Riau (humas) – Sebanyak 5008 jemaah haji asal Riau gagal berangkat ke tanah suci Musim haji Tahun 2020 ini. Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau melalui Kasi Bina Haji dan Advodkasi Rahmat Suhadi MPd mengimbau jemaah calon haji yang batal berangkat tetap berlatih manasik atau tata cara haji secara mandiri.
Terlebih lagi pada tahun ini Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau telah menerima 5008 paket Buku Manasik Haji Tahun 1441 H. Paket tersebut sudah diterima pada tanggal 19 Mei 2020. Kemudian tanggal 26 sudah didistribusikan ke daerah melalui Kankemenag Kabupaten/kota.
Ia mengatakan bahwa buku manasik haji Tahun 2020 M merupakan terbitan dari Kementerian Agama Republik Indonesia yang memang diperuntukkan kepada seluruh jemaah haji Provinsi Riau.
"Setiap jemaah haji dijatahi 3 (tiga) buku yaitu Tuntunan Manasik Haji dan Umrah, Do'a dan Dzikir Manasik Haji dan Umrah dan Ringkasan Do'a Manasik Haji dan Umrah. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan dapat digunakan oleh jemaah haji sesuai dengan kebutuhannya," terang Rahmat Suhadi kepada humas saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (09/06).
Rahmat Suhadi menyebut pendistribusian paketan buku manasik itu melalui KUA dan ada pula yang langsung diserahkan kepada jemaah bersangkutan. Informasi ini ia dapatkan saat melakukan virtual meeting melalui aplikasi Temkomsel online bersama Kasi PHU Kemenag Kabupaten/kota.
“Sekarang kita akan menunggu progres beberapa hari kedepan, guna memastikan buku tersebut sudah sampai ke tangan jemaah,” katanya.
Rahmat Suhadi menambahkan dengan adanya buku manasik haji Tahun 2020 M dan beberapa media seperti video tutorial manasik haji yang diluncurkan oleh Kemenag RI nantinya diharapkan dapat membantu setiap jemaah haji meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang ibadah haji. Bahkan menjadi tuntunan bagi setiap jemaah haji ketika akan berangkat dan berada di tanah suci.
Berangkat dari hasil rapat virtual itu pula, Ia mengimbau Kasi PHU Kemenag Kabupaten/kota untuk melakukan inovasi manasik haji seperti dialog secara online dengan jemaah imbas pandemi.
“Dalam hal ini mungkin karena pada waktu itu sifatnya masih menunggu keputusan keberangkatan ibadah haji dari Kemenag RI, begitu keluar pernyataan pelaksaan ibadah haji ditunda ke tahun depan atau dibatalkan, maka pelaksanaan ini sudah tidak difollow up lagi.
Di sisi lain, dana PKOH itu belum jadi diturunkan karena pembatalan haji tahun ini. Namun pihaknya mengaku tetap mengharapkan dana PKOH itu swgera dapat direalisasikan oleh pusat, sehingga pelaksanaan manasik ditingkat KUA itu bisa lebih awal dilaksanakan.
Memang kalau tahun tahun sebelumnya manasik haji dilakukan secara klasikal oleh para pembimbing di KUA kecamatan.
Rahmat juga berpesan agar para pembimbing manasik dapat meningkatkan kemampuan, sehingga bisa melakukan bimsik secara daring.
"Buku manasik haji harus sampai kepada jemaah, karena tidak akan diturunkan lagi, sehingga masing masing jemaah bisa membekali diri lebih awal sebagai upaya mengantarkan jemaah haji untuk dapat melaksanakan ibadahnya sesuai dengan ketentuan syari'ah,” imbuh Rahmat.
Ia menilai jika jemaah memahami urutan pelaksanaan perjalanan ibadah haji, akan menjadikan mereka, jemaah haji yang mandiri serta tidak bergantung kepada pihak lain," ujarnya.
Sekalipun ibadah haji batal pada tahun ini dan dugeser ke tahun depan, pihaknya meyakini banyak hukmah yang bisa dipetik. Diantaranya adalah jemaah punya waktu yang lapang untuk memperdalam ilmu, memperbaharui ilmu manasik yang sudah ada.
“Apakah itu melalui bimbingan manasik berbasis audio visual, yang akan kita programkan melalui TVRI dan RTV terkait bimsik ini,” ungkapnya.
Ia mengingatkan kembali, intinya jemaah betul betul harus memanfaatkan waktu yang panjang ini untuk bisa melakukan manasik mandiri maupun sesuai jadwal yang akan dilakukan melalui KUA nantinya, tandasnya. (vera)