0 menit baca 0 %

Cover Majalah Jangan Hanya Menampilkan Foto Pejabat

Ringkasan: Jakarta (Humas) – Saban dua bulan, majalah Ikhlas Kementerian Agama Republik Indonesia dicetak sebanyak 13.500 eksemplar untuk disebarkan kepada sekitar 4600 lebih Satuan Kerja (satker) yang ada di seluruh Indonesia. Selain kepada satker, majalah yang menjadi salah satu sumber pencitraan Kemen...

Jakarta (Humas) – Saban dua bulan, majalah Ikhlas Kementerian Agama Republik Indonesia dicetak sebanyak 13.500 eksemplar untuk disebarkan kepada sekitar 4600 lebih Satuan Kerja (satker) yang ada di seluruh Indonesia. Selain kepada satker, majalah yang menjadi salah satu sumber pencitraan Kementerian Agama RI ini didistribusikan pula kepada lembaga-lembaga lain yang sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Agama seperti Ormas dan LSM yang ada.


“Dari segi distribusi, 13.500 eksemplar kita kirimkan, pertama kepada internal lembaga Kementerian Agama sendiri yaitu kepada 4.600 lebih satker yang ada di seluruh Indonesia. Kedua didistribusikan ke lembaga eksternal yang relevan dengan tugas dan fungsi Kementerian Agama seperti Ormas Keagamaan dan LSM. Semuanya melalui mekanisme ekspedisi,” tutur Dodo Murtado, salah seorang staf redaksi majalah Ikhlas kepada pegawai humas Kanwil Kemenag Provinsi Riau Griven H Putera, di ruang Humas Kementerian Agama Republik Indonesia (RI), Jakarta, Senin (16/12).


Selain dikerjakan oleh jurnalis Kementerian Agama RI sendiri (kru majalah Ikhlas) dari bidang Humas yang berpotensi menulis, juga dari para pejabat eselon 1 di bidang lainnya yang bersangkut paut dengan kegiatan bidang mereka masing-masing. Selain itu, majalah Ikhlas juga memuat tulisan individu masing-masing pegawai seperti kolom artikel dan lain-lain.

“Yang juga penting dari semua itu adalah bahwa majalah Ikhlas juga dibantu tenaga ahli dari media profesional sehingga tampilan perwajahan, lay out dan contents atau isinya semakin hari semakin baik,” info Dodo.

“Setiap kali terbit, kita ingin menyuguhkan sesuatu yang menarik, baik dari segi tampilan perwajahan, rubrikasi dan gaya penulisannya yang ringan, enak dibaca, informatif, mendalam, lengkap dan berbeda dari majalah yang biasa diterbitkan oleh lembaga pemerintah lainnya. Ya, sedikit ada sifat provokasinya, dan tegas. Ya, istilahnya tidak bersifat kantoran begitu lah walaupun ini majalah kantor. Jadi, dari segi covernya, jangan setiap terbit hanya memuat gambar para pejabat tapi juga dari yang lainnya seperti foto-foto siswa atau siswi madrasah yang enak dipandang mata pembaca,” kata salah seorang staf redaksi Majalah Ikhlas ini.

“Majalah Ikhlas juga mencitrakan wajah Kementerian Agama secara luas sehingga citra positif lembaga ini semakin hari semakin baik di mata masyarakat Indonesia,” lanjut Dodo.

Menurut Dodo Murtado lagi, majalah Ikhlas diharapkan mampu menambah wawasan dan keilmuan pegawai Kementerian Agama karena pada dasarnya semua pegawai Kementerian Agama merupakan humas atau public relation bagi lembaga Kementerian Agama. 

Sampai saat ini, majalah Ikhlas murni dicetak berdasarkan dana DIPA Kementerian Agama. Sumber informasi Kementerian Agama RI ini belum dijual ke publik sebagaimana dilakukan beberapa pengelola majalah Kanwil Kementerian Agama di beberapa provinsi di Indonesia seperti di Jawa Barat dan lain-lain.

Majalah Ikhlas juga memiliki edisi digital. Dilema majalah Ikhlas dan majalah-majalah kantor lainnya adalah pada kelangkaan penulis. Menurut Dodo, itu problem yang harus diatasi bersama. Untuk itu kita mesti memanfaatkan mitra media Kementerian Agama yang lain. Penulis tamu yang independen diperlukan untuk penerbitan-penerbitan tertentu, seperti masalah kerukunan umat beragama dan lain sebagainya. Penulis atau mereka yang diminta tersebut di samping punya nama besar dan berkompeten di bidangnya juga tulisannya dipandang berbobot dan komunikatif. Selain penulis-penulis handal tersebut, majalah Ikhlas juga mengundang para tokoh di Kementerian Agama seperti mantan-mantan Menteri Agama seperti Malik Fajar dan lain-lain. (ghp)