Riau (Inmas)- Musim penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1438H/2017M telah selesai, sebanyak 5043 Jamaah diberangkatkan, dan jamaah yang kembali ke tanah air sampai saat ini berjumlah 5023 orang, 18 jamaah wafat, sedangkan dua jamaah masih di arab saudi dikarenakan alasan kesehatan. Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Provinsi Riau Erizon Efendi pada musim haji Tahun 2017 ditugaskan oleh Kementerian Agama R.I sebagai Kepala Sektor 1 di Daerah kerja Makkah Arab Saudi dengan jumlah jamaah haji sebanyak 50 Kloter. Meski pelaksanaan haji tahun 1438H/2017M terlaksana dengan lancar namun selama melaksanakan tugas Erizon memiliki beberapa catatan atas pelaksaan haji tahun 1438H/2017H yang diharapkan dapat menjadi masukan guna perbaikan untuk persiapan pelaksaan penyelenggaraan haji tahun berikutnya khususnya untuk Provinsi Riau
Catatan pelaksanaan ibadah haji tahun ini 1438H/ 2017M :
Masih banyak jemaah yang belum memahami atas larangan larangan ihrom. Ada beberapa persoalan lama yang harus disosialisasikan lebih luas lagi kepada calon jemaah terutama soal fiqih dan hikmah haji yang bisa diurai lebih jauh lagi agar pemahaman jemaah lebih baik. Hal Ini untuk meminimalisasir kesalah pahaman dan ketidakpahaman jemaah haji. Salah satu contohnya terlihat pada saat kedatangan jemaah di kota mekah sudah dalam kondisi berihrom dan masih ada jemaah yang melanggar larangan larangan ihrom. Hal ini harus menjadi perhatian bagi kita untuk lebih memantapkan pengetahuan dan pemahaman jemaah pada saat kegiatan manasik haji di tanah air dan dituntut peran aktif petugas Pembimbing Ibadah Kloter untuk memperhatikan hal tersebut.
"Peran ketua rombongan sangat penting Selama di Makkah jemaah lebih banyak berada dalam rombongan, seperti transportasi 1 Bus berisikan 1 rombongan, pembagian katering di atur per rombongan. Hal ini dituntut peran ketua rombongan untuk lebih aktif," ucapnya.
Keberadaan Tim Pembimbing Haji Daerah (TPHD) masih belum maksimal, harus ada penegasan kembali siapa sebenarnya yang layak menjadi TPHD, dan pelatihan TPHD yang lebih efektif agar fungsi dan tugasnya betul-betul bisa dioptimalkan dengan sebaik-baiknya. Sesuai hasil rapat evaluasi pada tanggal 16 oktober 2017 diusulkan tahun depan diperbanyak petugas kesehatan daerah, hal ini diperlukan sebab jamaah membutuhkan petugas medis untuk layanan kesehatan.
Masih banyak Jamaah yang kurang memahami penggunaan fasilitas hotel, Hal ini masih terlihat jemaah yang tidak menggunakan fasilitas hotel dikarenakan tidak mengetahui cara penggunaannya seperti AC, TV, Kamar mandi, dll. Sebaiknya hal ini menjadi salah satu materi dalam pemberian manasik.
Kesadaran Jemaah untuk menjaga kesehatan masih kurang, Kondisi cuaca di Makkah yang sangat panas mengakibatkan jemaah haji mudah untuk terserang penyakit dan daya tahan tubuh menurun, maka tim petugas kesehatan selalu menghimbau kepada jemaah untuk banyak minum air putih dan mengkonsumsi oralit untuk menambah cairan tubuh. Akan tetapi masih banyak ditemukan oralit yang menumpuk/tidak konsumsi oleh jemaah. untuk ke depan perlu sosialisasi kepada calon jemaah haji untuk kesadarannya dalam menjaga kesehatan.
Kondisi Mina, Persoalan yang sangat penting adalah kondisi tenda jemaah di Mina. Jumlah jemaah yang bertambah cukup signifikan ternyata tidak diimbangi dengan penambahan tenda di Mina. Jemaah harus berdesakan saat beristirahat di dalam tenda.Selain itu, toilet yang sangat terbatas juga sangat menyiksa jemaah saat berada di Mina. Hampir setiap saat, antrean panjang selalu terjadi di toilet jemaah. diharapkan jemaah haji siap dengan kondisi seperti ini yaitu dengan cara menyampaikan tips-tips kepada jemaah haji pada saat kegiatan manasik haji
Disamping itu hal yang menjadi catatan juga adalah peran petugas kloter dalam menanagemen ketua rombongan dan karu saat berada di arab saudi, disisi lain ke aktifan petugas kloter untuk berkoordinasi kepada pihak sektyor juga sangat penting dalam mensukseskan penyelangaraan haji tahun ini. Hal lain yang dianggap perlu menjadi catatan kedepan adalam pentingnya penguasaan bahasa arab dan bahasa inggris, sebab dari pemondokan ke sektor menggunakan taksi diperlukan bahasa arab. Inilah yang menjadi catatan pada penyelenggaraan haji tahun ini yang akan disampaikan pada rapat evaluasi nasional nanti, dengan harapan pelayanan ibadah haji tahun depan semakin membaik. (nik/rul)