0 menit baca 0 %

Buya Basri : Hisablah Dirimu Sebelum Dihisab

Ringkasan: Kampar (Inmas) Hisablah dirimu, sebelum dirimu di hisab. Demikian salah satu poin yang disampaikan Abuya H Basri MSy, dalam tausiyah pagi jum at (05/10/2018), di Musholla Miftahul Ilmi Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar. hadir dalam tausiyah tersebut Kepala Subbag Tata Usaha Kantor Kementerian Aga...

Kampar (Inmas) – Hisablah dirimu, sebelum dirimu di hisab. Demikian salah satu poin yang disampaikan Abuya H Basri MSy, dalam tausiyah pagi jum’at (05/10/2018), di Musholla Miftahul ‘Ilmi Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar. hadir dalam tausiyah tersebut Kepala Subbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar H Fuadi Ahmad SH MAB, Para Kasi, dan Pegawai dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar.

Basri menagtakan, Umar bin Al Khattab berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab dan timbanglah sebelum ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian di hari hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikit pun yang dapat tersembunyii dari kalian.”

Pernahkah kita menyendiri dan menghisab apa yang telah kita katakan dan perbuat? Pernahkan satu hari menghitung keburukan kita sebagaimana menghitung kebaikan? Bahkan apakah kita pernah mengkhayal tentang ketaatan yang kita banggakan? Bila kita mendapatkan bahwa kebanyakan dari amalan dipenuhi dengan riya' lalu bagaimana mungkin kita dapat bersabar pada keadaan seperti ini, sedangkan perjalanan hidup ini selalu penuh dengan liku-liku dan godaan, bagaimana mungkin kita akan menghadap Allah sedangkan kita dipenuhi dengan beban dan dosa-dosa? Oleh karena itu marilah kita mulai berbenah diri. Salah satu caranya dengan muhasabah diri sendiri.

Ada Beberapa macam muhasabah diri Muhasabah diri terbagi menjadi dua: sebelum perbuatan dan sesudah perbuatan. Pertama, muhasabah diri sebelum perbuatan, yaitu seorang hamba melihat awal kemauannya, dan jangan bersegera beramal hingga jelas perioritas amalannya. Al Hasan berkata, : Allah memberikan rahmat kepada seorang hamba yang melihat tujannya, bila tujuannya karena Allah dia melakukannya, dan bila tidak dia mengakhirkannya."

Kedua, muhasabah diri setelah perbuatan. Cara bermuhasabah diri Imam Ibnul Qoyyim RA menyebutkan bahwa muhasabah diri dapat dilakukan dengan cara Memulai dari melihat perbuatan-perbuatan yang wajib, bila dia mendapatkan kekurangan maka usahakan memenuhinya. Kemudian larangan-larangan Allah, bila dia mengetahui bahwa dia telah berbuat satu dosa, maka tutuplah dengan taubat, istighfar dan kebaikan yang dapat menghapusnya.

Bermuhasabah diri atas kelalaian, dan menutupinya dengan dzikir dan menghadap Allah. Bermuhasabah diri atas gerak-gerik anggota tubuh, ucapan lisan, perjalanan kedua kaki, perbuatan tangan, dan pendengaran kedua telinga, apa yang kita inginkan dengan ini semua? dan untuk siapa kita melakukannya? dan demi apa kita melakukannya?.. Mari pertanyaan ini kita kemukakan pada diri kita masing-masing, agar nantinya kita betul-betul mendapat naungan dari Allah Swt, Pungkas Basri. (Ags/Usm)