0 menit baca 0 %

Cahaya Iman di Balik Jeruji: Penyuluhan Agama di Rutan Pematang Reba Bangkitkan Harapan Baru

Ringkasan: Indragiri Hulu (Kemenag) Di balik dinding tebal dan jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Pematang Reba, senyum dan semangat baru mulai tumbuh. Setiap  suasana ruang pembinaan berubah menjadi lebih hangat dan penuh harapan ketika Mutiara Sitorus, Penyuluh Agama Kristen KUA Kecamatan Kuala Ce...

Indragiri Hulu (Kemenag) – Di balik dinding tebal dan jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Pematang Reba, senyum dan semangat baru mulai tumbuh. Setiap  suasana ruang pembinaan berubah menjadi lebih hangat dan penuh harapan ketika Mutiara Sitorus, Penyuluh Agama Kristen KUA Kecamatan Kuala Cenaku, memimpin kegiatan penyuluhan dan pembinaan rohani bagi 62 warga binaan. Bukan sekadar kegiatan keagamaan rutin, penyuluhan ini menjadi oase batin bagi mereka yang tengah menata kembali arah hidup.

Dengan suara lembut dan penuh empati, Mutiara Sitorus mengingatkan peserta bahwa masa lalu tidak selalu harus menjadi beban, tetapi bisa menjadi pijakan menuju perubahan. “Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Melalui peningkatan iman, kita bisa menata kembali kehidupan agar lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama,” ujarnya. Kalimat itu disambut anggukan penuh haru dari para peserta yang tampak larut dalam suasana reflektif.

Penyuluhan kali ini tidak hanya berfokus pada ajaran agama semata, tetapi juga membangun kesadaran spiritual sebagai landasan moral. Dalam suasana tenang, para warga binaan diajak memahami bahwa nilai-nilai keagamaan adalah kunci utama untuk kembali diterima di masyarakat. Dari sanalah muncul semangat baru: menjadi manusia yang lebih baik, berguna bagi keluarga, dan berkontribusi positif bagi lingkungannya setelah bebas nanti.

Kepala Rutan Kelas II B Pematang Reba mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai membantu proses rehabilitasi moral dan spiritual warga binaan. “Kegiatan pembinaan keagamaan seperti ini sangat penting, karena selain menenangkan jiwa, juga menumbuhkan kesadaran baru bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berubah,” ungkapnya.

Bagi sebagian warga binaan, kegiatan seperti ini adalah momen paling berharga dalam perjalanan mereka menjalani masa hukuman. Tak sedikit yang menitikkan air mata, bukan karena penyesalan semata, tetapi karena menemukan harapan baru yang sebelumnya terasa jauh.

Penyuluhan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam mendukung pembangunan keagamaan di lembaga pemasyarakatan. Melalui kolaborasi antara penyuluh dan pihak Rutan, pembinaan rohani diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih humanis, religius, dan berdaya guna.

Dari balik jeruji besi, kegiatan ini menyalakan lentera keimanan yang tak hanya menyinari ruang rutan, tetapi juga membuka jalan bagi pembangunan manusia seutuhnya—yang berlandaskan nilai spiritual, moral, dan kemanusiaan.

(Reski)