Pekanbaru (Inmas). Jika ingin hasil kerja kita berhasil dan bermanfaat, maka Mutu, Kualitas dan Relevansinya harus menjadi perhatian bersama, mulai dari Pimpinan, para dosen dan karyawan, hal ini disampaikan oleh Dirjen Pendis Prof. DR. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA pada acara Peningkatan Pengembangan Kelembagaan UIN SUSKA Riau pada Kamis (04/02) di Islamic Centre UIN SUSKA Riau Panam, Pekanbaru.
Mengawali pembicaraannya, Dirjen Pendis menyampaikan bahwa UIN SUSKA Riau merupakan Kampus UIN terbesar di Indonesia, oleh sebab itu sebagai kampus masa depan UIN SUSKA Riau harus bisa mewujudkan Visi Kementerian Agama yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara rujukan Islam Dunia kedepan karena di Indonesia Islam dan demokrasi bisa disatukan, walaupun kebanyakan sarjana barat tidak mengakui bahwa Islam dan Demokrasi itu tidak bisa disatukan, terang Dirjen Pendis.
Untuk mewujudkan semua itu maka perlu di antara mutu, kualitas dan relevansinya menjadi tugas bersama merealisasikannya, mari sama sama saling membahu mewujudkannya.
Perlu kita ketahui, menurut hasil survey saat ini anak-anak Indonesia yang baru mampu belajar di Perguruan tinggi baru 23 % sedangkan lebih 70 % yang tidak bisa kuliah, hal ini disebabkan oleh kemiskinan dan lain sebagainya, kita harus membuka kesempatan untuk kuliah, inilah tantangan terbesar yang akan kita hadapi kedepan.Untuk peningkatan mutu dan kualitas, kita sudah melakukan berbagai cara, yaitu; kita telah melakukan transformasi dari STAIN menjadi IAIN dan dari IAIN menjadi UIN, membuka prodi/Jurusan baru, kita berharap kedepan perguruan tinggi kita masuk menjadi 500 besar perguruan tinggi dunia, tentu ini bisa diraih apabila kita mempunyai mutu dan kualitas terbaik pula, urai Dirjen.
Kalau kita ingin menjadi yang terbaik, mutu yang kita tawarkan adalah mutu internasional yang tentu saja referensinya harus referensi Internasional pula, contoh, tafsir yang di ajarkan di Mesir, di Madinah dan di Timur Tengah lainnya hendaknya sama dengan yang diajarkan di Indonesia, dengan itu lulusan kita bisa bersaing di seluruh dunia, perlu diingat, pada saat ini lebih dari 600 ribu orang sarjana yang nganngur, tambah Kamaruddin.
Tantangan dosen dan pimpinan untuk bisa menstandarkan pendidikan dengan pendidikan internasional tidak boleh berhenti untuk meng-up date perkembangan terbaru untuk diajarkan ke mahasiswa, dosen-dosen ditekankan harus bisa bahasa Arab dan Bahasa Inggris salah satu persyaratan untuk bisa menguasai standard internasional, tentunya pimpinan mempunyai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan tersebut, saya harapkan kepada kita semua sebagai penyelenggara pendidikan Islam, jangan sampai anak kita yang lulus tidak bisa bahasa Arab dan Inggris dan jangan sampai lulusan kita (UIN-red) apabila ditokohkan ditengah masyarakat tidak menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris, hal ini tentu harus didahului oleh dosen dosen yang menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggeris, setiap UIN harus memiliki pusat bahasa yang bagus dan memiliki perpustakaan berstandar internasional, kemampuan IT harus jga dimiliki, saya yakin jika para dosen sudah menguasai kompetensi diatas maka mahasiswa yang sudah lulus akan survive di kondisi apapun, pungkas Dirjen Pendis Serius.(AZ)