Meranti (Inmas)- Asrori, S.Ag, Penyuluh Non Pns Kemenag Kepulauan Meranti mengisi tausiah pada pengajian wirid ibu-ibu Permata Desa Dedap, senin (17/2/2020).
Dalam tausiah ini Asrori mengajak jamaah untuk tetap menjalankan "kewajiban sholat",
Sesibuk apapun tidak boleh meninggalkan sholat, karna amal yg pertama kali dihisap oleh Allah adalah sholat.
Imam Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya tentang apakah yang paling ringan di dunia ini. Dengan polos, murid-muridnya pun menjawab bahwa yang ringan di dunia ini adalah dedaunan, rumput-rumput kering, dan lainnya.
Namun, dengan bijak Imam Ghazali menjawab bahwa sesungguhnya yang ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Sebuah jawaban yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh murid-muridnya, termasuk kita umat Islam hari ini.
Apa yang dikatakan oleh Imam Ghazali memang sangat benar. Fenomena meninggalkan shalat sangat terlihat dalam kehidupan hari ini. Entah itu di pabrik-pabrik, kantor-kantor, atau lembaga-lembaga pemerintah dan swasta.
Shalat Itu adalah Investasi jika di dunia ini ada emas dan uang sebagai investasi, maka shalat adalah investasi dari dunia hingga akhirat. Ya, shalat itu investasi bagi siapa saja yang ingin mengerjakan dan menegakkannya dengan iman dan kesungguhan. Bayangkan, shalat itu dengan izin Allah mampu mengubah dan mendatangkan segalanya. Shalat yang dikerjakan dengan kekhusyu’an, maka akan mendatangkan ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, dan kesuksesan bagi yang melaksanakannya.
Dalam surat Al Mukminun ayat 1 dan 2 Allah Berfirman yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Qs. Al Mukminun: 1-2).
Shalat, menjadi bukti keberuntungan bagi siapa saja yang mengerjakannya dengan khusyu’. Siapa pun yang ingin sukses dalam hidupnya, maka dalam surat Al Mukminun ini yang menjadi syarat utamanya adalah kerjakan shalat dengan khusyu’.
Jika shalat sudah ditinggalkan, maka yang akan menjadi penuntun dalam diri seorang hamba itu bukan lagi Allah Ta’ala melainkan hawa nafsunya. Jika nafsu sudah menjadi penuntun, maka segala perbuatan buruk dianggap baik.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (Qs. Maryam: 59-60).
Meniggalkan Shalat adalah Maksiat Terbesar, Salah satu tanda syukur seorang hamba kepada Allah Ta’ala adalah dengan menegakkan shalat fardhu yang lima. Shalat mempunyai kedudukan yang sangat penting di hadapan Allah Ta’ala. Shalat juga menjadi pemisah antara orang mukmin dan orang kafir. Selain itu, shalat menjadi kunci utama diterimanya segala amal ibadah. Bahkan, shalat adalah amalan pertama kali yang kelak akan dihisab oleh Allah Ta’ala. Siapa yang shalatnya baik, maka dijamin oleh Allah baik semua amal ibadahnya yang lain. Pun sebaliknya, jika shalatnya tidak baik, maka akan tertolaklah segala amal ibadahnya yang lain.
Shalat adalah cara bagi seorang hamba untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan Rabb, Sang Maha Pencipta. Dialah Rabb yang Maha mencukupi segala keperluan semua makhluk yang bernyawa. Artinya, betapa sombong seorang hamba bila ia mengaku beriman hanya kepada Allah semata, tapi berani-beraninya meninggalkan shalat lima waktu.
Meninggalkan shalat fardhu adalah suatu kemaksiatan terbesar (jika tanpa alasan syar’i) yang dilakukan seorang hamba kepada ‘Majikannya’ yakni Allah Ta’ala. Karena itu jika seorang hamba hendak meninggalkan shalat fardu, maka ingatlah nasihat Ibrahim bin Adham berikut ini.
Suatu ketika ada seorang pemuda yang datang kepada Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah, dia curhat dan berkata, “Ya syaikh, sesungguhnya nafsuku mendorongku untuk melakukan kemaksiatan, tolong berikan kepadaku nasehat, mudah-mudahan dengan nasehat itu aku bisa menahan diri dari kemaksiatan.”
Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata, “Jika nafsumu mengajak untuk bermaksiat kepada Allah maka silahkan, tidak mengapa tetapi ada 5 syarat.”
Pertama, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala lakukanlah ditempat yang engkau tidak dilihat oleh Allah.
Kedua, “Jika engkau bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka jangan engkau bermaksiat dibuminya Allah.”
Ketiga, “Jika engkau hendak bermaksiat kepada Allah silahkan saja, tetapi jangan engkau makan rezeki yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadamu.”
Keempat, “Jika engkau bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian datang Izrail (Malaikat Maut) hendak mencabut nyawamu, maka katakan kepadanya bahwa engkau belum mau mati.”
Kelima, “Jika engkau bermaksiat kepada Allah, dan kelak di hari kiamat saat Malaikat Zabaniyah mau menyeretmu dan memasukkanmu ke dalam neraka, maka bisakah engkau mengatakan, ‘Saya tidak mau masuk neraka… saya mau masuk surga.”
Ibrahim bin Adham melanjutkan kata-katanya, “Jika engkau tidak mampu bersembunyi dari pandangan Allah, engkau tinggal dibuminya Allah, engkau makan rezekinya Allah, engkau tidak mampu menolak datangnya malaikat maut dan engkau tidak mampu menolak dirimu ketika diseret kedalam neraka, maka masihkah engkau akan bermaksiat kepada Allah saudaraku?” Akhirnya pemuda ini mengatakan:”Astagfirullah Al adzhim”, dia beristighfar dan bertobat akhirnya ia kemudian tidak jadi melakukan kemaksiatan tersebut.
Pemuda itupun menangis tersedu-sedu dan bertekad untuk tidak pernah bermaksiat lagi selamanya kepada Allah Ta’ala.( Asrori & Tim Inmas)