maupun mahasiswa.

Ia berharap dari kegiatan bimtek tersebut dapat menemukan titik temu pemikiran tentang falak serta dapat mewujudkan kenyamanan masyarakat dalam beribadah termasuk kepercayaan mereka pada ilmu Falak.

Doktor bidang Falak lulusan UIN Suska Riau ini menyebut yang sangat sentral adalah berkaitan dengan puasa, jadwal imsakiyah. “Pada malam ini kita akan membahas dan menetapkan imsakiyah itu,  hanya saja belum bisa disusun kapan mulai puasa karena pada malam ini kita tak menghitung.” Sebutnya pada materi yang dimulai pukul 20.10 malam itu.

Sebagai gambaran awal untuk ramadhan ijitima'nya terjadi hari Kamis, tanggal 23  Mei jam 00. “Diperkirakan tinggi hilal 3 derajat lebih. Biasanya 3 derajat, sudah nampak hilal dengan alat.” Jelasnya. 

Ia menyebut untuk Riau sendiri memang sulit dalam melihat bulan. Riau akan bisa nampak jika cuaca dalam keadaan bersih, namun faktanya dilapangan yang seringnya mendung. “Jadi jarang nampak,” ucapnya.

Kalau cuaca cerah, 5 derajat di Riau sudah bisa dilihat. “Jadi bisa juga untuk penentuan bulan syawal. Begitu pula untuk  bisa menghisab 1 Zulhijjah. Ijtima terjadi pada hari Selasa tanggal 21 Juni pukul 00.35 28 detik.” Jelasnya lagi.

“Dengan demikian awal Ramadhan jatuh pada Jumat 24 April 2020. Sedangkan  Syawal jatuh pada 24 Mei 2020. Kemudian untuk 1 Zulhijjah jatuh pada Rabu 22 Juni 2020. Kalau hari raya tinggal nambah 10 hari.” Rincinya lagi.

Kendati demikian, menurutnya penetapan awal bulan ini tidak bisa di fatwakan oleh BHR Pekanbaru Provinsi Riau.

“Kita hanya melakukan perhitungan. Hasil perhitungan disampaikan ke Jakarta beserta jadwal imsakiyah. Yang berwenang tetaplah Kemenag RI pusat.” Terang Hajar Hasan.

Itu sebabnya pada tanggal 29 Ramadhan dilaksanakan sidang isbat, dengan mengumpulkan para ahli, pakar-pakar isbat.

Ia menegaskan bagaimanapun ada metoda hisab dan rukyah, BHR mengambil jalan tengah, lalu BHR melakukan hisab, dan menetapkan  awal bulan tapi hisabnya bukan menetapkan, namun hanya untuk melihat berapa tinggi hilal dan dimana posisi hilal.

“Jadi BHR tidak berwenang menetapkan, setelah melakukan observasi.” Tukasnya.

Disisi lain Hajar Hasan mengaku amat menyayangkan masih saja ditemui kelompok-kelompok kecil di sejumlah tempat yang selalu lebih dulu atau kemudian dalam menunaikan ibadah puasa. 

“Ada memang  segelintir  budaya yang dipakainya dan diyakininya, jadi mereka tidak berpegang pada hisab rukyat.” Sebutnya.

Ada yg berpegang pokoknya bulan ramadhan 30, ada yang tidak, sambungnya.Doktor keempat lulusan UIN Suska mengaku pernah melakukan penelitian sekelompok masyarakat yang tidak mengikuti ketentuan pemerintah.

“Sungguh bermacam ragam di masyarakat, padahal seyogyanya paling pas itu ikut pemerintah, toh dulunya keputusannya pada nabi sebagai penguasa.” Jelasnya.

“Walaupun kita berusaha merukyah menghisab akan tetapi keputusannya berada di pemerintah.” Tegasnya.

Mudah-mudahan Kementerian Agama bisa terus hadir membantu menyelesaikan persoalan umat mengenai perbedaan-perbedaan,” harapnya mengakhiri materi.

Lebih dari itu Hajar Hasan mengharapkan kegiatan kegiatan  bimtek ini menjadi fasilitator atau penyambung informasi dalam meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan profesionalisme, aparatur Kemenag dalam ilmu Falak, tandasnya.(vera)