Riau (Inmas) – Prof
Nizar selaku Dirjen PHU Kementerian Agama,memberikan kata sambutan dalam acara Rakornis
Embarkasi haji Antara dengan temaPenetapan Asrama Haji Riau menjadi Embarkasi
Antara 2019
Atas nama menteri agama yang mewakili penyerahan SK penetapan EHA kepada Gubernur Riau, Ia Mengucapkan selamat kepada jajaran Pemprov Riau yang telah mendapatkan SK penetapan Embarkasi Antara untuk tahun 2019 dan seterusnya.
“Sebagaimana yang sudah disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Riau, sebenarnya Kementerian agama selalu mendorong bapak gubernur kalau bisa meloncat, meloncatlah untuk masuk embarkasi penuh, tapi ada persyaratan bisa dipenuhi di masa depan agar jauh lebih besar dari pada sekedar Embarkasi antara”, ucapnya.
Ia menambahkan jika mengacu pada embarkasi lombok, jamaahnya sedikit tapi sudah punya embarkasi penuh.
“Sementara Riau ini Provinsi tapi embarkasinya kenapa masih antara, maka Saya mohon Bagaimana caranya pak gubernur agar kita bisa berkoordinasi meningkatkan embarkasi asrama haji menjadi penuh dalam konteks ini”, harapnya.
Nizar membandingkan dengan di Lampung yang asramanya sudah bagus tapi bandaranya kurang memenuhi syarat. Sebab pesawat berbadan lebar belum bisa landing di Lampung.
Sebaliknya menurutnya, Riau bandaranya sudah memenuhi syarat, tinggal syarat asrama haji yang belum penuh.
“Kalau ingin dibiayai dari DIPA Kemenag, salah satu syaratnya memiliki tanah kosong yang bisa dibangun melalui SBSN. Karena nomenklatur kita standar asrama haji minimal seperti hotel berbintang tiga” paparnya.
Bahkan ia berharap kepada Gubri bila ada tanah yang bisa dihibahkan untuk pembangunan asrama haji penuh kementerian agama agar Asrama haji bisa lebih baik.
“Idealnya 10 ha. Karena Riau kan pendapatan asli daerahnya besar, obsesi saya pak gubernur, bila nanti diberikan tanah kita bisa bangun dengan alokasi anggaran kementerian agama dengan dana SBSN, saya harapkan juga ada semacam museum haji di Riau” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa nantinya asrama haji bisa sekalian digunakan sebagai destinasi wisata relijius selain sebagai pusat pemberangkatan dan kedatangan jamaah haji.
Di jawa barat gambaran ini direspon dengan baik, Karena memberikan edukasi tentang bagaimana perjalanan sejarah keberangkatan haji dari pertama sampai kini, sebutnya.
“Museum yang berisi foto, patung dengan narasi yang lengkap di musim haji. Sehingga anak cucu kita menjadi calin jamaah haji yang kelak bisa melihat gambaran haji dari tahun ke tahun, itu sangat menarik dalam konteks ini”, urainya.
Nizar menargetkan 3 tahun ke depan diharapkan dengan SBSN bisa dibangun Embarkasi penuh di atas tanah 10 hektar.
Ia menekankan akan perlunya kerjasama dengan pihak gubernur untuk memikirkan peningkatan pelayanan jamaah haji ke depan. Ironi bila ibu kota Provinsi tidak punya Embarkasi Penuh sedangkan Batam sudah memiliki Embarkasi penuh.
Di sela-sela kata sambutan ia sempat mengutarakan perihal Peningkatan pelayanan yang sudah diberlakukan tahun 2019 yang disebutnya inovasi Sistem Zonasi. Selama ini Riau ada 11 kloter terpecah pecah di seluruh wilayah Arab Saudi . Maka tahun ini Jamaah Riau sudah bisa dalam satu zona. Supaya mempermudah komunikasi dan koordinasi langsung tanpa via handphone. “Kayak irama orkestra yang luar biasa, Apalagi petugas-petugasnya diambil dari daerah. Koordinasi dari seluruh TPHD kloter Riau di sektor sisyah berdekatan”. Tandasnya.
Maka tahun ini juga kita alokasikan kalau kanwil kemenag Riau punya embarkasi penuh. Dengan wilayah batam bisa bergantian sebagai tim pengendali. Pak kanwil bisa memonitor ke saudi Arabia. Apalagi Jamaah yang paling banyak dari provinsi Riau.
Ia juga menyinggung sistem zonasi yang baru diluncurkan Kemenag. Menurutnya Sistem zonasi ini inovasi yang ditunggu tunggu masyarakat karena kesamaan budaya. Ada 7 wilayah di sisyah berdekatan dan paling menguntungkan karena efisiensi dalam mobilisasi.
Kaitannya juga dengan konsumsi sudah bisa menyediakan cita rasa Riau karena sudah bisa kumpul jadi satu. Apalagi sebelum 2018 banyak jamaah tersesat ketika shalat di masjidil haram yang pintunya banyak.
“Bahkan dulu di Arafah masih pakai tenda dan kipas angin. Tapi Tahun ini sudah bisa pakai ac. Karena panasnya luar biasa 44°c. Sehingga kemanan dan kenyamanan sudah ditingkatkan.Alhamdulillah UU haji sudah disahkan. Salah satunya penggantian ruang pemberian porsi. Jadi jamaah haji yang sakit permanen dan wafat bisa digantikan ahli warisnya” jelasnya.
Selama ini kalau ada jamaah haji yang wafat Setoran awalnya digantikan.
“Terkait implikasi tambahan quota 10 ribu jamaah haji, Kita tengah menggodok, setiap provinsi akan dapat tambahan jatah alokasi kuota” ucapnya. Prinsipnya efektif dan efisien 1 kloter dalam 1 embarkasi, tidak boleh keluar dari embarkasi.
Menutup sambutannya ia menjelaskan 50% untuk jamaah haji dalam daftar tunggu dan 25 %
untuk afirmasi lansia. 25 % untuk pendamping
lansia. Jadi prioritasnya pada lansia didahulukan hajinya. “Prinsipnya sudah
disetujui komisi 8. Nanti akan kita godok bersama tim”, tutupnya.(vera)