0 menit baca 0 %

Bimas Islam Kemenag Kuansing Gelar Revitalisasi BKM: Menguatkan Peran Masjid dalam Memakmurkan Umat

Ringkasan: Kuansing (Kemenag) Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi menyelenggarakan kegiatan Revitalisasi Badan Kemakmuran Masjid (BKM) se-Kabupaten Kuantan Singingi pada Kamis (13/11/2025) di Aula Kemenag Kuansing.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala...

Kuansing (Kemenag) — Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi menyelenggarakan kegiatan Revitalisasi Badan Kemakmuran Masjid (BKM) se-Kabupaten Kuantan Singingi pada Kamis (13/11/2025) di Aula Kemenag Kuansing.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Kuansing, Suhelmon, dan diawali dengan sambutan Ketua Panitia oleh Kasi Bimas Islam, Bahrul Aswandi. Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus masjid dari berbagai kecamatan di Kuansing, dengan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Irsyad Azizi, Lc., M.A. dari MUI Kuansing dan Herius Nasir, Kepala Kantor Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Sumatera Barat.

Dalam sambutannya, Kasi Bimas Islam menegaskan pentingnya menguatkan kembali fungsi dan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.

 “Revitalisasi BKM ini bertujuan agar masjid dapat benar-benar memakmurkan umat dan dimakmurkan oleh umat, tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga hidup dengan aktivitas yang membawa manfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Kakankemenag Kuansing, Suhelmon, menekankan bahwa revitalisasi bukan berarti mengganti pengurus lama, melainkan memberikan bekal dan semangat baru bagi pengurus agar rumah ibadah dapat dikelola sesuai kehendak Allah.

 “Revitalisasi berarti menghidupkan kembali, menggairahkan, dan memfungsikan masjid sebagaimana mestinya. Kami berterima kasih kepada seluruh pengurus masjid yang hadir, karena perhatian terhadap rumah Allah adalah perhatian terhadap umat,” ungkapnya.

Masjid sebagai Pusat Peradaban dan Ukhuwah

Narasumber pertama, Irsyad Azizi, Lc., M.A., menyampaikan materi bertajuk “Masjid sebagai Pusat Peribadatan dan Peradaban”. Ia mengingatkan bahwa tantangan utama masjid masa kini adalah jauhnya jarak antara kemegahan fisik dengan kemakmuran jamaahnya.

Menurutnya, “Innama ya’muru masajidallah” bukan sekadar tentang membangun masjid, tetapi memakmurkannya dengan aktivitas yang mempererat persaudaraan dan menebar manfaat bagi masyarakat.

Irsyad mencontohkan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta sebagai model masjid yang mampu menjadi pusat kemaslahatan umat melalui pendataan masyarakat, pelayanan sosial, dan pembinaan spiritual.

 “Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga tempat masyarakat merasa aman, bersatu, dan terlayani. Bahkan dari kebersihan dan keharumannya, orang bisa tertarik pada Islam,” paparnya.

Profesionalisme dan Manajemen Modern Masjid

Narasumber kedua, Herius Nasir, membawakan materi tentang “Revitalisasi dan Pengelolaan Masjid secara Profesional”. Ia berbagi pengalaman dalam mengelola Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang kini dikenal dengan kebersihan dan manajemennya yang modern.

Ia menekankan bahwa pengurus masjid harus memiliki fokus, integritas, dan rasa tanggung jawab penuh, sebab mengurus masjid bukan sekadar posisi, tetapi amanah besar di hadapan Allah.

 “Masjid adalah rumah Allah, maka pengelolaannya harus profesional, bersih, nyaman, dan ramah jamaah. Hospitality dan kebersihan adalah bagian dari dakwah,” jelasnya.

Herius juga memaparkan inovasi pengelolaan seperti digital fundraising, toilet berstandar terbaik di Sumbar, dan upaya sertifikasi ISO 9001:2015 untuk manajemen masjid. Ia menegaskan, masjid harus adaptif terhadap zaman, namun tetap berpegang pada nilai-nilai syar’i.

Kegiatan revitalisasi ini diharapkan menjadi langkah strategis Bimas Islam Kemenag Kuansing untuk memperkuat kapasitas pengurus masjid dalam menjalankan tiga fungsi utama: idarah (manajemen), imarah (pemakmuran), dan ri’ayah (pemeliharaan). (snz)