Pelalawan (kemenag) – Seksi
Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten
Pelalawan menyelenggarakan kegiatan Pengembangan Kampung Moderasi Beragama
pada Selasa (11/11/2025), bertempat di Aula Pusat Layanan Haji dan Umrah
Terpadu (PLHUT) Kemenag Pelalawan. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini
mengusung tema “Membangun Harmoni dalam
Keberagaman melalui Moderasi Beragama.”
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pelalawan, Syafwan, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk komitmen nyata Kemenag dalam memperkuat semangat moderasi beragama di tengah masyarakat. “Moderasi beragama merupakan kunci terciptanya kerukunan umat. Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai moderasi, kita dapat menjaga harmoni dan mencegah timbulnya konflik yang bersumber dari perbedaan pandangan,” ujar Syafwan dalam sambutannya. Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi secara panel. Sesi ini dipandu langsung oleh Kasi Bimas Islam Kemenag Pelalawan, H. Iswadi M. Yazid, Lc., M.Sy., yang bertindak sebagai moderator. Ia menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini tidak hanya sebatas memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga mendorong penerapan prinsip-prinsip moderasi beragama di tingkat masyarakat melalui gerakan nyata di Kampung Moderasi Beragama.
Tiga narasumber dihadirkan dalam kegiatan ini, masing-masing mewakili unsur lintas lembaga dan agama, guna memberikan perspektif yang komprehensif tentang pentingnya moderasi dalam menjaga kebhinekaan. Pemateri pertama, Dr. Yumesri, S.Sos.I., M.Pd.Gr., dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pelalawan, membawakan materi bertema “Menangkal Intoleransi dan Radikalisme melalui Kampung Moderasi Beragama.” Dalam paparannya, Yumesri menegaskan bahwa kampung moderasi beragama dapat berfungsi sebagai laboratorium perdamaian di tingkat akar rumput. “Melalui kampung moderasi, masyarakat dapat belajar hidup rukun, saling menghargai, dan memahami perbedaan,” ujarnya. Lebih lanjut, ia memaparkan tiga strategi utama untuk menangkal intoleransi dan radikalisme, yaitu: (1) melakukan deteksi dini terhadap paham ekstrem melalui edukasi kepada warga, (2) memperkuat kolaborasi dengan lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan aparat desa, serta (3) mengembangkan narasi positif di media sosial untuk menekan penyebaran paham radikal.
Pemateri kedua, Andi Yuliandri, S.Kom., selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pelalawan, menyampaikan materi berjudul “Merawat Kebhinekaan melalui Gerakan Kampung Moderasi Beragama.” Dalam materinya, ia menekankan bahwa Kesbangpol memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan dan persatuan bangsa melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan. “Kesbangpol tidak hanya berperan dalam pembinaan ideologi dan politik, tetapi juga menjadi motor penggerak dalam membina wawasan kebangsaan serta mengoordinasikan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat untuk memperkuat toleransi,” jelas Andi. Ia menambahkan, keberadaan Kampung Moderasi Beragama menjadi salah satu upaya konkret untuk membangun kesadaran hidup rukun di tengah perbedaan yang ada, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Pemateri ketiga, Pdt. Matius Ampera Lumban Gaol,
M.Th., memberikan perspektif dari sudut pandang keagamaan
Kristen dengan materi berjudul “Membangun
Harmoni dan Toleransi di Tengah Keberagaman.” Dalam paparannya, ia
menekankan bahwa harmoni adalah karunia yang harus dijaga bersama. “Perdamaian
bukan hanya cita-cita, tetapi tindakan nyata yang harus diwujudkan setiap hari.
Kita harus menghindari sikap eksklusif, membangun empati, dan saling memahami
dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya penuh semangat.
Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab antara peserta dan para narasumber. Para peserta tampak antusias memberikan tanggapan dan pertanyaan seputar penerapan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan masing-masing. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, di antaranya perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA), Camat setempat, penyuluh agama Islam, ormas keagamaan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta perwakilan dari umat Katolik, Buddha, dan Hindu. Hadir pula Dharma Wanita Persatuan Kemenag Pelalawan, yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto
bersama antara narasumber, peserta, dan panitia sebagai simbol komitmen bersama
untuk terus menumbuhkan semangat toleransi, kerukunan, dan kebersamaan di
Kabupaten Pelalawan. Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai moderasi
beragama semakin melekat dalam kehidupan masyarakat, sehingga dapat menjadi
fondasi kuat bagi terwujudnya keharmonisan dan kedamaian antarumat beragama di Pelalawan khususnya(dbs).