Pekanbaru (Humas) – Kelebihan Ulama-ulama terdahulu dari Ulama-ulama saat ini terletak pada menulis, kalau ulama terdahulu banyak melahirkan buku dan kitab-kitab yang diwariskan sampai saat ini, namun ulama sekarang sangat sedikit yang menulis, mereka lebih banyak berceramah, padahal manfaat menulis itu lebih lama, selagi tulisan itu masih ada dan masih dibaca orang maka selama itulah manfaatnya akan dirasakan, ungkap Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA penulis Buku Islam Sosial, Sebuah Tafsir Atas Realitas yang juga Ka.Kankemenag Kabupaten Rokan Hulu pada Rabu (20/02) di Ruangan Kasubbag Informasi dan Humas Kanwil kemenag Prov.Riau.
Dalam buku tersebut Ahmad Supardi lebih mengisahkan tentang realitas sosial agama yang beliau jalani ditengah-tengah masyarakat ditempat beliau mengabdi sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kab.Rokan Hulu yang juga digelar sebagai Negeri Seribu Suluk.
Menurut catatan editor buku tersebut Hasan M. Noer, berdakwah melalui buku adalah jalan panjang seorang pecinta buku meluhurkan gagasannya, maka kehadiran buku Islam Sosial: Tafsir Atas Realitas Umat adalah ikhtiar sang penulis untuk mengawetkan gagasan, cita-cita dan cintanya terhadap dakwah dan Islam. Islam merupakan acuan makna dari mana seorang hamba menemukan Tuhan dalam realitas hidupnya, fenomena akhir-akhir ini perhatikanlah da’i kita ditengah masyarakat maupun dilayar televisi, semula begitu dikagumi jamaah karena kata katanya bagaikan sabda seorang nabi, tetapi begitu kata-kata hebat itu berubah jadi “tipu muslihat” diam diam para jamaah mulai balik badan, tak sudi lagi mendengarkan dakwah sang da’i, jadilah kata-kata tak lagi berwibawa, kata-kata tak lagi abadi, oleh sebab itu berdakwah melalui tulisan kita biasakan kembali agar gagasan dan ijtihad bisa dikenang pada masa-masa yang akan datang.
Dalam buku karya Ahmad Supardi Hasibuan tersebut juga disampaikan kata pengantar oleh Prof.DR. H. Komaruddin Hidayat, Guru Besar dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,menyampaikan “ dalam bukunya Ahmad Supardi ingin menyampaikan seperti apa yang telah di laksanakan oleh Umar bin Khattab sewaktu menjadi Khalifah tentang situasi pelik yang beliau hadapi di saat beliau menolak membagi harta Ghanimah kepada tentara yang ikut berperang, juga menolak melaksanakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa paceklik, sikap ini menjadi titik didih dari polemik ajaran Islam antara teks (apa yang semestinya) disatu sisi bertemu dengan konteks (apa yang senyatanya) disisi yang lain. Dan, syarat terlaksananya sebuah kebenaran, menurut Khalifah Umar, adalah kesesuaian antara apa yang semestinya dengan apa yang senyatanya itu, gagasan Umar ini merupakan tafsir sosial atas relitas umat, setelah melihat kondisi objektif masyarakat tidak selamanya sejalan dengan pesan-pesan Tuhan secara tekstual (harfiyah), sehingga pendekatan Kontekstual (maknawiyah) menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan, jika Islam memang hadir sebagai rahmat semesta alam, pesan inilah yang ingin disampaikan oleh saudara Ahmad Supardi Hasibuan melalui bukunya yang berjudul, Islam Sosial: sebuah tafsir atas relitas umat “, dalam bukunya menggambarkan realitas sosial yang terjadi di wilayah Kantor Kementerian agama dimana dia disana menjadi Kepala Kantornya, papar Komaruddin Hidayat.(AZ)