0 menit baca 0 %

Dr. H. Ridwan Hasbi, Lc., MA Isi Ceramah Pelepasan Keberangkatan JCH Siak 2017

Ringkasan: Siak (Inmas) Acara pelepasan 252 orang Jema ah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Siak di Masjid Agung Sultan Syarief Hasyim Komplek Islamic Center Siak diisi ceramah agama oleh Dr. H. Ridwan Hasbi, Lc., MA asal Kota Pekanbaru, Selasa (25/07/17). Dalam ceramahnya , Dosen Fakultas Ushuluddin dari UIN Su...

Siak (Inmas) – Acara pelepasan 252 orang Jema’ah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Siak di Masjid Agung Sultan Syarief Hasyim Komplek Islamic Center Siak diisi ceramah agama oleh Dr. H. Ridwan Hasbi, Lc., MA asal Kota Pekanbaru, Selasa (25/07/17). Dalam ceramahnya , Dosen Fakultas Ushuluddin dari UIN Suska Riau ini ini menjelaskan bahwa bagi yang mampu, umat Islam wajib untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima itu yaitu ibadah haji di Mekkah Al Mukaromah.

Beliau juga menjelaskan sesungguhnya ibadah haji sebagai puncak segala ibadah yang hanya dapat dilaksanakan orang-orang yang mampu dan mau, dan ini merupakan kancah pelatihan dalam menghadapi hari akhir. Rukun Islam dan Rukun Iman yang sudah sehari-hari diterapkan akan menjadi pegangan saat haji dan akan uji pemahamannya tentang Islam dan Iman tersebut pada musim haji nanti.

Saat berhaji seorang muslim di uji keyakinannya akan ke-esaan-Nya, bahwa hidup, mati, kedudukan, derajat, dan jodoh semata-mata Allah SWT yang menentukan. Bahwa keberadaan seseorang di Baitullah saat haji adalah semata-mata karena terpanggil untuk menjadi tamu Allah, baik orang kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, dimana pun ia tinggal dan bagaimanapun kondisi fisiknya sempurna ataupun cacat. Disanalah kesabaran, ketawakalan, kepasrahan diuji. Kalau orang yang meninggal dikatakan berpulang ke Rahmatullah, ibadah haji sebenarnya adalah satu-satunya kesempatan di dunia ini untuk pulang ke Baitullah.

Saat beribadah haji seorang muslim diberi kesempatan membayangkan seandainya ia meninggal kelak bagaimana situasinya dan apa yang perlu dijadikan bekal untuk di akhirat. Saat sebelum berangkat ia sudah harus dapat meninggalkan wasiat dan berusaha melepas dirinya dari belenggu materi yang ada dalam dalam kehidupannya. Saat berpakaian Ihram, di ibaratkan sebagai kain kafan yang dikenakannya saat saat menghadap Illahi. Tak terlihat lagi orang kaya atau miskin, berpangkat atau tidak. Saat Tawaf dan Sai akan terasa bahwa sesungguhnya ia hanya setitik pasir diantara jutaan titik-titik yang lain.

Gerakannya tidak atas kemauannya, tapi bergerak karena gerakan orang-orang di sekelilingnya. Ketika di Padang Arafah dapat di bayangkan kala di Padang Masyar kelat saat seluruh manusia dikumpulkan untuk ditimbang amal baik dan perbuatan buruk serta dosa-dosanya. Saat berhaji seseorang dapat merasakan betapa ilmu pengetahuan dibutuhkan, tidak saja untuk hidup tapi juga untuk mati. Tanpa ilmu pengetahuan dan persiapan yang memadai, menunaikan ibadah haji akan menjadi beban yang berat. Seperti juga halnya tanpa ilmu pengetahuan dan persiapan menyambut ajal akan menjadi sesuatu yang berat dan menakutkan.

Terakhir, beliau berpesan agar para JCH untuk memantapkan kualitas rukun yang empat sebelum nanti menunaikan rukun yang ke lima dalam Agama Islam tersebut, dan ini semua harus dimulai dari sekarang, yakni sebelum keberangkatan, jangan berharap akan berubah sesudah sampai di sana, tetapi mulailah perubahan itu dimulai dari sekarang. (Hd)