Riau (Inmas)- Asap Kebakaran Hutan dan Lahan
(Karhutla) di Riau semakin tebal, untuk itu Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama
(PWNU) Provinsi Riau menggelar Forum Diskusi Cepat Tanggap menghadapi Karhutla dan
menginstruksikan jajaran NU sampai ke desa untuk menggelar salat istisqa.
Forum Diskusi Aksi Cepat Menghadapi Karhutla di Riau, Ahad (11/8/2019) malam di Kantor NU Jalan Diponegoro Pekanbaru dihadiri langsung oleh Gubernur Riau, H Syamsuar, Ketua PWNU Provinsi Riau Rusli Ahmad, Kakanwil Kemenag Riau yang diwakili oleh H Edi Tasman dan jajaran, anak yatim dan undangan lainnya. Acara diwarnai dengan diskusi, penyerahan santunan anak yatim dan shalat istisqa berjamaah. Bertindak sebagai imam Kakankemenag Meranti H Darwison MA.
“Kita minta PWNU ikut mensosialisasikan kepada masyarakat untuk tidak
bakar-membakar dalam aktivitas sehari-hari mengingat prediksi kemarau akan
panjang hingga bulan Oktober mendatang. Kita
tahu jajaran NU sampai ke desa-desa, jadi kita
harapkan semua jajaran NU, ustaz-ustaz mensosialisasikan dan pencerahan kepada
masyarakat untuk tidak bakar-membakar dalam aktivitas pertaniannya selama musim
kemarau ini," kata Syamsuar.
Sementara itu Rusli Ahmad, mengatakan untuk langkah cepat menanggapi
kabut asap yang kian parah di Riau, pihaknya menyerukan gerakan Riau Salat
Istiska Bersama (Rasisma) selama 7 hari kedepan.
“Kegiatan ini kita beri nama Jihad Rasisma, yakni Riau Salat
Istiska Bersama dan akan dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam. Ini
berangkat dari kegelisahan kita terhadap asap. Sudah dianggap darurat. Karena
asap sudah kita rasakan tak hanya di pagi hari, tapi juga sampai sore hari,” kata Rusli Ahmad.
Ia menambahkan, Riau sudah
berikhtiar. Seluruh kemampuan pemerintah daerah, TNI, Polri beserta masyarakat
sudah dilakukan. Akan tetapi asap makin besar, titik api juga semakin
bertambah. “Maka dari itu kita menghibahkan diri, minta ampun kepada
Allah, agar malapetaka ini dihentikan dengan turunnya hujan yang lebat dan
berturut-turut, sehingga kita bisa menyelamatkan manusia dan makhluk hidup lain
di hutan-hutan tersebut,” ungkapnya.
(mus/tarom)