0 menit baca 0 %

Dialog Antar Umat Beragama Diperlukan Dalam Membina Kerukunan

Ringkasan: Pekanbaru 19/4 (Humas)- Kondisi riil hubungan antar umat beragama dari dahulu hingga sekarang tidak selalu baik dan damai. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya proses atas pendirian suatu rumah ibadah agama tertentu, bahkan tidak jarang di antaranya ada yang rusak atau malah dibakar.
Pekanbaru 19/4 (Humas)- Kondisi riil hubungan antar umat beragama dari dahulu hingga sekarang tidak selalu baik dan damai. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya proses atas pendirian suatu rumah ibadah agama tertentu, bahkan tidak jarang di antaranya ada yang rusak atau malah dibakar. Demikian disampaikan tokoh agama Katolik Harry Raw saat menyampaikan materi pada kegiatan orientasi Forum Kerukunan Umat Beragama, Rabu, 14 April 2010 di Hotel Sri Indrayani Pekanbaru. Lebih lanjut dijelaskannya, tindakan perusakan ataupun pembakaran rumah ibadah, tidak selalu disebabkan oleh kecurigaan permutadan (Islamisasi atau Kristalisasi), tetapi juga kurangnya kesadaran pada hukum atau aturan pendidirian rumah ibadah yang berlaku. Ada cukup banyak gereja atau masjid berdiri tanpa memiliki izin pendirian rumah ibadah. Untuk itu salah satu cara untuk menyesaikan permasalahan tersebut adalah dengan dialog, yang berarti tukar pikiran antara dua orang atau lebih dimana kebenaran dan pribadi dari satu pihak dihadapkan dengan pribadi dan kebenaran dari pihak yang lain. Bagi gereja katolik dialog merupakan suatu keharusan karena selain didorong keyakinan yang mendalam atas ajaran Alkitab dan baba-bapa gereja, juga fakta adanya kesadaran para pendiri bangsa ini bahwa NKRI tidak berdiri sendiri di atas agama tertentu. Dan terlebih lagi keadaan rakyat Indonesia yang terdiri dari beragam agama. Dilaog sangat diperlukan dalam membina kerukunan karena dapat meningkatkan kerjasama dan saling menghormati antar manusia yang berbeda agama dan kepercayaan dalam masyarakat. Dialog tidak dimaknai sebagai kompromi iman, tetepi dimaknai sebagai jalan untuk meningkatkan kesamaan pemahaman terhadap perbedaan dengan tujuan mewujudkan sikap empati entar agama yang belainan, jelasnya. (js)