0 menit baca 0 %

CUPLIKAN PERISTIWA BERDARAH 5 JANUARI 1949 DI KOTA RENGAT

Ringkasan: Indragiri Hulu,(Inmas). Rabu 5 Januari 1949, peristiwa berdarah di luar perikemanusiaan terjadi di kota Rengat. Hari itu merupakan hari banjir darah dan air mata. Hari itu adalah hari pembantaian lebih kurang 2.000 orang penduduk kota Rengat oleh tentara Belanda.Pembantaian yang dilakukan tentara Be...

Indragiri Hulu,(Inmas). Rabu 5 Januari 1949, peristiwa berdarah di luar perikemanusiaan terjadi di kota Rengat. Hari itu merupakan hari banjir darah dan air mata. Hari itu adalah hari pembantaian lebih kurang 2.000 orang penduduk kota Rengat oleh tentara Belanda.
Pembantaian yang dilakukan tentara Belanda untuk menguasai dan menjajah kembali terhadap tanah air Indonesia yang sudah merdeka dan berdaulat sejak 17 Agustus 1945.
Latar belakang Belanda menyerang Rengat sehingga terjadinya peristiwa berdarah 5 Januari 1949, adalah :
1.     Rengat sebagai pusat pemerintahan Indragiri yang dikepalai seorang Bupati, yaitu Bupati Tulus, sebagai salah seorang korban pembantaian dan pembunuhan kejam & biadab di luar batas perikemanusiaan.
2.    Rengat dianggap Belanda sebgai pusat kekuatan militer dan perlawanan rakyat di wilayah Riau bagian Selatan. Di kota Rengat inilah tempat kedudukan kesatuan tentara dan kekuatan rakyat, dengan para pemimpinnya antara lain;
    -    Marah Halim (mantan Gubernur Sumatera Utara);
    -    Arifin Ahmad (mantan Gubernur Riau);
    -    Toha Hanafi (wira swasta);
    -    Durmawel Ahmad (mantan direktur Bank Indonesia), dsb.
3.    Rengat merupakan pintu gerbang bagi hubungan perdagangan wilayah Riau dengan Selatan dengan dunia luar. Rengat merupakan pelabuhan bagi pemasaran hasil produksi, seperti pertanian, perkebunan, hasil hutan, dan pertambangan.
Karena itu Rengat perlu mereka kuasai untuk mendapatkan sumber dana bagi agresi Belanda.
Hari itu udara cerah, fajar menyingsing dan langit terang benderang, tiba-tiba tentara Belanda menyerang dari udara dan darat. Belanda mengerahkan puluhan pesawat tempurnya, menembaki, membom, dan menerjunkan pasukan paying di pinggir Barat kota Rengat (sekarang bernama Kelurahan Sekip Hulu dan Sekip Hilir). Mereka bergerak ke arah Timur menuju kota dan sungai Indragiri, bersamaan dengan mendaratnya kapal perang mereka yang datang dari arah Tembilahan.
Tentara Belanda dengan teknologi dan perlengkapan perangnya yang serba modern berhasil menguasai kota Rengat.
Para pejuang menyingkir bergerilya. Belanda tidak membedakan antara mana yang tentara atau pejuang perlawanan rakyat dan penduduk sipil.
Belanda mengumpulkan lebih kurang 2.000 orang penduduk dari segala lapisan status sosial, kemudian dibariskan di penggir sungai Indragiri (sekarang menjadi lokasi Tugu Pahlawan dan pohon Beringin di jalan Ahmad Yani serta jalan Bupati Tulus).
Selanjutnya, terjadilah pembunuhan dan pembantaian massal secara biadab di luar batas perikemanusiaan.
Sungguh tragis dan memilukan, Rengat yang sedang banjir di kala itu, benar-benar banjir darah dan air mata. Sungai Indragiri airnya berubah menjadi warna merah sebagai akibat tumpahan darah penduduk kota Rengat yang tewas di tembaki tentara Belanda. Sungai Indragiri menjadi kuburan daripada keganasan dan kebiadaban tentara Belanda. Kebrutalan tentara Belanda ini tdak hanya terjadi di kota Rengat saja, akan tetapi terjadi juga di tempat lain di Indragiri Hulu.
Demikian cuplikan sekitar peristiwa berdarah 5 Januari 1949 di kota Rengat, yang dibacakan oleh Yusbendri selaku Kasubid Kewaspadaan Dini Badan Kesbangpol Pemkab. Inhu pada upacara Peringatan Rengat Bersejarah, dilaksanakan pada Minggu 05 Januari 2020.
Bertindak selaku Inspektur Upacara wakil Bupati Inhu, H. Khairizal, M.Si, dan doa bersama di pandu Kakankemenag Kab. Inhu, Drs. H. A. karim, M.Pd.I.(tulang).