0 menit baca 0 %

Bupati Inhil: Bekali Diri Tentang Tata Cara Haji yang Benar Sedini Mungkin

Ringkasan: Tembilahan (Humas)- Ibadah haji adalah perjalanan suci dalam rangka melaksanakan kewajiban sebagai seorang mulim, yaitu rukun Islam yang kelima. Ibadah ini memerlukan kesiapan fisik maupun mental serta ilmu pengetahuan tentang proses pelaksanaan ibadahnya.
Tembilahan (Humas)- Ibadah haji adalah perjalanan suci dalam rangka melaksanakan kewajiban sebagai seorang mulim, yaitu rukun Islam yang kelima. Ibadah ini memerlukan kesiapan fisik maupun mental serta ilmu pengetahuan tentang proses pelaksanaan ibadahnya. Oleh karena itu setiap jamaah calon haji (JCH) harus membekali diri sedini mungkin tentang tata cara yang benar dalam pelaksanaan ibadah haji, agar perjalanan haji nantinya tidak sekedar mendapatkan gelar haji, akan tetapi mendapatkan predikat haji mamprur yang menjadi dambaan setiap muslim. Demikian disampaikan Bupati Indragiri Hliri (Inhil) H Indra Muchlis Adnan, dalam sambutannyay yang disampaikan oleh Staf Ahli Pemerintah Daerah (Pemda) Inhil, Rudiansyah, pekan lalu saat membuka Manasik Haji Tingkat Kabupaten Inhil 2011 Masjid Agung Al- Huda Tembilahan. Menurutnya, pelaksanaan ibadah haji tanpa dibekali oleh pengetahuan yang cukup tentang tata cara pelaksanaannya, maka perjalanan tersebut tentunya kurang sempurna. Alangka ruginya seseorang yang melaksanakan perjalanan haji dengan mengeluarkan dana yang cukup besar, meninggalkan sanak saudara dan keluarga akan tetapi pelaksanaannya belum sesuai dengan tata cara dan aturan yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW. "Untuk menghindari hal tersebut tentunya kita harus melakukan ikhtiar dengan cara mempelajari tentang tata cara ibadah haji tersebut," ungkap Untuk itu CJH Inhil, agar dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengikuti dengan tekun dan bersungguh- sunggu penataran Manasik Haji tingkat Kabupaten Indragiri Hilir, sehingga saudara sekalian nantinya memiliki kesiapan yang perima sehingga dapat melaksanakan ibadah haji dengan penuh khusyuk dan tawaddu` serta berhasil meraih apa yang didamba- dambakan oleh setiap JCH yaitu Haji yang Mambrur. Ia menambahkan, bahwa ada kebahagian yang begitu kuat membekas dalam hati sanubari bagi setiap orang yang telah melaksanakan ibadah haji, sehingga tidak jarang seseorang yang pernah melaksanakan haji berkeinginan untuk kembali melaksanakan haji pada tahun berikutnya. Kebahagiaan ini tidak akan didapatkan karena limpahan harta, jabatan atau kenikmatan dunia. Kebahagiaan bagi seorang yang melaksanakan ibadah haji adalah karena ada rasa dekat dengan yang maha kuasa, sehingga haji menjadi tenang, damai sehingga iman semakin kuat dan mantap. Kerinduan terhadap suasana hati seperti inilah yang menyebabkan orang sering berulang kali ingin melaksanakan ibadah haji. Begitu banyak keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT terhadap orang- orang yang melaksanakan ibadah haji, diantaranya Allah menjanjikan bahwa haji yang mambrur tidak ada ganjarannya kecuali syurga. Dari Abu Hurairah RA, mengatakan bahwa beliah mendengar Nabi SAW bersabda "Siapa saja yang menunaikan ibadah haji, lalu tidak rafats (melontarkan ucapan- ucapan yang kotor) dan tidak berbuat fisik (melakukan perbuatan- perbuatan dosa), ia telah kembali bebas dari segala dosanya sebagaimana saat ia dilahirkan oleh ibunya". "Oleh karena itu, berlomba- lombalah untuk melaksanakan ibadah haji dengan niat yang lurus karena Allah SWT, melaksanakan seluruh rangkaian ibadah sesuai aturan dan syariat yang telah ditentukan, agar benar- benar menjadi tamu Allah yang mendapat kemulaan dari-Nya," himbaunya. Kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya semain sulit, hal ini menandakan tingginya keginan umat Islam untuk melaksanakan perjalanan ibadah haji. Sebagai orang yang mendapat kemuliaan untuk memenuhi undangan Allah SWT, maka hendaknya memperhatikan hal sebagai berikut: Pertama, Simak dan perhatikan dengan seksama segala ilmu pengetahuan yang diberikan oleh para penatar, dan terhadap penjelasan yang kurang dimengerti atau ragu hendaknya segera bertanya agar diberi pemahaman dan penjelasan. Kedua, sadarilah bahwa ilmu pengetahuan yang diterima dan diperoleh selama manasik menjadi pedoman selama menunaikan ibadah haji. Ketiga, kepada para instruktur/ penatar hendaknya dapat menyampaikan penjelasan yang berkaitan dengan manasih haji sehingga benar- benar dipahami dan enjadi bekal berharga bagi JCH. Keempat, laksanakan ibadah haji dengan niak seikhlas- ikhlasnya karena Allah SWT semata. Kelima, pelihara dan mantapkan regu, rombongan serta rasa persaudaraan agar terjalin ukhuwah Islamiyah, persatuan dan kesaturan, serta saling memperhatikan dan tolong menolong kepada sesama jamaah haji, khususnya terhadap jamaah yang uzur atau mendapat musibah. Keenam, janganlah mudah terpancing atau terpengaruh dan terbawa arus ajakan yang negatif yang bisa menjatuhkan marwah, merusak atau mencemarkan nilai- nilai ibadah haji. (msd)