0 menit baca 0 %

Bidang Urais Siap Tidak Lanjuti Program Pendataan Perpustakaan Islam Masjid di Riau

Ringkasan: Riau (Inmas) Kekuatan Indoensia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar masih tetap menjadi harapan bagi bangkitnya masa keemasan sebuah peradaban manusia. Dan tradisi literasi merupakan gerbang yang akan dilewatinya. Tradisi literasi Islam yang masuk dalam bingkai besar Kepustakaan Islam bis...

Riau (Inmas) – Kekuatan Indoensia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar masih tetap menjadi harapan bagi bangkitnya masa keemasan sebuah peradaban manusia. Dan tradisi literasi merupakan gerbang yang akan dilewatinya. Tradisi literasi Islam yang masuk dalam bingkai besar Kepustakaan Islam bisa meneguhkan kembali perihal kemandirian dalam Islam. Kemenag melalui Bidang Urais dan Binsyar Kemenag Riau siap menindaklanjuti program tersebut dengan melakukan sosialisasi dan pembinaan.

Masjid sebagai sarana terdepan pembinaan jamaah dalam era digital perlu melengkapi diri dengan perpustakaan yang dapat dibuka oleh jamaah. Ini semua akan menjadi sumber penegmbangan wawasan ilmu agama, umum, termasuk ekonomi dan politik. Demikian diungkap Kasi Kemasjidan Eka Purba di ruang kerjanya, Rabu (06/02) sore.

Hal itu merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas beserta fungsi masjid di masa mendatang. Apalagi saat ini, Kemenag menggagas program Tahun 2019 untuk pendataan dan pemetaan Komponen Perpustakaan Islam di setiap masjid yang ada di Indonesia. Pihaknya mengaku, sehubungan dengan itu rencananya akan menggandeng Perguruan Tinggi Islam yang ada di Riau untuk terlibat dalam pemberdayaan masjid sebagai pusat pengembangan wawasan keislaman masyarakat.

 “Kita akan membuat MoUnya nanti, format juklaknya sudah ada, kita terima dari pusat dua hari yang lalu, biar seragam seluruh Indonesia untuk pendataan dan sosialisasi ini”, lanjutnya. “Dari perguruan tinggi , kita harapkan sumbangsih untuk ketersediaan buku tersebut, bahkan sumber ilmu juga akan kian mudah jika masjid dapat menggalakkan wakaf buku. Pihaknya mengaku telah melakukan survey lapangan terhadap masjid yang sudah memiliki perpustakaan islami di Riau, mengingat masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah dan pusat peradaban, namun lebih dari itu bisa membangun dan menggali minat baca masyarakat tentang pemikiran Islam maupun ilmu umum seperti ekonomi dan politik.

Ia menuturkan ketersediaan buku sumber ilmu juga akan kian mudah, bila mana masjid dapat menggalakkan wakaf buku. “Tidak harus buku baru, buku bermutu yang pernah dibaca akan menjadi sadaqoh jariyah jika diwakafkan ataupun sekedar dipinjamkan”, ucapnya. Untuk dimasjid perpustakaan dapat dimulai dengan menyediakan sejumlah buku lama atau baru sumbangan jamaah yang bermanfaat dan menarik jamaah untuk membaca.

 “Jadi kalau ada perpustakaan, kita bisa mengembangkan wacana atau pemikiran, terutama mengenai wacana Keislaman, kemodernan dan keIndonesiaan”, terangnya lagi. “Saya pikir inilah bagian yang paling kurang dari fungsi masjid untuk membangun peradaban sehingga akhirnya terbentuk Khoiru ummah terutama dikalangan remaja kita”, tuturnya.(vera)