Indragiri Hulu (Kemenag) – Di balik dinding tebal dan jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Pematang Reba, senyum dan semangat baru mulai tumbuh. Setiap suasana ruang pembinaan berubah menjadi lebih hangat dan penuh harapan ketika Mutiara Sitorus, Penyuluh Agama Kristen KUA Kecamatan Kuala Cenaku, memimpin kegiatan penyuluhan dan pembinaan rohani bagi 62 warga binaan. Bukan sekadar kegiatan keagamaan rutin, penyuluhan ini menjadi oase batin bagi mereka yang tengah menata kembali arah hidup.
Dengan suara lembut dan penuh
empati, Mutiara Sitorus mengingatkan peserta bahwa masa lalu tidak selalu harus
menjadi beban, tetapi bisa menjadi pijakan menuju perubahan. “Setiap manusia
berhak mendapatkan kesempatan kedua. Melalui peningkatan iman, kita bisa menata
kembali kehidupan agar lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama,” ujarnya.
Kalimat itu disambut anggukan penuh haru dari para peserta yang tampak larut
dalam suasana reflektif.
Penyuluhan kali ini tidak
hanya berfokus pada ajaran agama semata, tetapi juga membangun kesadaran
spiritual sebagai landasan moral. Dalam suasana tenang, para warga binaan
diajak memahami bahwa nilai-nilai keagamaan adalah kunci utama untuk kembali
diterima di masyarakat. Dari sanalah muncul semangat baru: menjadi manusia yang
lebih baik, berguna bagi keluarga, dan berkontribusi positif bagi lingkungannya
setelah bebas nanti.
Kepala Rutan Kelas II B
Pematang Reba mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai membantu proses
rehabilitasi moral dan spiritual warga binaan. “Kegiatan pembinaan keagamaan
seperti ini sangat penting, karena selain menenangkan jiwa, juga menumbuhkan
kesadaran baru bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berubah,” ungkapnya.
Bagi sebagian warga binaan,
kegiatan seperti ini adalah momen paling berharga dalam perjalanan mereka
menjalani masa hukuman. Tak sedikit yang menitikkan air mata, bukan karena
penyesalan semata, tetapi karena menemukan harapan baru yang sebelumnya terasa
jauh.
Penyuluhan ini menjadi bagian
dari upaya Kementerian Agama dalam mendukung pembangunan keagamaan di lembaga
pemasyarakatan. Melalui kolaborasi antara penyuluh dan pihak Rutan, pembinaan
rohani diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih humanis, religius,
dan berdaya guna.
Dari balik jeruji besi,
kegiatan ini menyalakan lentera keimanan yang tak hanya menyinari ruang rutan,
tetapi juga membuka jalan bagi pembangunan manusia seutuhnya—yang berlandaskan
nilai spiritual, moral, dan kemanusiaan.
(Reski)