Pekanbaru (Inmas) – ASN Kanwil Kemenag Riau, Griven H Putera diundang mengikuti Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II di Hotel Mercure Convention Centre Ancol, 18 – 20 Juli 2017 lalu. Undangan ini diterima setelah penjaringan dilakukan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Kebudayaan melalui karya sastra yang dilahirkan sastrawan seluruh Indonesia beberapa waktu lalu. Provinsi Riau berhasil menempatkan 10 sastrawannya untuk ikut pada ajang akbar di kalangan sastrawan Indonesia tersebut. Sepuluh sastrawan Riau yang dipanggil tersebut adalah A Aris Abeba, Dheni Kurnia, Fakhrunnas MA Jabbar, Griven H. Putera, Husnu Abadi, Kunni Marohanti, Marhalim Zaini, Mosthamir Thalib, Olyrinson, dan Rida K Liamsi.
Griven H Putera yang merupakan Pengembang Forum Kerukunan Umat di Subbag Hukum dan KUB ini merasa gembira karena Kemendikbud menghargai hasil karyanya. “Saya sangat merasa bangga dan bahagia dengan undangan tersebut. Kebahagiaan itu disebabkan berbagai hal, di antaranya karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghargai hasil karya saya. Selain itu juga karena saya dianggap sebagai salah seorang sastrawan nasional walaupun tinggal di daerah,” ungkap Griven.
Kegiatan ini dibuka langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Muhajir Effendy. Di antara hal penting yang diungkapkan Menteri Muhajir pada kesempatan itu adalah upayanya yang meyakinkan Presiden Jokowi dengan membagi-bagikan buku sastra tahun 2017 sebanyak 165 judul buku cerita rakyat sebagai buku pendamping dengan maksud pelengkap realisasi pendidikan karakter bagi peserta didik. “Tujuh puluh persen pendidikan kita harus memuat pendidikan karakter,” ungkap Muhajir.
Kegiatan musyawarah sastrawan nasional ini diisi dengan berbagai kegiatan seperti seminar yang menghadirkan sejumlah sastrawan, akademisi sastra Indonesia seperti Prof Ignas Kleden, Prof Riris K Toha Sarumpaet, Prof Abdul Hadi WM, Janet De Neefe, Radhar Panca Dahana, Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Sahal dan lain-lain. Selain sesi diskusi panel dan kelompok, pada malamnya dilaksanakan pentas sastra berupa pembacaan sajak, teater monolog dan pembacaan cerita pendek. Kegiatan ini menghadirkan sekitar 180 orang sastrawan dan akademisi di seluruh Indonesia yang melahirkan 20 rekomendasi dalam rangka memajukan dunia kesusastraan di Indonesia di masa depan. (ghp)